Friendship is always a sweet responsibility, never an opportunity *Khalil Gibran*
seperti puzzle yang terserak, berisi coretan tentang keping-keping ingatan akan kejadian, pikiran, dan perasaan.
Kamis, 26 April 2012
Pada Sebuah Jalan
Suatu hari, sebuah jalan terbuka. Atas nama pertemanan dengan niat sebuah kebaikan. Tidak pernah ada jalanan yang benar-benar lurus dan lancar seperti layaknya jalan bebas hambatan dalam imajinasi pikiran kita.Jalanan itupun seringkali mengantarkan kita pada jalan-jalan lain yang saling menghubungkan. Bisa jadi kita menjadi jalan pembuka atas suatu hal. Atau, kitalah si beruntung yang berada pada jalan yang lurus dan mulus. Atau bahkan tidak jarang kita justru dipertemukan dengan cabang lain yang menjauhkan kita dari tujuan. Suatu hari, di sebuah jalan, saat tiba pada persimpangan atau saat kerikil dan batu di sepanjang jalan terasa semakin melelahkan, maka saat itu yang perlu kita lakukan mungkin beristirahat sejenak di tepian, kemudian kembali berjalan pada arah dan tujuan yang kita yakini.
Rabu, 14 Maret 2012
TERUS BERJALAN

Dua hari ke kantor dengan berjalan kaki, rasanya memberikan saya ruang untuk berpikir ulang tentang hidup yang saya jalani, tentang target yang ingin saya capai, tentang semua hal yang melintas di hadapan saya saat ini.
Dan pagi ini, di sebuah acara musik pagi saya kembali diingatkan melalui sebuah lagu. Liriknya sederhana, tetapi cukup menyentak kesadaran saya tentang apa yang sedang saya jalani saat ini.
*
hidup terlalu bengis saat kau coba terus ratapi
hidup adalah perjuangan meski tak mudah kau taklukkan
mana senyuman manismu dulu, tunjukkan itu padaku
usaplah air matamu lalu bilang bahwa kau mampu
berjalanlah walau tertatih kawan
hadapi dunia dengan senyuman
di sini ku ada untukmu genggam tangan
kita bersenang-senang
(tetap berjalan kawan, aku ada untukmu tuk selalu
di siniku ada untukmu, kita bersenang-senang)
Yak! Hidup mungkin tidak selalu menyediakan pilihan yang kita inginkan. Dan kita sering lupa bahwa bukan hidup yang membuatkan pilihan untuk kita jalani, karena kita sendiri lah yang harus membuat pilihan-pilihan untuk dijalani.
Berada di titik terendah kadang membuat kita tidak dapat lagi berpikir tentang pilihan apa yang memadai. Kembali berpikir tentang apa yang diinginkan, seakan memancing peperangan antara hati dan otak yang bekerja atas dasar logika.
Saya tidak hanya berpikir tentang saya, tapi juga mereka, dan kami. Kadang saya ingin berlaku egois dan hanya berpikir tentang “saya”, hingga pernyataan ke-aku-an pun muncul, “kenapa saya harus berpikir ‘mereka’? apakah mereka juga berpikir tentang ‘saya’?” Dan sekali lagi, terimakasih Tuhan yang Maha Baik tidak mematikan nurani saya hingga ke-aku-an itu tidak terus-terusan menang (walau kadang saya ingin).
Nasehat dari seorang teman berikut ini terus saya ingat dan menjadi sedikit pegangan saat saya melangkah, “Jangan pergi dengan kemarahan, jangan membuat keputusan dengan emosional, kalau kamu akan melangkah ke arah yang lain, lakukan bukan karena ingin meninggalkan yang ada sekarang, tetapi karena ada hal lain yang lebih besar, hal lain yang ingin dicapai, di depan sana.”
Hari ini, saya kembali berjalan, mengukur kembali jarak yang ingin saya capai. Terimakasih untuk senyuman-senyuman yang selalu ada untuk meneduhkan saat saya kelelahan berjalan.
*Terus Berjalan, by Naff
Kamis, 09 Februari 2012
NEVER SAY YOU CAN'T

"Coba dulu, kenapa harus takut sih? orang daerah itu semua merantau ke jakarta, kamu malah mau kuliah ke luar kota, gimana sih koq jadi terbalik gitu?" omelan bapak panjang lebar saat aku berusaha memberikan alasan selogis mungkin tentang keinginanku untuk melanjutkan kuliah di Jogja, Semarang, atau Purwokerto.
"Kenapa mau ke luar kota? kamu takut? belom juga dicoba!", kali ini kalimat bapak terdengar seperti ultimatum. Dan aku hanya bisa diam, menunduk patuh, berusaha belajar dan berdoa sama kerasnya. Memasukkan dua pilihan SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru = Sipenmaru = UMPTN = seleksi masuk seluruh universitas negeri se Indonesia, massal!) dan keduanya adalah di UI bagiku bukanlah hal mudah. Perlu lebih dari sekedar keyakinan untuk dapat melakukannya. Saingannya tentu banyak, sehingga aku berusaha serealistis mungkin dengan memilih beberapa universitas di luar Jakarta.
Namun, kali ini bapak tidak bisa dibantah. "Coba dulu, belum juga dikerjakan udah nyerah." Gerutuan bapak terasa semakin mengintimidasi dan menutup perdebatan kami.
Berhari-hari setelah perdebatan itu, aku tahu bahwa perpaduan usaha, doa dan restu orang tua akan berujung pada sebuah keberhasilan. Yak! aku diterima di UI, walaupun untuk pilihan keduaku (pilihan 1 : FE-Akuntansi, pilihan 2 : Psikologi). Dan pilihan itu yang kemudian membawa langkahku hingga detik ini.
*when I was just a little boy
barely strong enough to stand
I can always count on him
oh he taught me everything I know
and till this day it shows
he was more than just a friend
there was so many times
I would doubt myself
but his words were always there to help
i wouldn't be
where i am
if my father didn't tell me to never say i can't
he'd carry me
and never let me fall
oh and the only thing he asked
right before he passed
was to never say you can't oh never say you cant
Drama pemilihan jurusan kuliah itu rasanya mengubah seluruh jalan hidupku. Aku bukan hanya memilih jurusan untuk kuliah. Bukan sekedar pilihan bidang studi yang disukai. Ataupun sekedar pilihan profesi yang kelak akan dijalani (walau kini aku tidak sepenuhnya mengabdi pada profesi sesuai jurusan saat kuliah). Setidaknya, drama pemilihan jurusan itu telah menempaku untuk memulai sebuah pilihan dengan keyakinan.
Pilihan apapun yang akan kita ambil, sekolah, pekerjaan, pasangan hidup, atau sekedar pilihan sederhana mengenai lokasi makan siang, lakukanlah dengan penuh keyakinan. Yakin pada diri sendiri tentang apa yang akan kita lakukan. Kalau kita sendiri saja tidak yakin dengan pilihan yang akan kita jalani, lalu bagaimana kita akan mulai membuat berbagai opsi pilihan alternatif? bagaimana kita akan membuat keputusannya? bagaimana kita dapat berusaha menjalaninya?
Kadang hidup dirasa tidak adil karena tidak memberikan apa yang kita inginkan. Tapi sekali lagi, tanyakan pada hati kita, apa sebenarnya yang kita inginkan? Apakah "keinginan" yang selama ini kita teriakkan sebagai "keinginan" adalah benar-benar "keinginan" yang kita inginkan? (sounds blunder? it is :) )
Kadang kita menjadi bingung atas diri kita sendiri, karena terlalu banyak keinginan, karena kita tidak cukup mengenali diri kita tentang apa yang sebenarnya kita inginkan, atau lebih buruk lagi, yaitu kita tidak yakin dengan diri kita sendiri tentang apa yang sebenarnya kita inginkan, atau apakah kita benar-benar punya keinginan itu atau tidak?
*so when lifes rain begins to fall
and youre out there on your own
and you cant see a thing
just find that voice
that understands for me
it was my old man
taught me to say the words I can
oh there was so many times
I would doubt myself
but his words were always there to help
I wouldn't be where I am
if my father didn't tell me to never say I can't
he'd carry me
and never let me fall
oh and they only thing he asked
right before he passed
was to never say you can't
Keyakinan kita pada diri kita sendiri, tentang kemampuan kita, tentang hal-hal yang kita inginkan, tentang apa yang kita rasakan, dan tentang seberapa besar kita menginginkan suatu hal, adalah modal kita untuk mencapai sesuatu. Tentu dengan usaha dan doa yang sepadan.
Jadi, berterimakasihlah pada hidup yang terus-menerus meminta kita untuk memilih.
Berterimakasihlah pada orang-orang yang mungkin pernah meragukan kita, karena keragu-raguan mereka memaksa kita untuk berpikir kembali apakah "keyakinan saya cukup besar untuk maju dan membuat keputusan?"
Berterimakasihlah pada siapapun atau apapun yang telah membuat kita jatuh, karena tanpa disadari kita belajar untuk bangkit dan percaya pada kekuatan diri sendiri.
Berterimakasihlah pada bisikan-bisikan yang membingungkan. Karena bisikan-bisikan atau godaan-godaan itulah yang membuat kita berkeyakinan bulat akan sesuatu. Karena bisikan-bisikan dan godaan-godaan itulah yang telah menguji keyakinan kita akan diri kita sendiri, ataupun keyakinan kita atas pilihan yang akan kita jalani.
One day, my co worker told me about a song
One night, I found that song
The song told me, exactly the same just like my father did
He told me once, "never say you can't"
And now, I say it again to myself
And I say it to you
Share it to as many people as I can
Sharing the "Never Say You Can't" virus
*a beautiful song from Bruno Mars, Never Say You Can't
Kamis, 15 Desember 2011
PAINI
10 november diperingati sebagai hari pahlawan, tapi siapakah yang sebenarnya layak disebut pahlawan? Di abad 21 saat teknologi menjadi raja atas nama kemajuan jaman, barangkali taman makam pahlawan bukan lagi satu-satunya bukti apakah seseorang dapat disebut sebagai pahlawan atau bukan.
Namanya Paini, perempuan asal Wonogiri ini terlahir dengan kondisi kaki dan tangan yang tidak sempurna. Jari-jarinya tidak tumbuh seluruhnya dalam ukuran normal dan jalannya pun pincang. Kondisi fisiknya tersebut tidak lantas menjadikan Paini putus asa. Ia membangun usahanya untuk membuat aneka makanan kecil. Ia juga merekrut para penyandang cacat lain untuk bekerja bersama-sama. Mereka kemudian membuat usaha yang diberi nama “Kuber Penca” atau Kelompok Usaha Bersama penyandang Cacat. “Saya kasi mereka motivasi gini, saya cacat, ayo kamu yang cacat juga bisa. Kita buktikan kalo yang i cacat mampu,” kata Paini.
Di rumah kontrakannya yang kecil, ia membina para penyandang cacat ini untuk membuat aneka panganan ringan untuk kembali dijajakan keliling ke warung-warung. Setiap harinya Paini berkeliling dengan sepeda motor yang sudah disulapnya mirip dengan mobil bak semi terbuka untuk membawa seluruh barang dagangannya.

Selain membuat beberapa panganan, dengan modal satu buah mesin jahit Paini juga membuat jilbab berhias untuk dijual kembali. Hampir seluruh pekerjanya adalah para penyandang cacat. Namun, mereka tak lepas menyunggingkan senyum menunjukkan semangatnya.
Kondisi ekonomi terbatas tidak menyurutkan Paini untuk membantu orang lain. Suatu hari, tukang sayur yang kerap lewat di depan rumahnya mengenalkan Paini dengan Tuti, perempuan yang tengah hamil muda. Paini tidak mengenal latar belakang Tuti, selain dari cerita-ceritanya.
Tuti yang saat itu tengah hamil tiga bulan pun nekad ke Jakarta untuk mencari suaminya. Anak pertamanya ditinggalkan di Purwodadi bersama orangtua Tuti. Tanpa pikir panjang, Paini menerima Tuti untuk bekerja di rumahnya. Pertimbangannya sederhana, Tuti dapat membantu Paini untuk urusan rumah tangga sehari-hari sambil tetap mencari alamat suaminya. Setelah Tuti melahirkan, Paini juga tidak berkeberatan untuk ikut mengasuh anak Tuti, “pikir saya ya udah dirawat aja sama-sama, kan gampang,” ujarnya sederhana.
Manusia berkehendak, Tuhan yang menentukan. Bayi Tuti dilahirkan dengan kondisi yang kurang sempurna. Hasil pemeriksaan dokter menyebutkan diagnose : laringomalasia grade 1, suspek stenosis supraglottis, pasca trakeostomi, atresia esophagus pasca esofagotomi, torakotomi dan gastrostomi, gizi buruk marasmik. Rizky Ramadhan, bayi kecil itu harus menanggung serangkaian diagnosa yang bahkan sulit diucapkan tersebut. “Saya harus menghafal diagnosanya, jadi bisa jelaskan ke orang-orang yang tanya,” jelas Paini dengan lugu.
Gambaran kondisi Rizky sebenarnya adalah saluran makanan dan saluran nafas yang tidak terbentuk dengan sempurna. Rizky tidak memiliki saluran makanan langsung dari tenggorokan ke dalam lambung sehingga ia harus dibuatkan saluran sementara dengan memasang selang di dinding perutnya sebagai tempat untuk menyuntikkan susu. Selang itulah satu-satunya cara agar Rizky kecil dapat makan. Saluran ini pun harus dijaga kebersihannya sehingga tidak menimbulkan infeksi. Suatu hari Rizky demam dan pemberian obat penurun panas berupa puyer pun dicoba dimasukkan dengan cara disuntik di saluran makan tersebut. Apa daya yang terjadi adalah penyumbatan sehingga Rizky segera dilarikan ke rumah sakit. Bayangkan betapa kecilnya saluran makan sementara yang dimiliki RIzky, hingga hanya benda cair yang dapat masuk sebagai asupan makanannya.
Di tenggorokan Rizky, dokter membuatkan saluran untuk membantunya bernafas. Jika anda pernah melihat pasien di rumah sakit dalam kondisi kritis yang menggunakan selang nafas di tenggorokannya, seperti itulah kondisi Rizky. Setiap dua hari sekali Rizky harus melakukan penguapan untuk saluran pernafasannya agar tetap steril.
Rizky yang kini baru mulai bisa berjalan ini pun harus berkali-kali menghadapi meja operasi. Dokter bahkan memperkirakan setidaknya ia membutuhkan 14 kali operasi untuk membuat saluran nafas dan saluran makan yang sempurna. Seluruh operasi itupun bukan tanpa biaya. Lagi-lagi Paini harus memutar akal agar biaya perawatan Rizky dapat dipikulnya. Paini memasukkan Tuti dan RIzky ke dalam kartu keluarganya sehingga mereka dapat memperoleh jaminan kesehatan sebagai warga miskin. Namun, sebelum jaminan kesehatan warga miskin bisa mereka peroleh, mereka sudah terbelit hutang lebih dari 49 juta di rumah sakit untuk biaya awal saat RIzky persalinan dan tindakan operasi awal.
“Saya bagi tugas sama Tuti. Dia (Tuti, red) yang urus RIzky, saya yang urus cari biayanya,” ujar Paini dengan penuh keriangan nyaris tanpa beban. Kini, sekalipun jaminan kesehatan warga miskin sudah diperolehnya, Rizky tetap membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pengeluaran rutin susu, diapers, kapas dan kasa adalah keperluan yang tidak boleh kosong sedikitpun. Tambahkan juga obat-obatan yang harus dibelinya. Biaya transportasi ke rumah sakit juga tidak kecil, karena nyaris tiga kali setiap minggunya Paini harus membawa Rizky check up ke rumah sakit.
“Pak, Paini dlm kesulitan. Anak kami mau ada operasi ke 4, saya masih punya hutang 49 juta, tolong saya pak, saya tidak sanggup pikul bebannya sendirian.”
Penggalan sms itu adalah sms Paini di suatu pagi pada seorang teman yang kemudian di forward kepada saya, tepat di hari pahlawan. Keputusasaan dan ketulusan Paini yang tercurah dalam sms mengantarkan kami hingga ke rumah sederhananya di Bekasi. Paini yang kami temui tidak sedikitpun menampilkan gurat kesedihan. Sebaliknya ia tampak bersemangat untuk terus berusaha demi kesembuhan Rizky. Lalu siapakah sekarang yang dapat kita sebut sebagai pahlawan?
Note : Sahabat, jika berkenan untuk membantu Ibu Paini, dapat menghubunginya langsung.
Alamat : Belakang kelurahan Bojong Menteng, Rt 01/ Rw 03, Rawa Lumbu, Bekasi Kota, samping pabrik kecap Sari Sedap. Telp : 081383059609
Atau donasi langsung ke :
BRI unit Bantar Gebang, nomor rekening : 0861-01-028589-53-5, a/n Paini
Kamis, 27 Oktober 2011
JEJAK
Selasa, 18 Oktober 2011
JALAN
Minggu, 25 September 2011
Guardian Angel
Kau yang datang dalam diam
Perlahan menemani langkahku
Menghapus tetes air di sudut kelopak
Menyediakan bahumu untuk sandaran
Hingga aku lelah berhitung berapa kali kau ada
Hadirmu telah mengantarkanku pada sebuah rasa
Membuka sebuah ruang
Aku tidak tahu kalau rasa dan ruang itu begitu dalam
Hingga pusaran waktu menarik kita
Kau dan aku pada dua kutub yang berbeda
Jangan tanyakan kenapa
Jangan tanyakan kapan
Tuhan tahu hati kita
Aku tak tahu apakah kau tahu
Aku hanya ingin mengatakannya sebelum tergerus lupa, terimakasih
Thanks for being my guardian angel
Perlahan menemani langkahku
Menghapus tetes air di sudut kelopak
Menyediakan bahumu untuk sandaran
Hingga aku lelah berhitung berapa kali kau ada
Hadirmu telah mengantarkanku pada sebuah rasa
Membuka sebuah ruang
Aku tidak tahu kalau rasa dan ruang itu begitu dalam
Hingga pusaran waktu menarik kita
Kau dan aku pada dua kutub yang berbeda
Jangan tanyakan kenapa
Jangan tanyakan kapan
Tuhan tahu hati kita
Aku tak tahu apakah kau tahu
Aku hanya ingin mengatakannya sebelum tergerus lupa, terimakasih
Thanks for being my guardian angel
Langganan:
Postingan (Atom)

