Kamis, 21 Juni 2012

Cerita Tentang Seorang Perempuan

Ini adalah cerita tentang seorang perempuan. Cerita yang hadir karena diingatkan oleh si Tuan Setan. Cerita yang hadir karena saya merasa tidak cukup adil telah banyak menceritakan tentang kekasih perempuan itu, sementara cerita tentang perempuan itu belum pernah ditulis. Ini cerita tentang seorang perempuan sederhana yang hanya menjalankan kariernya di rumah, sebagai ibu dan istri. Sekolahnya hanya diselesaikan sampai SMP. Di usia mudanya, ia datang ke Jakarta mengikuti sang kakak. Garis nasib mengantarkannya untuk menikah di usia muda, 18 tahun. Dan saat usianya baru genap dua puluh tahun, anak pertamanya lahir, juga seorang perempuan. 

Perempuan itu membesarkan anak perempuannya sekaligus mengurusi suaminya seorang diri, tanpa pembantu. Penghasilan suaminya tidak cukup untuk dapat membayar seorang pembantu rumah tangga di rumah kontrakan mereka. Lagipula perempuan itu merasa bahwa ia masih dapat melakukan semua tugas rumah tangga seorang diri. Sama sekali tidak merepotkan, bahkan ia masih dapat melakukan pekerjaan sampingan walaupun sekedar hobi dan dapat menambah sedikit penghasilan, menjahit. Tidak hanya menjahit, tetapi perempuan itu pun mencoba peruntungan dengan membuat berbagai kue kering, berbagai penganan yang dititipkan di warung-warung serta membuka warung kelontong kecil-kecilan di rumah mereka yang kecil. Dan semua usaha yang dijalankan perempuan itu selalu berhasil menambah penghasilan sang suami.

Anak perempuannya tumbuh besar. Dan perempuan itu selalu mengatakan, "ini anak pertama saya," Walaupun anak perempuannya selama 11 tahun menjadi anak tunggal. Bahkan setiap kali teman atau tetangga berkeras mengatakannya sebagai anak tunggal, perempuan itu tetap bersikukuh dengan pendapatnya, "ini anak pertama saya." 

Dan perempuan itu BENAR!! Anak perempuannya adalah anak pertama. Tepat saat anak perempuannya berusia 11 tahun 6 bulan, tepat di hari ulang tahun perkawinannya yang ke 13, perempuan itu melahirkan seorang bayi laki-laki. Anak laki-laki yang selama ini diidamkan olehnya dan suaminya untuk melengkapi keluarga kecil mereka. Namun, Tuhan terlalu sayang pada perempuan itu dan bayi laki-lakinya. Perempuan itu tidak pernah mendengar tangisan bayi laki-lakinya. Dan dia tahu sejak awal, bayi laki-lakinya akan damai dalam tangan Sang Pemilik Hidup. “Maaf yah, Mama gak jadi kasih adeknya, harusnya buat hadiah yah” hanya kalimat singkat itu yang keluar dari mulut perempuan itu manakala anak perempuannya datang menjenguk. Bahkan perempuan itu meminta maaf untuk kesalahan yang tidak dilakukannya.

Entah dari apa hati perempuan itu dibuat. Ia demikian sabar, pemaaf dan ikhlas. Bahkan saat ia tahu beberapa orang bergunjing dibelakangnya, mengumpat kenaifannya. Perempuan itu selalu keluar dengan senyum di wajahnya.

Pada anak perempuannya, ia adalah ibu yang manis, tegas, dan pemurah. Ia mengajarkan anak perempuannya menyanyikan lagu-lagu dalam buku lagu-lagu wajib. Ia membuatkan baju untuk anak perempuannya, mengajarkannya berhitung. Perempuan itupun memiliki strategi untuk mengajarkan anaknya disiplin.  Tanpa mengenal teori pembentukan perilaku, tanpa sadar ia telah menerapkan sistem positive reinforcement dalam pembentukan perilaku anak perempuannya sejak kecil. Sederhana saja, ia menjanjikan hadiah pada anaknya apabila berhasil menghabiskan makanannya, atau selesai mengerjakan tugas. Imbalannya? Buah-buahan yang memang sengaja ia siapkan untuk pencuci mulut. Belakangan, anak perempuannya  yang dapat menikmati pendidikan tinggi mulai menyadari bahwa yang dilakukan perempuan itu adalah sebuah cara sederhana untuk menumbuhkan kesukaan anak pada buah.

Entah ada hubungan apa antara angka 13 dengan perempuan itu, tapi di angka 13 perempuan itu selalu mendapatkan atau kehilangan anaknya. Di usia perkawinannya yang ke 13, ia mendapatkan seorang anak laki-laki sekaligus kehilangannya. Di usia anak perempuannya yang ke 13, perempuan itu kembali melahirkan seorang anak perempuan. Dan sekali lagi, keyakinan perempuan itu tentang anak pertamanya, adalah BENAR!

Usia perkawinannya melewati angka 28 tahun. Dan sepanjang 28 tahun juga, perempuan itu mengurusi suami dan kedua anak perempuannya, seorang diri. Juga mengurusi warung kecilnya untuk mengisi waktu luang.

Hingga suatu pagi, perempuan itu menghampiri anak perempuannya yang pertama dengan wajah panik, kebingungan dengan apa yang terjadi dengan suaminya yang sedang sesak nafas. Perempuan itu membawa suaminya ke rumah sakit. Perempuan itu mendampingi suaminya selama terbaring sakit, satu bulan penuh. Dan tidak satu haripun perempuan itu pergi dari sisi kekasihnya yang telah dinikahi berpuluh tahun.

Perempuan itu tidak menangis di depan anak perempuannya. Dia hanya menangis dalam doa panjangnya setiap kali shalat. Waktu tidurnya menjadi berkurang jauh, karena ia kerap terjaga, melakukan shalat dan doa, memohon untuk pria yang telah hidup bersamanya selama 28 tahun. Demi keluarganya, perempuan itu selalu bertanya pada anak perempuannya,”bagaimana kalau…..,” atau, “kamu setuju gak, kalau…..” Pertanyaan-pertanyaan yang meminta persetujuan untuk setiap langkah yang akan diambilnya untuk suami dan anak-anak perempuannya.

Dan perempuan itu masih berdiri tegak sambil memeluk anak-anak perempuannya, berkata dengan suara lirihnya, “terimakasih, kamu telah melakukan segalanya untuk dia,” pada detik ia menjadi janda. Dan hingga kini, setahun setelah suaminya pergi, perempuan itu masih berdoa panjang dalam shalatnya, setiap malam. Sesekali ia menangis ditengah keluh kesah doanya.

Perempuan itu kini hidup dengan dua anak perempuannya. Perempuan itu masih menyimpan rapi setiap kenangannya dengan suaminya, termasuk undangan saat menghadiri wisuda anak perempuan mereka. Perempuan itu tidak pernah sadar bahwa ia telah mengajarkan lebih banyak hal dari yang dapat dikatakannya pada anak-anak perempuannya.

Suatu malam, anak perempuannya mencuri dengan doa perempuan itu, “Tuhanku, berikan kebahagiaan pada anak-anakku, sekolah, rezeki dan jodoh terbaik. Berikan suamiku tempat terbaik di sisiMU.” Lirih doanya setiap malam. Perempuan itu tidak pernah meminta untuknya. Seumur hidupnya adalah mengabdi untuk keluarganya. Dan anak perempuan itu kini berharap agar ia menjadi kuat, tabah, sabar, dan ikhlas seperti perempuan itu.

Ini adalah cerita tentang seorang perempuan sederhana yang sabar, dengan keikhlasan luar biasa mengurus keluarganya. Cerita tentang ketabahan seorang perempuan yang kehilangan suami yang telah dinikahinya 28 tahun. Cerita tentang seorang anak perempuan yang berharap untuk memiliki hati seperti ibunya.

Kamis, 26 April 2012

Pada Sebuah Jalan

Suatu hari, sebuah jalan terbuka. Atas nama pertemanan dengan niat sebuah kebaikan. Tidak pernah ada jalanan yang benar-benar lurus dan lancar seperti layaknya jalan bebas hambatan dalam imajinasi pikiran kita.Jalanan itupun seringkali mengantarkan kita pada jalan-jalan lain yang saling menghubungkan. Bisa jadi kita menjadi jalan pembuka atas suatu hal. Atau, kitalah si beruntung yang berada pada jalan yang lurus dan mulus. Atau bahkan tidak jarang kita justru dipertemukan dengan cabang lain yang menjauhkan kita dari tujuan. Suatu hari, di sebuah jalan, saat tiba pada persimpangan atau saat kerikil dan batu di sepanjang jalan terasa semakin melelahkan, maka saat itu yang perlu kita lakukan mungkin beristirahat sejenak di tepian, kemudian kembali berjalan pada arah dan tujuan yang kita yakini.
Friendship is always a sweet responsibility, never an opportunity *Khalil Gibran*

Rabu, 14 Maret 2012

TERUS BERJALAN


Dua hari ke kantor dengan berjalan kaki, rasanya memberikan saya ruang untuk berpikir ulang tentang hidup yang saya jalani, tentang target yang ingin saya capai, tentang semua hal yang melintas di hadapan saya saat ini.

Dan pagi ini, di sebuah acara musik pagi saya kembali diingatkan melalui sebuah lagu. Liriknya sederhana, tetapi cukup menyentak kesadaran saya tentang apa yang sedang saya jalani saat ini.

*
hidup terlalu bengis saat kau coba terus ratapi
hidup adalah perjuangan meski tak mudah kau taklukkan
mana senyuman manismu dulu, tunjukkan itu padaku
usaplah air matamu lalu bilang bahwa kau mampu

berjalanlah walau tertatih kawan
hadapi dunia dengan senyuman

di sini ku ada untukmu genggam tangan
kita bersenang-senang
(tetap berjalan kawan, aku ada untukmu tuk selalu
di siniku ada untukmu, kita bersenang-senang)


Yak! Hidup mungkin tidak selalu menyediakan pilihan yang kita inginkan. Dan kita sering lupa bahwa bukan hidup yang membuatkan pilihan untuk kita jalani, karena kita sendiri lah yang harus membuat pilihan-pilihan untuk dijalani.

Berada di titik terendah kadang membuat kita tidak dapat lagi berpikir tentang pilihan apa yang memadai. Kembali berpikir tentang apa yang diinginkan, seakan memancing peperangan antara hati dan otak yang bekerja atas dasar logika.

Saya tidak hanya berpikir tentang saya, tapi juga mereka, dan kami. Kadang saya ingin berlaku egois dan hanya berpikir tentang “saya”, hingga pernyataan ke-aku-an pun muncul, “kenapa saya harus berpikir ‘mereka’? apakah mereka juga berpikir tentang ‘saya’?” Dan sekali lagi, terimakasih Tuhan yang Maha Baik tidak mematikan nurani saya hingga ke-aku-an itu tidak terus-terusan menang (walau kadang saya ingin).

Nasehat dari seorang teman berikut ini terus saya ingat dan menjadi sedikit pegangan saat saya melangkah, “Jangan pergi dengan kemarahan, jangan membuat keputusan dengan emosional, kalau kamu akan melangkah ke arah yang lain, lakukan bukan karena ingin meninggalkan yang ada sekarang, tetapi karena ada hal lain yang lebih besar, hal lain yang ingin dicapai, di depan sana.”

Hari ini, saya kembali berjalan, mengukur kembali jarak yang ingin saya capai. Terimakasih untuk senyuman-senyuman yang selalu ada untuk meneduhkan saat saya kelelahan berjalan.


*Terus Berjalan, by Naff

Kamis, 09 Februari 2012

NEVER SAY YOU CAN'T


"Coba dulu, kenapa harus takut sih? orang daerah itu semua merantau ke jakarta, kamu malah mau kuliah ke luar kota, gimana sih koq jadi terbalik gitu?" omelan bapak panjang lebar saat aku berusaha memberikan alasan selogis mungkin tentang keinginanku untuk melanjutkan kuliah di Jogja, Semarang, atau Purwokerto.

"Kenapa mau ke luar kota? kamu takut? belom juga dicoba!", kali ini kalimat bapak terdengar seperti ultimatum. Dan aku hanya bisa diam, menunduk patuh, berusaha belajar dan berdoa sama kerasnya. Memasukkan dua pilihan SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru = Sipenmaru = UMPTN = seleksi masuk seluruh universitas negeri se Indonesia, massal!) dan keduanya adalah di UI bagiku bukanlah hal mudah. Perlu lebih dari sekedar keyakinan untuk dapat melakukannya. Saingannya tentu banyak, sehingga aku berusaha serealistis mungkin dengan memilih beberapa universitas di luar Jakarta.

Namun, kali ini bapak tidak bisa dibantah. "Coba dulu, belum juga dikerjakan udah nyerah." Gerutuan bapak terasa semakin mengintimidasi dan menutup perdebatan kami.

Berhari-hari setelah perdebatan itu, aku tahu bahwa perpaduan usaha, doa dan restu orang tua akan berujung pada sebuah keberhasilan. Yak! aku diterima di UI, walaupun untuk pilihan keduaku (pilihan 1 : FE-Akuntansi, pilihan 2 : Psikologi). Dan pilihan itu yang kemudian membawa langkahku hingga detik ini.

*when I was just a little boy
barely strong enough to stand
I can always count on him
oh he taught me everything I know
and till this day it shows
he was more than just a friend

there was so many times
I would doubt myself
but his words were always there to help
i wouldn't be
where i am
if my father didn't tell me to never say i can't
he'd carry me
and never let me fall
oh and the only thing he asked
right before he passed
was to never say you can't oh never say you cant



Drama pemilihan jurusan kuliah itu rasanya mengubah seluruh jalan hidupku. Aku bukan hanya memilih jurusan untuk kuliah. Bukan sekedar pilihan bidang studi yang disukai. Ataupun sekedar pilihan profesi yang kelak akan dijalani (walau kini aku tidak sepenuhnya mengabdi pada profesi sesuai jurusan saat kuliah). Setidaknya, drama pemilihan jurusan itu telah menempaku untuk memulai sebuah pilihan dengan keyakinan.

Pilihan apapun yang akan kita ambil, sekolah, pekerjaan, pasangan hidup, atau sekedar pilihan sederhana mengenai lokasi makan siang, lakukanlah dengan penuh keyakinan. Yakin pada diri sendiri tentang apa yang akan kita lakukan. Kalau kita sendiri saja tidak yakin dengan pilihan yang akan kita jalani, lalu bagaimana kita akan mulai membuat berbagai opsi pilihan alternatif? bagaimana kita akan membuat keputusannya? bagaimana kita dapat berusaha menjalaninya?


Kadang hidup dirasa tidak adil karena tidak memberikan apa yang kita inginkan. Tapi sekali lagi, tanyakan pada hati kita, apa sebenarnya yang kita inginkan? Apakah "keinginan" yang selama ini kita teriakkan sebagai "keinginan" adalah benar-benar "keinginan" yang kita inginkan? (sounds blunder? it is :) )


Kadang kita menjadi bingung atas diri kita sendiri, karena terlalu banyak keinginan, karena kita tidak cukup mengenali diri kita tentang apa yang sebenarnya kita inginkan, atau lebih buruk lagi, yaitu kita tidak yakin dengan diri kita sendiri tentang apa yang sebenarnya kita inginkan, atau apakah kita benar-benar punya keinginan itu atau tidak?

*so when lifes rain begins to fall
and youre out there on your own
and you cant see a thing

just find that voice
that understands for me
it was my old man
taught me to say the words I can

oh there was so many times
I would doubt myself
but his words were always there to help
I wouldn't be where I am
if my father didn't tell me to never say I can't
he'd carry me
and never let me fall
oh and they only thing he asked
right before he passed
was to never say you can't




Keyakinan kita pada diri kita sendiri, tentang kemampuan kita, tentang hal-hal yang kita inginkan, tentang apa yang kita rasakan, dan tentang seberapa besar kita menginginkan suatu hal, adalah modal kita untuk mencapai sesuatu. Tentu dengan usaha dan doa yang sepadan.


Jadi, berterimakasihlah pada hidup yang terus-menerus meminta kita untuk memilih.

Berterimakasihlah pada orang-orang yang mungkin pernah meragukan kita, karena keragu-raguan mereka memaksa kita untuk berpikir kembali apakah "keyakinan saya cukup besar untuk maju dan membuat keputusan?"

Berterimakasihlah pada siapapun atau apapun yang telah membuat kita jatuh, karena tanpa disadari kita belajar untuk bangkit dan percaya pada kekuatan diri sendiri.

Berterimakasihlah pada bisikan-bisikan yang membingungkan. Karena bisikan-bisikan atau godaan-godaan itulah yang membuat kita berkeyakinan bulat akan sesuatu. Karena bisikan-bisikan dan godaan-godaan itulah yang telah menguji keyakinan kita akan diri kita sendiri, ataupun keyakinan kita atas pilihan yang akan kita jalani.


One day, my co worker told me about a song
One night, I found that song
The song told me, exactly the same just like my father did
He told me once, "never say you can't"
And now, I say it again to myself
And I say it to you
Share it to as many people as I can
Sharing the "Never Say You Can't" virus







*a beautiful song from Bruno Mars, Never Say You Can't

Kamis, 15 Desember 2011

PAINI




10 november diperingati sebagai hari pahlawan, tapi siapakah yang sebenarnya layak disebut pahlawan? Di abad 21 saat teknologi menjadi raja atas nama kemajuan jaman, barangkali taman makam pahlawan bukan lagi satu-satunya bukti apakah seseorang dapat disebut sebagai pahlawan atau bukan.

Namanya Paini, perempuan asal Wonogiri ini terlahir dengan kondisi kaki dan tangan yang tidak sempurna. Jari-jarinya tidak tumbuh seluruhnya dalam ukuran normal dan jalannya pun pincang. Kondisi fisiknya tersebut tidak lantas menjadikan Paini putus asa. Ia membangun usahanya untuk membuat aneka makanan kecil. Ia juga merekrut para penyandang cacat lain untuk bekerja bersama-sama. Mereka kemudian membuat usaha yang diberi nama “Kuber Penca” atau Kelompok Usaha Bersama penyandang Cacat. “Saya kasi mereka motivasi gini, saya cacat, ayo kamu yang cacat juga bisa. Kita buktikan kalo yang i cacat mampu,” kata Paini.

Di rumah kontrakannya yang kecil, ia membina para penyandang cacat ini untuk membuat aneka panganan ringan untuk kembali dijajakan keliling ke warung-warung. Setiap harinya Paini berkeliling dengan sepeda motor yang sudah disulapnya mirip dengan mobil bak semi terbuka untuk membawa seluruh barang dagangannya.



Selain membuat beberapa panganan, dengan modal satu buah mesin jahit Paini juga membuat jilbab berhias untuk dijual kembali. Hampir seluruh pekerjanya adalah para penyandang cacat. Namun, mereka tak lepas menyunggingkan senyum menunjukkan semangatnya.

Kondisi ekonomi terbatas tidak menyurutkan Paini untuk membantu orang lain. Suatu hari, tukang sayur yang kerap lewat di depan rumahnya mengenalkan Paini dengan Tuti, perempuan yang tengah hamil muda. Paini tidak mengenal latar belakang Tuti, selain dari cerita-ceritanya.

Tuti yang saat itu tengah hamil tiga bulan pun nekad ke Jakarta untuk mencari suaminya. Anak pertamanya ditinggalkan di Purwodadi bersama orangtua Tuti. Tanpa pikir panjang, Paini menerima Tuti untuk bekerja di rumahnya. Pertimbangannya sederhana, Tuti dapat membantu Paini untuk urusan rumah tangga sehari-hari sambil tetap mencari alamat suaminya. Setelah Tuti melahirkan, Paini juga tidak berkeberatan untuk ikut mengasuh anak Tuti, “pikir saya ya udah dirawat aja sama-sama, kan gampang,” ujarnya sederhana.

Manusia berkehendak, Tuhan yang menentukan. Bayi Tuti dilahirkan dengan kondisi yang kurang sempurna. Hasil pemeriksaan dokter menyebutkan diagnose : laringomalasia grade 1, suspek stenosis supraglottis, pasca trakeostomi, atresia esophagus pasca esofagotomi, torakotomi dan gastrostomi, gizi buruk marasmik. Rizky Ramadhan, bayi kecil itu harus menanggung serangkaian diagnosa yang bahkan sulit diucapkan tersebut. “Saya harus menghafal diagnosanya, jadi bisa jelaskan ke orang-orang yang tanya,” jelas Paini dengan lugu.

Gambaran kondisi Rizky sebenarnya adalah saluran makanan dan saluran nafas yang tidak terbentuk dengan sempurna. Rizky tidak memiliki saluran makanan langsung dari tenggorokan ke dalam lambung sehingga ia harus dibuatkan saluran sementara dengan memasang selang di dinding perutnya sebagai tempat untuk menyuntikkan susu. Selang itulah satu-satunya cara agar Rizky kecil dapat makan. Saluran ini pun harus dijaga kebersihannya sehingga tidak menimbulkan infeksi. Suatu hari Rizky demam dan pemberian obat penurun panas berupa puyer pun dicoba dimasukkan dengan cara disuntik di saluran makan tersebut. Apa daya yang terjadi adalah penyumbatan sehingga Rizky segera dilarikan ke rumah sakit. Bayangkan betapa kecilnya saluran makan sementara yang dimiliki RIzky, hingga hanya benda cair yang dapat masuk sebagai asupan makanannya.



Di tenggorokan Rizky, dokter membuatkan saluran untuk membantunya bernafas. Jika anda pernah melihat pasien di rumah sakit dalam kondisi kritis yang menggunakan selang nafas di tenggorokannya, seperti itulah kondisi Rizky. Setiap dua hari sekali Rizky harus melakukan penguapan untuk saluran pernafasannya agar tetap steril.

Rizky yang kini baru mulai bisa berjalan ini pun harus berkali-kali menghadapi meja operasi. Dokter bahkan memperkirakan setidaknya ia membutuhkan 14 kali operasi untuk membuat saluran nafas dan saluran makan yang sempurna. Seluruh operasi itupun bukan tanpa biaya. Lagi-lagi Paini harus memutar akal agar biaya perawatan Rizky dapat dipikulnya. Paini memasukkan Tuti dan RIzky ke dalam kartu keluarganya sehingga mereka dapat memperoleh jaminan kesehatan sebagai warga miskin. Namun, sebelum jaminan kesehatan warga miskin bisa mereka peroleh, mereka sudah terbelit hutang lebih dari 49 juta di rumah sakit untuk biaya awal saat RIzky persalinan dan tindakan operasi awal.

“Saya bagi tugas sama Tuti. Dia (Tuti, red) yang urus RIzky, saya yang urus cari biayanya,” ujar Paini dengan penuh keriangan nyaris tanpa beban. Kini, sekalipun jaminan kesehatan warga miskin sudah diperolehnya, Rizky tetap membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pengeluaran rutin susu, diapers, kapas dan kasa adalah keperluan yang tidak boleh kosong sedikitpun. Tambahkan juga obat-obatan yang harus dibelinya. Biaya transportasi ke rumah sakit juga tidak kecil, karena nyaris tiga kali setiap minggunya Paini harus membawa Rizky check up ke rumah sakit.

“Pak, Paini dlm kesulitan. Anak kami mau ada operasi ke 4, saya masih punya hutang 49 juta, tolong saya pak, saya tidak sanggup pikul bebannya sendirian.”


Penggalan sms itu adalah sms Paini di suatu pagi pada seorang teman yang kemudian di forward kepada saya, tepat di hari pahlawan. Keputusasaan dan ketulusan Paini yang tercurah dalam sms mengantarkan kami hingga ke rumah sederhananya di Bekasi. Paini yang kami temui tidak sedikitpun menampilkan gurat kesedihan. Sebaliknya ia tampak bersemangat untuk terus berusaha demi kesembuhan Rizky. Lalu siapakah sekarang yang dapat kita sebut sebagai pahlawan?




Note : Sahabat, jika berkenan untuk membantu Ibu Paini, dapat menghubunginya langsung.

Alamat : Belakang kelurahan Bojong Menteng, Rt 01/ Rw 03, Rawa Lumbu, Bekasi Kota, samping pabrik kecap Sari Sedap. Telp : 081383059609

Atau donasi langsung ke :
BRI unit Bantar Gebang, nomor rekening : 0861-01-028589-53-5, a/n Paini

Kamis, 27 Oktober 2011

JEJAK


Deg!
diam-diam kembali membuka lembarannya

Deg!
ada jejak lain yang meninggalkan rasa
ya.. rasa yang kupikir sudah tak ada
ternyata masih menyisakan rasa yang sama

jejak-jejak lain
untuk sebuah rasa yang lain

Selasa, 18 Oktober 2011

JALAN


Tiba saat kau datang untuk mengatakan, "aku akan berjalan dengannya." Dan aku kembali mencari jalanku sendiri.