Kamis, 15 Desember 2011

PAINI




10 november diperingati sebagai hari pahlawan, tapi siapakah yang sebenarnya layak disebut pahlawan? Di abad 21 saat teknologi menjadi raja atas nama kemajuan jaman, barangkali taman makam pahlawan bukan lagi satu-satunya bukti apakah seseorang dapat disebut sebagai pahlawan atau bukan.

Namanya Paini, perempuan asal Wonogiri ini terlahir dengan kondisi kaki dan tangan yang tidak sempurna. Jari-jarinya tidak tumbuh seluruhnya dalam ukuran normal dan jalannya pun pincang. Kondisi fisiknya tersebut tidak lantas menjadikan Paini putus asa. Ia membangun usahanya untuk membuat aneka makanan kecil. Ia juga merekrut para penyandang cacat lain untuk bekerja bersama-sama. Mereka kemudian membuat usaha yang diberi nama “Kuber Penca” atau Kelompok Usaha Bersama penyandang Cacat. “Saya kasi mereka motivasi gini, saya cacat, ayo kamu yang cacat juga bisa. Kita buktikan kalo yang i cacat mampu,” kata Paini.

Di rumah kontrakannya yang kecil, ia membina para penyandang cacat ini untuk membuat aneka panganan ringan untuk kembali dijajakan keliling ke warung-warung. Setiap harinya Paini berkeliling dengan sepeda motor yang sudah disulapnya mirip dengan mobil bak semi terbuka untuk membawa seluruh barang dagangannya.



Selain membuat beberapa panganan, dengan modal satu buah mesin jahit Paini juga membuat jilbab berhias untuk dijual kembali. Hampir seluruh pekerjanya adalah para penyandang cacat. Namun, mereka tak lepas menyunggingkan senyum menunjukkan semangatnya.

Kondisi ekonomi terbatas tidak menyurutkan Paini untuk membantu orang lain. Suatu hari, tukang sayur yang kerap lewat di depan rumahnya mengenalkan Paini dengan Tuti, perempuan yang tengah hamil muda. Paini tidak mengenal latar belakang Tuti, selain dari cerita-ceritanya.

Tuti yang saat itu tengah hamil tiga bulan pun nekad ke Jakarta untuk mencari suaminya. Anak pertamanya ditinggalkan di Purwodadi bersama orangtua Tuti. Tanpa pikir panjang, Paini menerima Tuti untuk bekerja di rumahnya. Pertimbangannya sederhana, Tuti dapat membantu Paini untuk urusan rumah tangga sehari-hari sambil tetap mencari alamat suaminya. Setelah Tuti melahirkan, Paini juga tidak berkeberatan untuk ikut mengasuh anak Tuti, “pikir saya ya udah dirawat aja sama-sama, kan gampang,” ujarnya sederhana.

Manusia berkehendak, Tuhan yang menentukan. Bayi Tuti dilahirkan dengan kondisi yang kurang sempurna. Hasil pemeriksaan dokter menyebutkan diagnose : laringomalasia grade 1, suspek stenosis supraglottis, pasca trakeostomi, atresia esophagus pasca esofagotomi, torakotomi dan gastrostomi, gizi buruk marasmik. Rizky Ramadhan, bayi kecil itu harus menanggung serangkaian diagnosa yang bahkan sulit diucapkan tersebut. “Saya harus menghafal diagnosanya, jadi bisa jelaskan ke orang-orang yang tanya,” jelas Paini dengan lugu.

Gambaran kondisi Rizky sebenarnya adalah saluran makanan dan saluran nafas yang tidak terbentuk dengan sempurna. Rizky tidak memiliki saluran makanan langsung dari tenggorokan ke dalam lambung sehingga ia harus dibuatkan saluran sementara dengan memasang selang di dinding perutnya sebagai tempat untuk menyuntikkan susu. Selang itulah satu-satunya cara agar Rizky kecil dapat makan. Saluran ini pun harus dijaga kebersihannya sehingga tidak menimbulkan infeksi. Suatu hari Rizky demam dan pemberian obat penurun panas berupa puyer pun dicoba dimasukkan dengan cara disuntik di saluran makan tersebut. Apa daya yang terjadi adalah penyumbatan sehingga Rizky segera dilarikan ke rumah sakit. Bayangkan betapa kecilnya saluran makan sementara yang dimiliki RIzky, hingga hanya benda cair yang dapat masuk sebagai asupan makanannya.



Di tenggorokan Rizky, dokter membuatkan saluran untuk membantunya bernafas. Jika anda pernah melihat pasien di rumah sakit dalam kondisi kritis yang menggunakan selang nafas di tenggorokannya, seperti itulah kondisi Rizky. Setiap dua hari sekali Rizky harus melakukan penguapan untuk saluran pernafasannya agar tetap steril.

Rizky yang kini baru mulai bisa berjalan ini pun harus berkali-kali menghadapi meja operasi. Dokter bahkan memperkirakan setidaknya ia membutuhkan 14 kali operasi untuk membuat saluran nafas dan saluran makan yang sempurna. Seluruh operasi itupun bukan tanpa biaya. Lagi-lagi Paini harus memutar akal agar biaya perawatan Rizky dapat dipikulnya. Paini memasukkan Tuti dan RIzky ke dalam kartu keluarganya sehingga mereka dapat memperoleh jaminan kesehatan sebagai warga miskin. Namun, sebelum jaminan kesehatan warga miskin bisa mereka peroleh, mereka sudah terbelit hutang lebih dari 49 juta di rumah sakit untuk biaya awal saat RIzky persalinan dan tindakan operasi awal.

“Saya bagi tugas sama Tuti. Dia (Tuti, red) yang urus RIzky, saya yang urus cari biayanya,” ujar Paini dengan penuh keriangan nyaris tanpa beban. Kini, sekalipun jaminan kesehatan warga miskin sudah diperolehnya, Rizky tetap membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pengeluaran rutin susu, diapers, kapas dan kasa adalah keperluan yang tidak boleh kosong sedikitpun. Tambahkan juga obat-obatan yang harus dibelinya. Biaya transportasi ke rumah sakit juga tidak kecil, karena nyaris tiga kali setiap minggunya Paini harus membawa Rizky check up ke rumah sakit.

“Pak, Paini dlm kesulitan. Anak kami mau ada operasi ke 4, saya masih punya hutang 49 juta, tolong saya pak, saya tidak sanggup pikul bebannya sendirian.”


Penggalan sms itu adalah sms Paini di suatu pagi pada seorang teman yang kemudian di forward kepada saya, tepat di hari pahlawan. Keputusasaan dan ketulusan Paini yang tercurah dalam sms mengantarkan kami hingga ke rumah sederhananya di Bekasi. Paini yang kami temui tidak sedikitpun menampilkan gurat kesedihan. Sebaliknya ia tampak bersemangat untuk terus berusaha demi kesembuhan Rizky. Lalu siapakah sekarang yang dapat kita sebut sebagai pahlawan?




Note : Sahabat, jika berkenan untuk membantu Ibu Paini, dapat menghubunginya langsung.

Alamat : Belakang kelurahan Bojong Menteng, Rt 01/ Rw 03, Rawa Lumbu, Bekasi Kota, samping pabrik kecap Sari Sedap. Telp : 081383059609

Atau donasi langsung ke :
BRI unit Bantar Gebang, nomor rekening : 0861-01-028589-53-5, a/n Paini

Kamis, 27 Oktober 2011

JEJAK


Deg!
diam-diam kembali membuka lembarannya

Deg!
ada jejak lain yang meninggalkan rasa
ya.. rasa yang kupikir sudah tak ada
ternyata masih menyisakan rasa yang sama

jejak-jejak lain
untuk sebuah rasa yang lain

Selasa, 18 Oktober 2011

JALAN


Tiba saat kau datang untuk mengatakan, "aku akan berjalan dengannya." Dan aku kembali mencari jalanku sendiri.

Minggu, 25 September 2011

Guardian Angel

Kau yang datang dalam diam
Perlahan menemani langkahku
Menghapus tetes air di sudut kelopak
Menyediakan bahumu untuk sandaran
Hingga aku lelah berhitung berapa kali kau ada

Hadirmu telah mengantarkanku pada sebuah rasa
Membuka sebuah ruang

Aku tidak tahu kalau rasa dan ruang itu begitu dalam
Hingga pusaran waktu menarik kita
Kau dan aku pada dua kutub yang berbeda

Jangan tanyakan kenapa
Jangan tanyakan kapan

Tuhan tahu hati kita

Aku tak tahu apakah kau tahu
Aku hanya ingin mengatakannya sebelum tergerus lupa, terimakasih
Thanks for being my guardian angel

Jumat, 02 September 2011

MUDIK

“Tiga, Cilacap,” pria di loket itu menyodorkan tiga lembar tiket ke tangan seorang lelaki tua. Dengan cekatan, lelaki itu langsung mengambil tiga lembar tiket dan menukarnya dengan delapan lembar uang seratus ribuan. Harga tiket jelang lebaran memang bisa naik hingga lebih dari 2x lipat. Untuk mendapatkannya pun, pria tua itu harus mengantri sejak dua jam lalu.

Tiga tiket ke Cilacap, untuk istri dan dua anaknya sudah didapatkannya H-30 dari keberangkatan. Aturan PT. KAI untuk pembelian tiket sebulan sebelum tanggal keberangkatan. Dia tidak membeli tiket untuk dirinya. Dia memilih berdiam di Jakarta dan baru akan mudik setelah arus lebaran selesai. Toh, dia baru saja pulang dari Cilacap beberapa minggu sebelumnya, untuk pemakaman adiknya.

Kebiasaan mudik di keluarganya memang sedikit berbeda dengan keluarga lain. Lelaki tua itu tidak pernah mudik lebaran sejak berpuluh tahun lalu. Pekerjaannya sebagai pemadam kebakaran mengharuskan ia untuk selalu stand by di Jakarta, saat hari raya. Lebih dari 30 tahun, ia tidak mengenal kata “mudik hari raya” dalam kamus hidupnya. Dia mewakilkan mudiknya pada istri dan anak-anaknya. Mudik lebaran mereka pun baru dilakukan setelah hari raya. “Kita tinggal di Jakarta, banyak bikin salah dengan tetangga, yah minta maaf dulu, setelah shalat ied, minta maaf sama tetangga, baru boleh mudik,” nasehat lelaki tua itu berulang kali pada istri dan anak-anaknya.

“Kapan sih bisa pulang bareng sama bapak, semuanya barengan,” protes anak perempuannya yang bungsu. “Yah gak bisa gitu juga, kan bapak gak bisa libur, nanti aja bapak nyusul,” penjelasan singkat bercampur kepasrahan, lagi-lagi harus ditelan anak perempuan berusia sebelas tahun itu.

*****************

Tik..Tik..Tik….Tik…Tik…
“70 per 50, dok”
“keluarga tunggu di luar, siapkan semuanya,”

Tirai hijau seketika ditutup. Semua orang dihalau tidak boleh memasuki area putih. Hiruk pikuk di dalam ruangan putih hanya terdengar sayup-sayup dari luar, menyisakan tanda tanya.

“Mbak keluarganya?”
“Saya anaknya, ini ibu saya, istrinya”
“Baik, begini kondisinya. Hasil CT Scan bersih, hasil EKG menunjukkan serangan jantung. Sekarang kondisinya koma. Prioritas kami sekarang kondisi stabil untuk bisa melakukan tindakan lanjutan. “
“Bagaimana prognosanya?”
“Kami manusia biasa, kami akan usahakan yang terbaik,”
“Tolong jawab dengan jujur dan jelaskan saja bagaimana prognosanya, seberapa buruk?”
“Kami usahakan yang terbaik, doa saja. Tuhan Maha Menentukan”
“Lakukan saja semua yang perlu dilakukan dok, lakukan yang terbaik.”
“Kita perlu melakukan pemasangan ring untuk jantung bapak, keluarga bagaimana?”
“Tidak masalah, lakukan.”
“Masalahnya adalah, setelah pemasangan ring, bapak harus masuk ke ICCU. ICCU kami full, tidak ada pasien yang bisa kami alihkan ke ruang perawatan. Keluarga bisa tolong bantu kontak RS lain untuk konfirmasi ruang ICCU. Kami juga akan coba kontak dengan dokter-dokter di RS tersebut untuk follow up tindakannya.”

Drama lain kembali dimulai. Setengah kesetanan, anak perempuan sulung dari lelaki itu mulai menelepon berbagai Rumah Sakit dan menanyakan availabilitas ruangan ICCU. Sementara sebelah kupingnya menangkap suara “tik…tik…tik…” dari mesin penyambung nafas ayahnya di ruangan putih. Ternyata mencari rumah sakit dengan ruang ICCU yang bisa menampung pasien di hari-hari menjelang lebaran sama susahnya dengan mencari tiket untuk mudik. Rumah sakit rujukan pemerintah, pusat riset nasional pun tidak dapat menerimanya. Lelaki tua yang sebulan lalu dengan gagahnya mengantri tiket untuk mudik istri dan anaknya, kini berada dalam antrian mendapatkan ruang perawatan.

“Ada ICCU dok, di RS Bintang,”
“Mba, ICCU nya ada, tapi mereka tidak punya ruang kateterisasi. Bapak perlu melakukan tindakan pemasangan ring di ruang kateterisasi, di dalam cath lab”
“Lalu dok?”
“Kita sama-sama coba”
“Kondisi drop dok,” teriakan nyaring perawat membuat scene baru dalam drama pagi itu.


“Mba, kami akan pindahkan pasien ke RS Matahari di Karawaci. Rekanan kami di sana sudah siap, ruang kateterisasi lengkap, dan ICCU sudah disiapkan juga, bagaimana?”
“Lakukan dok,” hanya dua kata itu yang sepanjang pagi keluar dari mulut anak perempuan itu.
“Kita siapkan Bapak untuk dipindahkan yah, silakan tanda tangan untuk pernyataan kesediaan keluarga.”

Hiruk pikuk di ruangan putih beralih ke ambulance. Lalu, beralih lagi ruangan putih lainnya. Kelebatan manusia-manusia berbaju putih semakin banyak. Suara mesin semakin nyaring. Kabel dan selang melilit tubuh lelaki tua itu. Botol beraneka ukuran bergantungan di tiang infus. Aneka suntikan dengan beragam ukuran di pasangkan di tiang infus, mengalir masuk ke tubuh lelaki tua itu. Dan, drama pagi itu pun berakhir dengan mendorong tempat tidur lelaki tua itu ke dalam ruang ICCU.

Tiga orang perempuan saling berpelukan di sebelah ranjang lelaki tua itu. Mereka tidak saling bicara.

****

“Almost flat”
“Maksudnya?”
“Kamu ingat saya pernah jelaskan bahawa EEG akan menunjukkan gelombang tidur. Untuk mengetahui kemungkinan bangunnya, gelombangnya harus berupa gelombang naik turun. Hasil bapak, almost flat.”
“And then?”
“Pray”
“Apa diagnosanya?”
“Encephalopathy”
“Apa itu dok?”
“Kurangnya asupan oksigen ke otak. Waktu bapak koma dan kondisi jantungnya membuat asupan oksigen ke seluruh organ terhambat, termasuk juga ke otaknya.”
“Lalu?” cecar anak perempuan itu sambil terus memegang dengan kencang tangan perempuan pasrah di sebelahnya.

Sekali lagi tiga perempuan itu berpelukan dalam diam memandangi lelaki tua yang terbaring di hadapan mereka sambil menggenggam tiga lembar tiket mudik yang sebulan lalu didapatkan lelaki tua itu.

“Pak, dengar gak?” anak perempuan itu mulai berbisik di telinga lelaki tua itu.
“Pak, kami disini semuanya sayang bapak. Semuanya dilakukan untuk bapak, yang terbaik. Kalau bapak mau, bapak juga bisa usahakan yang terbaik semuanya supaya bisa sama-sama kita lagi. Tapi, kalau bapak capek, bapak boleh istirahat, kami ikhlas. Bapak boleh lakukan yang mana aja.” Terbata-bata, anak perempuan itu membisikkan semua doa dan harapannya di telinga lelaki tua itu. Dia sendiri tidak tahu apakah ayahnya mendengarnya.

****
“Keluarga siap untuk homecare, silakan disiapkan langsung dok.”
Dengan kemantapan, tiga perempuan itu membawa pulang lelaki tua yang selama ini hidup bersama mereka. Pulang ke rumah mereka. Kamar lelaki itu pun disulap menjadi rumah sakit mini dengan selang infus, mesin pembantu nafas, dan tabung-tabung oksigen yang siap sedia.

PULANG, barangkali itulah pilihan yang dianggap cukup bijak setelah 29 hari memaksa lelaki tua itu bertarung nyawa. Mempertaruhkan seluruh harapan ketiga perempuan itu.

******
“Kenapa?”
“Bapak anfal”
“Dokter mana?”
“Sudah ditelepon lagi, sedang dalam perjalanan,”

“Ayo pak… dicoba lagi yah..” anak perempuan itu berusaha membisikkan semangatnya sambil terus melakukan CPR untuk lelaki tua itu. Perawat sibuk memasukkan berbagai obat dan infus. Telinganya sekali lagi menangkap suara tik-tik yang sama seperti sebulan lalu, dari mesin yang sama, tanda nafas yang semakin melemah. Gambar kurva di mesin nafas yang biasanya naik turun seperti gunungan, sekarang mulai mendatar dengan suara tik-tik yang terus melemah.


“Kita coba 15 menit, kalau bapak masih tidak merespon, kita harus melepasnya. Kasihan bapak sakit.”
Kalimat sakti yang seketika melemahkan seluruh persendian anak perempuan itu.

****
“Maaf yah… maafin bapak,” dengan tersengal lelaki tua itu mengucapkannya berkali-kali kepada anak-istrinya.

“Maafin saya yah,” kalimat yang sama kembali diulang, kali ini kepada tetangga yang mulai berdatangan untuk membantu.

Maaf adalah bagian dari kalimat ajaib, magic words, dan kalimat ajaib itu adalah kalimat terakhir yang keluar dari mulut lelaki tua itu. Setelah kalimat itu, yang bersisa adalah drama ICCU dan doa panjang penuh pengharapan.

******
“Nak, kematian itu sama seperti mudik. Pulang ke kampung Illahi, yang Maha Pemberi Hidup. Kenapa kita harus risau atau tidak rela melepasnya? Saat mudik, kita selalu menyambutnya dengan suka cita, karena akan bertemu dengan orang yang kita sayangi. Tuhan yang menciptakan kita. Lalu, kenapa kita harus risau dan takut dengan kematian? Seharusnya kita senang karena akan kembali pada yang menghadirkan kita.” Seorang lelaki bijak yang dikenalnya menulis buku tentang menghadapi kematian menasehati anak perempuan itu.

“Lalu saya harus bagaimana pak?” tanyanya pasrah. “Ikhlaskan, karena mudik pada keabadian adalah sebuah kepastian. Apa yang hendak kau lawan dari Dzat Yang Maha Merencanakan? Ini jalanmu untuk menemukan hidup lainnya.”

Lelaki tua itu sudah benar-benar mudik. Tiga tiket kereta api yang dibelinya lebih dari sebulan lalu memang hanya untuk istri dan anak-anaknya. Lelaki tua itu tidak membutuhkan tiket kereta api untuk mudiknya. Entah, apakah dia sudah merencanakan mudik ini sebelumnya.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka mudik terpisah. Tapi kali ini, lelaki tua itu mudik sendiri, ke kampung keabadian.

Rabu, 31 Agustus 2011

Catatan Sebuah Perjalanan

sebuah tulisan lama dari blog lama yang di re-post. Untuk sahabat, selamat membaca :)



Kesan pertama saya setelah membaca buku itu, wow!!! Two Thumbs Up!!! Not for the writer, bur for those who joined into that amazing adventures.

40 days in Europe, sebenarnya sudah sejak lama saya lihat buku ini nangkring di raknya Gramedia. Saya sering bolak-balik numpang baca di Gramedia, hanya beberapa halaman awal tapi pada akhirnya tidak jadi membeli, karena saya pikir nanti toh penerbitnya pasti akan mengirimkan sample buku itu. Feeling saya mengatakan kalau itu buku bagus dan layak dibaca. Memang pekerjaan saya yang banyak berhubungan dengan buku membuat saya banyak menerima kiriman buku dari para penerbit. Sampai suatu hari seorang teman yang juga bekerja di penerbit buku tersebut benar-benar mengirimkan saya buku 40Days in Europe. Dan saya masih juga belum membacanya. Sampai saat libur Idul Fitri, saya punya cukup waktu luang untuk menuntaskan membacanya.

Kenapa judul buku ini terkesan kebarat-baratan? Tidak nasionalis kah? Menurut saya alasannya hanya komersialitas semata. Penerbit butuh judul yang cukup provokatif, tanpa kehilangan benang merah dengan isinya. Pernahkah anda membaca buku Summer in Seoul (Ilana Tan), Travelers Tale (Aditya Mulya, dll), Ms. B (Vira Basuki), atau The Naked Traveler (Trinity), kemudian mempertanyakan judulnya? Atau pernahkah anda bertanya kenapa kumpulan tulisannya Akmal NAsery BAsral diberi judul “Ada Seseorang di Kepalaku”, atau kenapa Pramoedya Ananta Toer memberi judul Bumi Manusia? Sebuah judul yang cukup ganjil menurut saya. Atau kenapa Remy Silado memberi judul “Kerudung Merah Kirmizi”, atau “Parijs Van Jaza” untuk novelnya? Silakan direnungkan, tapi jawabannya kembali pada alasan tadi yaitu komersialitas dan kesesuaian isi.

Bagaimana dengan endorsement-nya? Endorsement adalah sebuah opini subjektif dari mereka, para pembaca awal yang memang sengaja diminta sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Endorsemen dimaksudkan untuk memberikan gambaran pada calon pembaca tentang nilai sebuah buku. Tapi sekali lagi, saat anda akan membeli buku, cobalah untuk tidak hanya terpaku pada endorsement saja, tapi coba buka-buka dan intip sejenak halaman demi halaman. Buku yang bagus menurut saya, bisa menarik anda bahkan dari halaman pertama yang anda baca. Dan itulah yang terjadi pada saya saat membuka buku 40 days in Europe, meskipun saya akhirnya menahan diri untuk tidak membeli karena saya tahu pasti kalau saya akan mendapatkannya dengan gratis, langsung dari penerbitnya.

Buku ini bercerita tentang segerombolan anak muda yang nekad untuk tetap berangkat ke Eropa, untuk sebuah misi kebudayaan meskipun kondisi keuangan mereka defisit. Apakah mereka gila? Jawabannya sangat mungkin ya, tapi menurut saya alasan dibalik semua kegilaan itu adalah tanggung jawab atas sebuah komitmen yang telah mereka buat. Hanya keyakinan dan keteguhan niat yang mereka punya saat berangkat. Entah apa yang akan terjadi, maka terjadilah, kun fayakun!!!

Saat berangkat, mereka harus direpotkan dengan masalah finansial. Sponsor yang tiba-tiba menarik diri sehingga kondisi keuangan semakin mengkhawatirkan. Belum lagi konflik internal diantara tim. Ketua rombongan yang seharusnya berangkat pun pada akhirnya tidak jadi berangkat, entah dengan alasan apa. Sampai di Eropa pun mereka masih terus dililit masalah, meskipun jadwal perjalanan sudah dibuat sedetail mungkin dan sehemat mungkin. Tagihan demi tagihan terus berdatangan.

Tapi Tuhan Maha Adil, Tuhan terlalu baik untuk terus-terusan membiarkan umatNya dalam kesulitan. Saya selalu percaya pada sebuah quotation indah yang saya temukan dalam salah satu buku Paulo Coelho, When God closes a door, He opens a window, dan itulah yang terjadi pada mereka. Dalam setiap penampilannya mereka selalu mendapatkan sambutan hangat, bahkan tidak jarang standing applause. Sejumlah penghargaan juga berhasil diraih. Bukan itu saja, menilik dari prestasi dan penampilan mereka, bahkan panitia festival bersedia memberikan keringanan biaya yang bisa mereka lunasi setibanya kembali di Indonesia. Yang terpenting adalah mereka punya cukup biaya untuk pulang. Peran KBRI juga tidak bisa diabaikan. Mereka hadir dengan uluran tangannya, berusaha membantu semampu yang mereka bisa. Mulai dari tumpangan tidur, makan, sampai bantuan dana ala kadarnya.

Kalau kemudian, mereka seperti diselamatkan tsunami hingga semua hutang bisa lunas, itulah yang namanya nasib. Sekali lagi, Tuhan terlalu baik untuk membiatkan hambaNya dalam kesusahan, dan selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Tsunami bisa jadi meluluhlantakkan bumi serambi mekah, tapi tsunami juga yang kemudian menyelamatkan mereka dari lilitan hutang.

Bagaimana dengan peran Maulana sebagai penulis? Yup, perannya cukup besar. Dialah contact person untuk semua panitia kompetisi dan festival. Dia juga contact person untuk sejumlah KBRI. Karena ia kebetulan tinggal di Jerman, dia aktif dalam kegiatan kesenian dengan mahasiswa Indonesia, dan dia juga aktif dalam perkumpulan mahasiswa Indonesia Jerman. Sehingga menempatkan Maulana sebagai contact person sangat menguntungkan. Mengingat aktivitasnya selama di Jerman, menyebabkan ia banyak berhubungan dengan pihak KBRI dan ia juga lebih mengenal medan, lebih mengenal budaya masyarakat Eropa. Terlepas dari apakah Maulana dulu (sewaktu SMA) adalah anggota KPA (kelompok Angklung di SMA 3) atau bukan, itu tidak lagi penting menurut saya.

Untuk masalah lobi, di awal Maulana memang memegang peranan penting. Tapi sekali lagi, ini adalah kerja tim. Saat di Jakarta, dalam tim ada orang-orang hebat yang mampu melobi untuk masalah sponsorship, ataupun sekedar pengurusan visa dan paspor. Saat di Eropa, kenyataannya bukan hanya Maulana yang melobi. Toh, kenyataannya ada orang-orang dalam tim yang juga berperan dalam melobi KBRI ataupun panitia festival. Kerja tim yang luar biasa menurut saya.

Selesai membaca buku itu, saya langsung menghubungi Maulana, penulisnya, melalui imel yang tertera di buku. Kami kemudian berteman dan berkomunikasi hanya melalui imel. Melalui Maulana, saya kemudian berkenalan dengan beberapa orang personil yang ikut berangkat ke Eropa. Kali ini saya berkomunikasi secara langsung, dengan telepon. Melalui mereka, saya tahu banyak detail cerita yang tidak diceritakan di buku, termasuk konflik internalnya. Menurut saya, adalah sebuah keputusan yang bijak untuk tidak menampilkan seluruh konflik internal dalam cerita buku itu. Bukan bermaksud untuk mengurangi cerita, tetapi lebih pada apakah layak atau apakah etis mengemukakan konflik internal tersebut? Membuka aib seseorang? Itu bukanlah sesuatu yang penting untuk diceritakan. Toh pembaca sudah menangkap pesan dari tulisan itu. Semangat anak-anak itu untuk tetap berangkat, membawa nama Indonesia, keyakinan untuk sebuah tujuan. Mereka pulang bukan hanya membawa penghargaan, tapi saya yakin kalau mereka belajar banyak tentang kehidupan. Bahkan saya yang membacanya, dan hanya melihatnya dari luar, melalui sebuah buku juga belajar tentang arti persahabatan, semangat dan kerja keras, serta bagaimana sebuah keyakinan akan berbuah indah saat dijalani dengan sungguh-sungguh.

Lalu apakah 40days termasuk buku yang sangat tebal untuk jenisnya? Menurut saya, ketebalan sebuah buku adalah relative. Cara penulisnya menceritakannya sangat menarik, karena dituliskan dengan sangat biasa. Dilengkapi dengan begitu banyak catatan dari percakapan melalui chating, imel ataupun sms. Menurut sebagian orang, catatan chating, imel ataupun sms itu tidak penting. Tapi menurut saya, catatan-catatan chating, imel ataupun sms itu justru berbicara lebih banyak dibandingkan rangkaian kata yang disusun penulisnya. Catatan itu adalah saksi perjalanan mereka.

Kemudian, apakah Maulana menjadi pahlawan dalam perjalanan itu? Padahal dulu dia bukan siapa-siapa. Mungkin sebelumnya dia hanya ketua OSIS dijamannya yang bahkan tidak terlibat aktif dalam kegiatan KPA3, yang notabene adalah kelompok angklung yang super terkenal itu. Lalu kemudian kenapa sekarang ia yang menjadi pahlawan dalam perjalan itu? Kenyataannya memang seperti itu, suka atau tidak suka. Menganggapnya sebagai pahlawan mungkin menjadi sedikit hiperbol, karena ini adalah kerja tim, Tapi peran Maulana juga tidak bisa diabaikan, he’s doing something for that journey.

Maulana sendiri memiliki kelompok angklung bersama teman-temannya di Eropa. Mereka sesekali manggung, bukan hanya untuk pentas angklung tapi juga untuk rampak kendang, wayang kontemporer, dan banyak lagi. Sederet kegiatan kesenian yang menurut saya juga patut mendapat acungan jempol.

Saat mengangkat cerita perjalanan 40 days in Europe dalam talkshow Kick Andy, sejumlah konflik internal yang pernah ada kembali mencuat. Sesuatu yang menurut saya tidak perlu ada. Bagaimanapun juga, semua kembali pada manusianya.

Kalau kemudian ada sebagian orang yang keberatan kenapa sekarang terkesan Maulana yang terus-menerus tampil dan bicara tentang angklung, menurut saya sah-sah saja. Bagaimanapun juga, kita tidak bisa mengelak kalau kita pada akhirnya baru mengetahui tentang perjuangan mereka membawa nama Indonesia dari buku 40 days in Europe. Untuk itu terimakasih kepada Maulana yang telah menuliskannya. Meskipun sebagai sebuah novel debut, tentunya masih banyak kekurangan dalam tulisan tersebut. Bentuknya yang seperti catatan harian memang memudahkan pembaca dalam menikmati apa yang disajikan dengan sangat biasa. Tapi dalam beberapa bagian menjadi sangat bertele-tele, karena diceritakan dengan sangat detail.

Meskipun demikian 40 days in Europe, menurut saya hadir semata bukan untuk popularitas penulisnya. Tapi lebih pada menghadirkan kembali semangat mereka, yang pernah dengan kegilaannya nekad berangkat ke Eropa, melakukan sebuah mission impossible. Cerita mereka terlalu sayang untuk tidak dibagikan kepada banyak orang. Agar mereka yang membacanya bisa kembali bercermin, apa yang sudah saya lakukan untuk negeri ini?

Mereka yang berangkat adalah orang gila. Tapi mereka tidak akan pernah tahu bahwa mereka bisa kalau mereka tidak pernah mencobanya. Hidup adalah pilihan, dan mereka memilih untuk maju, mencoba sesuatu yang sejak awal terlihat mustahil. Sebuah buku yang sangat inspiratif menurut saya. Buku itu juga hadir untuk mengingatkan kepada kita, agar apa yang mereka alami tidak lagi berulang. Agar perjuangan anak-anak muda lainnya untuk angklung, untuk Indonesia, tidak lagi menemui jalan buntu.

Enthusiasm is the force that leads us to the final victory (Paulo Coelho). Percayalah, dalam 40 days in Europe, anda akan benar-benar menemukan implementasi dari quotation Paulo Coelho tersebut.

Minggu, 14 Agustus 2011

Waktuku Untukmu


Andaiku bisa memutar kembali waktu yang lalu
Banyak kata yang ingin kuucapkan

Andaiku bisa memutar kembali waktu yang lewat
Banyak laku yang ingin kulakukan

Andaiku bisa memutar kembali waktu yang hilang
Banyak janji yang ingin kupenuhi

Tapi waktu berjalan maju, tidak mundur ataupun diam
Dan aku disini, melangkah terus mengikuti arus waktu

Kau bilang, "jangan salahkan waktu yang bergerak,"
Kau bilang, "jangan diam atau nanti tergilas,"
Kau bilang, "jangan takut, coba dulu!"

Kau yang mengajarkanku keberanian
Kau yang membimbingku melangkah
Kau yang mengantarkanku pada titik ini

Aku limbung tanpamu,
Tapi,

Ketiadaanmu mengajarku untuk berdiri
Ketiadaanmu memapahku agar tak berjalan dengan terseok

Aku ingin membayar
Waktuku yang hilang untukmu

Aku ingin mengganti
Waktuku yang terlewat untukmu

Dan aku akan berjalan,
Disini,
Sekarang
Untukmu, dan untukku
Seperti katamu, "lakukan juga untuk dirimu sendiri,"