Senang rasanya bisa kembali mengisi halaman blog ini, setelah berkutat dengan pasword dan email yang digunakan untuk dapat mengakses blog ini. Ternyata saya punya email lain yang berisi 5 blog lain yang tidak aktif, dan 2 blog dengan email yang sama dengan email yang digunakan untuk blog ini, hhhmmmm... Pertimbangan efektivitas dan efisiensi, akhirnya kelima blog yang tidak aktif itu sudah dihapus seluruhnya, dan juga satu blog lain dengan akses email yang sama dengan blog ini. Jadi, saya akan memulai 2016 dengan hanya SATU blog dan akan kembali berkomitmen untuk menulis.
Saat menghapus beberapa blog yang pernah saya buat rasanya seperti saya merapikan sebagian sisi hidup saya. Tulisan di blog menjadi representasi sebagian diri saya. Sebagian karena tidak keseluruhan rasa, emosi dan kejadian yang bisa saya tuliskan. Tidak bisa dituliskan karena tidak sempat, tidak mau, tidak bisa mengungkapkan dan juga kemalasan.
Membaca ulang tulisan lama rasanya seperti menjelajah waktu. Melihat kembali apa yang sudah saya lalui dan mengingatnya kembali seperti dejavu melalui sebuah tempat di masa lalu. Beberapa diantaranya bahkan masih memberikan kesan yang sama seperti saat pertama kali menuliskannya.
Blog ini bukan representasi saya sepenuhnya, dan semoga justifikasi ini bukan defense menchanism yang saya lakukan. Tidak sepenuhnya representasi diri saya karena memang saya masih memilah bagian yang ingin saya tampilkan. Tulisan-tulisan ini hanya cara saya untuk berbagi, tentang perasaan dan pemikiran saya. Berbagi tentang kebahagiaan dan cara saya menikmati hidup. Tulisan itu memang bisa dihapus tapi ingatan tentang kejadian dan emosi yang dirasakan tidak akan hilang (kecuali hilang ingatan). Dan semoga komitmen untuk kembali menulis ini bisa terjaga dan benar-benar dilaksanakan :)
Selamat menikmati berbagai ocehan si Ayu :)
seperti puzzle yang terserak, berisi coretan tentang keping-keping ingatan akan kejadian, pikiran, dan perasaan.
Rabu, 30 Desember 2015
Senin, 06 Mei 2013
Kembali Ke "Rumah"
"Sudah nonton 9 Summers 10 Autumns?"
"Belum, kayaknya aku perlu mempersiapkan hati dulu deh,"
"Why?"
"Hhhmmm... I don't know,"
Penggalan percakapan di atas benar adanya (dengan beberapa bagian yang di edit). Yak! Saya benar membutuhkan waktu untuk "siap" menontonnya. Saya membaca bukunya dan saya cukup dapat membayangkan akan seperti apa respon saya terhadap film ini.
Cerita tentang ayah dan keluarga mungkin bukan sesuatu yang bisa dengan mudah saya terima (secara emosional). Beberapa kali tawaran nonton bareng hingga undangan premiere pun tak bisa saya hadiri (hey, lucky me! but i'm sorry.. ). Hingga pada akhirnya, salah satu sahabat saya berhasil mengajak saya untuk menonton film ini walaupun itu berarti dia harus kembali menontonnya entah untuk yang keberapa kalinya (lebih dari 3x).
Seperti yang sudah saya duga sebelumnya, sejak awal film beberapa bagian dari film ini membuat saya cukup mengeluarkan tenaga agar tidak menimbulkan suara tambahan yang mengganggu penonton lain karena harus menyeka mata dan hidung dengan tissue (baca : mberebes mili sampai mbleber).
Kalau ditanya tentang film ini, bagi saya sangat personal. Walaupun tidak sama persis dalam kondisi seperti yang dialami tokoh dalam film, tapi saya pernah ada dalam situasi yang setidaknya sama. Ayah yang harus bekerja keras demi menghidupi keluarganya dan memberikan penghidupan terbaik untuk anak-anaknya tanpa mengindahkan kesejahteraan fisiknya sendiri. Tambahkan faktor kehilangan ayah sebagai salah satu unsur penguat keterikatan saya secara emosional pada beberapa bagian cerita dalam film.
Suguhan cerita yang sederhana dan sarat makna, itulah komentar singkat saya untuk film ini. Rangkaian monolog tokoh utama dengan script yang (menurut saya) bagus dan tidak berlebihan. Permainan ekspresi beberapa aktornya yang tak perlu diragukan lagi. Beberapa adegan yang tidak perlu jawaban verbal, seperti saat Bapak yang datang dengan bahagia sambil menenteng sepeda baru tetapi disambut dengan kebisuan ibu, Bayek, dan kakak-adiknya. Atau saat Bapak bertanya dengan singkat, "kamu beneran mau kuliah ke Bogor?" dan seketika Bapak memutar balik angkotnya. Cerita tidak selalu diselesaikan dengan kalimat ataupun adegan secara eksplisit. Tampilan yang cerdas!
Lepas dari itu semua, mungkin juga sebuah kesengajaan, saya merasakan musik yang (masih menurut saya) kurang dalam beberapa bagian film tersebut. Unsur monolog dalam film terasa sangat kuat. Sementara itu, sepertinya musik sengaja tidak banyak digunakan untuk membangkitkan suasana atau mood pada beberapa bagian cerita. Sebagai sebuah tayangan, pesan dan pembelajaran dalam film ini pun terasa kuat tanpa bermaksud menggurui.
Cerita Bayek yang berontak dari kemiskinannya, ketakutannya yang terbesar bahkan mengalahkan ketakutannya pada setan. Pemberontakan inilah yang mengantarkannya pada keberanian untuk melangkah tegak demi keluarganya. Tidak ada lagi Bayek yang penakut dan harus melihat ibuk di hari pertama sekolah atau Bayek yang lari dari panggung saat lomba menyanyi. Semua ketakutannya diterjang dengan kekuatas super dari kehangatan dan dukungan keluarganya.
Kemewahan, harta, jabatan, dan semua keberhasilan atas nama duniawi pun tak bisa menghalangi langkah Bayek untuk kembali menemukan "rumah"nya. Ketika tiba waktunya, maka ia kembali melangkah pulang, ke rumah.
Sejauh apapun kita melangkah, pada akhirnya kita akan kembali, ke rumah. Bukan lagi bangunan fisik yang dicari, tapi rumah tempat kita selalu mendapatkan kehangatan dan dukungan. Keluarga selalu menjadi tempat kita untuk "pulang", sejauh dan selama apapun kita pernah meninggalkannya.
Identitas Itu Bukan Angka Atau Akun Sosial Media
Semakin lama semakin banyak fasilitas akun sosial media yang bisa kita nikmati. Saat interaksi di sosial media meningkat, lalu apakah mempengaruhi interaksi kita dalam dunia nyata (kuantitas dan kualitas interaksi) ? Ini bukan pertanyaan ujian untuk mahasiswa saya, tetapi hanya sedikit menggelitik pikiran saya di tengah malam saat harus menyelesaikan modul mengenai bahasan perubahan sosial.
Pertanyaan selanjutnya yang kemudian menari-nari di kepala saya adalah, "Berapa banyak akun sosial media yang Anda miliki?" Saya sendiri memiliki beberapa, mari kita list apa saja :
- Friendster (entah sekarang masih ada atau tidak)
- Facebook (sesekali masih aktif )
- Twitter (saya lebih banyak aktif di akun sosial media ini)
- Path (sesekali aktif, karena tergantung saya membawa ipad atau tidak, atau tergantung apakah ipad saya terkoneksi dengan wifi )
- Line (baru saja aktif)
Media lainnya, saya punya beberapa blog yang hhhhmmm... tidak terlalu sering saya update juga :)
Pernahkah mendengar komentar seperti berikut, "twitter lo apa? Gak punya twitter? gak gaul deh.." , Atau "gw tag di path yah, ID lo apa? hah gak ada path?? hari gini gak punya path?? haduuuhhh..." Sebagian komentar itu pernah saya terima.
Kepemilikan pada beberapa akun sosial media kemudian menjadi bagian dari identitas kita. Yang lebih parah mungkin kepemilikian terhadap akun sosial media itu kemudian menjadi standar penerimaan kita dalam sebuah lingkungan. Sebuah kenyataan yang tidak terelakkan di tengah kemajuan teknologi saat ini.
Kemudian, siapakah yang harus disalahkan atas hal ini? Teknologi? Atau manusianya? Teknologi hadir untuk mempermudah hidup manusia. Manusia memiliki "free will" atau keinginan bebas atas dirinya. Teknologi bisa menjadi pedang bermata dua, kita bisa memanfaatkan akun sosial media atau teknologi apapun yang ada saat ini untuk support berbagai kegiatan atau menjadikannya sebagai masalah dan mempersulit hidup kita.
Ingat beberapa kasus yang marak belakangan ini? Misalnya, beragam tuduhan mem-bully melalui twitter. Kebebasan pendapat yang dimaknai secara kebablasan hingga verbal bullying tak terelakkan. Keterbatasan karakter dalam menjelaskan pendapat hingga penggalan penjelasan dan edit kalimat menjadi dasar pembenaran atas opini. Sampai titik ini, maka sosial media menjadi pedang bermata dua. "Twitmu Harimaumu".
Ingat pula berbagai gerakan sosial yang bermula dari akun sosial media. Pemanfaatan sosial media pada kelas menengah khususnya tidak bisa dianggap sepele.
Saat berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran, dari sosial media juga saya membaca artikel mengenai larangan mendagri memfotokopi ektp lebih dari satu kali (baca di sini). Harus diakui akses berita yang tercepat bisa saya dapatkan adalah melalui situs online di sosial media.
Kembali ke persoalan e ktp, pertanyaan selanjutnya adalah, "Kenapa baru sekarang diedarkan pemberitahuannya?" Bahkan kartu yang memuat sederetan nomor identitas kita sebagai warga negara dan sepenggal data, pun kita tidak tahu pemanfaatannya secara detail (setidaknya ini berlaku untuk saya). Sementara itu, saya sudah melakukan banyak kesalahan penggunaan. Jangan tanyakan ke saya sudah berapa kali memfotokopinya.
Pada saat yang sama, melalui facebook salah seorang teman kuliah, saya mendapatkan link daftar nama mahasiswa satu angkatan saat kami masih sama-sama tercatat sebagai mahasiswa fakultas Psikologi UI (lihat di sini). Ingatan saya pun seketika melayang ke hafalan deretan angka yang pernah menjadi identitas saya selama 4 tahun di UI.
Sebagai manusia dengan banyak status, kita memiliki banyak identitas. Sebagai pemilik akun twitter dengan jumlah follower ratusan ribu, Anda mungkin layak ditasbihkan sebagai "seleb twit". Popularitas Anda ditentukan dari banyaknya twit yang anda kemukakan dijawab ataupun di retweet.
Dalam akun sosial media, dalam dunia maya, kita pun menetapkan identitas diri kita sendiri dengan menguraikannya dalam profil akun, atau mengungkapkannya dengan ataupun tanpa sadar melalui berbagai hal yang kita kemukakan melalui akun tersebut.
Sebagai mahasiswa atau karyawan, ada deretan angka yang mengindikasikan nomor urut kita.
Sebagai warga negara, kita juga memiliki identitas standar berupa deretan angka dalam kartu identitas, atau deretan angka dalam paspor.
Profesi yang kita miliki juga bisa menjadi identitas. Atau bahkan perusahaan tempat kita bekerja bisa menjadi bagian dari identitas.
"kenal sama si Ani? ", "Ooo Ani yang pengacara itu?", "Bukan, Ani -nya Bank Berlian,"
Lepas dari itu semua, menurut saya, kita menentukan sendiri identitas seperti apa yang ingin kita tampilkan. Saya pun teringat sebuah tayangan inspiratif, yaitu kuliah terakhir Randy Pausch (lihat di sini) .
Pada akhirnya, kita sendiri yang menentukan, "kita ingin dikenal sebagai apa?"
Pertanyaan selanjutnya yang kemudian menari-nari di kepala saya adalah, "Berapa banyak akun sosial media yang Anda miliki?" Saya sendiri memiliki beberapa, mari kita list apa saja :
- Friendster (entah sekarang masih ada atau tidak)
- Facebook (sesekali masih aktif )
- Twitter (saya lebih banyak aktif di akun sosial media ini)
- Path (sesekali aktif, karena tergantung saya membawa ipad atau tidak, atau tergantung apakah ipad saya terkoneksi dengan wifi )
- Line (baru saja aktif)
Media lainnya, saya punya beberapa blog yang hhhhmmm... tidak terlalu sering saya update juga :)
Pernahkah mendengar komentar seperti berikut, "twitter lo apa? Gak punya twitter? gak gaul deh.." , Atau "gw tag di path yah, ID lo apa? hah gak ada path?? hari gini gak punya path?? haduuuhhh..." Sebagian komentar itu pernah saya terima.
Kepemilikan pada beberapa akun sosial media kemudian menjadi bagian dari identitas kita. Yang lebih parah mungkin kepemilikian terhadap akun sosial media itu kemudian menjadi standar penerimaan kita dalam sebuah lingkungan. Sebuah kenyataan yang tidak terelakkan di tengah kemajuan teknologi saat ini.
Kemudian, siapakah yang harus disalahkan atas hal ini? Teknologi? Atau manusianya? Teknologi hadir untuk mempermudah hidup manusia. Manusia memiliki "free will" atau keinginan bebas atas dirinya. Teknologi bisa menjadi pedang bermata dua, kita bisa memanfaatkan akun sosial media atau teknologi apapun yang ada saat ini untuk support berbagai kegiatan atau menjadikannya sebagai masalah dan mempersulit hidup kita.
Ingat beberapa kasus yang marak belakangan ini? Misalnya, beragam tuduhan mem-bully melalui twitter. Kebebasan pendapat yang dimaknai secara kebablasan hingga verbal bullying tak terelakkan. Keterbatasan karakter dalam menjelaskan pendapat hingga penggalan penjelasan dan edit kalimat menjadi dasar pembenaran atas opini. Sampai titik ini, maka sosial media menjadi pedang bermata dua. "Twitmu Harimaumu".
Ingat pula berbagai gerakan sosial yang bermula dari akun sosial media. Pemanfaatan sosial media pada kelas menengah khususnya tidak bisa dianggap sepele.
Saat berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran, dari sosial media juga saya membaca artikel mengenai larangan mendagri memfotokopi ektp lebih dari satu kali (baca di sini). Harus diakui akses berita yang tercepat bisa saya dapatkan adalah melalui situs online di sosial media.
Kembali ke persoalan e ktp, pertanyaan selanjutnya adalah, "Kenapa baru sekarang diedarkan pemberitahuannya?" Bahkan kartu yang memuat sederetan nomor identitas kita sebagai warga negara dan sepenggal data, pun kita tidak tahu pemanfaatannya secara detail (setidaknya ini berlaku untuk saya). Sementara itu, saya sudah melakukan banyak kesalahan penggunaan. Jangan tanyakan ke saya sudah berapa kali memfotokopinya.
Pada saat yang sama, melalui facebook salah seorang teman kuliah, saya mendapatkan link daftar nama mahasiswa satu angkatan saat kami masih sama-sama tercatat sebagai mahasiswa fakultas Psikologi UI (lihat di sini). Ingatan saya pun seketika melayang ke hafalan deretan angka yang pernah menjadi identitas saya selama 4 tahun di UI.
Sebagai manusia dengan banyak status, kita memiliki banyak identitas. Sebagai pemilik akun twitter dengan jumlah follower ratusan ribu, Anda mungkin layak ditasbihkan sebagai "seleb twit". Popularitas Anda ditentukan dari banyaknya twit yang anda kemukakan dijawab ataupun di retweet.
Dalam akun sosial media, dalam dunia maya, kita pun menetapkan identitas diri kita sendiri dengan menguraikannya dalam profil akun, atau mengungkapkannya dengan ataupun tanpa sadar melalui berbagai hal yang kita kemukakan melalui akun tersebut.
Sebagai mahasiswa atau karyawan, ada deretan angka yang mengindikasikan nomor urut kita.
Sebagai warga negara, kita juga memiliki identitas standar berupa deretan angka dalam kartu identitas, atau deretan angka dalam paspor.
Profesi yang kita miliki juga bisa menjadi identitas. Atau bahkan perusahaan tempat kita bekerja bisa menjadi bagian dari identitas.
"kenal sama si Ani? ", "Ooo Ani yang pengacara itu?", "Bukan, Ani -nya Bank Berlian,"
Lepas dari itu semua, menurut saya, kita menentukan sendiri identitas seperti apa yang ingin kita tampilkan. Saya pun teringat sebuah tayangan inspiratif, yaitu kuliah terakhir Randy Pausch (lihat di sini) .
Pada akhirnya, kita sendiri yang menentukan, "kita ingin dikenal sebagai apa?"
Jumat, 07 Desember 2012
Hilang Tak Terganti...
Gundul-gundul pacul... cul... gembelengan...
Nyunggi-nyunggi wakul... kul...
gembelengan...
Wakul ngglimpang segane dadi sakratan...
Mendengarkan nyanyian diatas dibawakan oleh paduan suara mahasiswa
Undip seketika membawa ingatan saya pada masa kecil, ketika bapak meninabobokan
saya dengan tembang-tembang jawa. Ketika
itu saya mendengarnya tanpa disengaja. Pekerjaan saya di kantor yang juga
berhubungan dengan salah satu tayangan talkshow televisi yang mengangkat kisah
paduan suara yang mendunia (lihat videonya disini http://www.youtube.com/watch?v=gUJnxQj0wBo
). Mendengarkan mereka latihan membawakan lagu gundul-gundul pacul, seketika
saya merasa tersihir. Bukan hanya oleh kemerduan suaranya, saya diam menikmati
nyanyian itu dengan syahdu sedangkan ingatan saya bermain-main dengan kelebat
kenangan.
Beberapa hari lalu, saya mendapat sms tentang penghargaan atas salah
satu tulisan tim majalah dimana saya pernah terlibat. Walaupun penghargaan
tersebut bukan atas nama saya, tapi rasa haru dan bangga meliputi seluruh
persendian rasa. Beritanya sebenarnya tidak terlalu mengagetkan karena
sebelumnya saya sudah diinformasikan salah satu mantan redaktur majalah
tersebut ada tulisan yang menjadi nominasi. Tapi, saat sms itu menjelaskan
bahwa salah satu reporter majalah kami yang sayangnya hanya berumur satu tahun
itu, mendapatkan penghargaan “Jurnalis Muda Berbakat Adiwarta 2012”, tak pelak
ada air mata haru, bahagia dan bangga yang memaksa keluar, kalau saja saya
tidak ingat saat itu sedang berdiri di tengah keramaian bandara.
Lalu, siang ini ada sebuah sapaan di situs jejaring sosial pertemanan
dari salah satu penyiar radio dimana saya pernah (juga) menjadi bagian dari
lini program yang sama dengan majalah. “Kamu gak kangen aku?” Ah.... saya ingat
setiap jumat sore saya sudah duduk manis di stasiun radio itu, menyusun
rundown, aneka materi yang bisa dibahas dalam satu jam siaran, memastikan narasumber
yang bisa dihubungi, hingga memastikan setiap segmen acara tidak melewati batas
durasi yang ditentukan. Ada ketegangan dan deadline
yang memusingkan. Tapi diluar semua itu, ada pertemanan dan team
work yang menyenangkan.
Ingatan tentang masa lampau itu selalu menjadi kenangan dalam waktu
yang tak berbatas. Ingatan tentang
segala hal yang pernah dimiliki itu menjadi harta karun, yang kita simpan
dengan baik, dijaga sehingga tak mudah lupa. Bukan hanya tawa, tapi juga peluh
dan setiap tetes air mata yang pernah ada berubah menjadi kekayaan pengalaman,
penuh makna.
Barangkali Tuhan terlalu sayang kepada saya, sehingga terus-terusan
melingkupi dengan kebahagiaan sekalipun dari hal-hal yang sudah tak lagi dimiliki.
Yang hilang mungkin tak terganti, tapi selalu ada kenangan berbalut rindu yang
mengingatkan kita untuk terus bersyukur bahwa kita pernah memilikinya.
Jumat, 12 Oktober 2012
hati-hati
aku pernah berjalan terlalu jauh
melangkah melalui batas hati
hingga sebuah nama tersimpan terlalu dalam
tapi jalan kita tak sama
setidaknya, tidak seperti mauku
dan aku kembali diam
memandangi dalam persimpangan
saat dua hati menempuh satu jalan yang lainnya
aku belajar dalam perjalanan
untuk melangkah perlahan
aku belajar untuk berhitung
dan pandai membaca arah hingga tak sesat
dan aku belajar
hati-hati, hati!
melangkah melalui batas hati
hingga sebuah nama tersimpan terlalu dalam
tapi jalan kita tak sama
setidaknya, tidak seperti mauku
dan aku kembali diam
memandangi dalam persimpangan
saat dua hati menempuh satu jalan yang lainnya
aku belajar dalam perjalanan
untuk melangkah perlahan
aku belajar untuk berhitung
dan pandai membaca arah hingga tak sesat
dan aku belajar
hati-hati, hati!
Jalan
Suatu hari dalam sebuah perjalanan dari Bandung kembali ke Jakarta,
setelah rangkaian pekerjaan di kota Kembang itu, saya berusaha menikmati
perjalanan pulang dengan memandangi bintang yang kelap-kelip di atas
langit sepanjang tol Cipularang, sementara pikiran saya dipenuhi banyak
hal. Dengan mata yang dipaksa melek sambil mendengarkan driver kantor
yang asyik menyanyikan lagu-lagu ST12 (sekarang : Setia Band) ingatan
saya tiba-tiba melayang ke satu nama, Rizky.
Sebelumnya saya pernah menuliskan tentang cerkita Rizky dan Ibu Paini (lihat di ; http://celotehayu.blogspot.com/2011/12/paini.html ). Memandangi panjangnya tol Cipularang, saat itu saya tahu bahwa saya memiliki arah dan tujuan. Saya tahu pasti kemana perjalanan saya akan berakhir, pulang, ke rumah, ke Jakarta, setidaknya itu yang saya tahu saat itu. Lalu kenapa saya tiba-tiba teringat Rizky? Bayi kecil yang saya kenal dengan nama Rizky itu mungkin harus menempuh jalan panjang untuk pengobatannya. Jalan panjang yang mungkin ia sendiri tidak tahu akan berujung kemana. Saya mengenalnya dari Ibu Paini, seorang perempuan berhati malaikat yang menolong Rizky dan Tuti, ibunya, tanpa memikirkan imbalan.
Diagnosa dokter menyebutkan Rizky menderita atresia esofagus. Rizky tidak memiliki saluran makanan langsung dari tenggorokan ke dalam lambung sehingga ia harus dibuatkan saluran sementara dengan memasang selang di dinding perutnya sebagai tempat untuk menyuntikkan susu. Selang itulah satu-satunya cara agar Rizky kecil dapat makan. Suatu hari, saya dan beberapa teman membawa Rizky konsultasi pada salah seorang dokter spesialis bedah anak di salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta. Penjelasan dokter tentang kondisi Rizky serta rangkaian panjang rencana pengobatan dan resiko terburuk yang harus dihadapi membuat saya tercekat.
Seakan semesta bekerja dengan seluruh konspirasinya, beberapa hari kemudian, Ibu Paini mengirimkan saya sms tentang kondisi Rizky. Jadwal operasi Rizky masih belum bisa ditentukan karena rumah sakit masih belum memiliki kamar kosong untuk Rizky.
Malam itu, memandangi bentangan langit yang gelap sepanjang tol cipularang, pikiran saya kembali pada Rizky. Saya tidak tahu akan sepanjang apa perjalanan yang harus ditempuh Rizky untuk bisa menikmati kehidupan "normal"nya. Saya juga tidak tahu berapa lama perjalanan yang harus ditempuh Rizky untuk rangkaian pengobatannya. Saya hanya bisa berdoa dalam hati, "Tuhan, tuntun Rizky dan mudahkan perjalanannya."
Sebelumnya saya pernah menuliskan tentang cerkita Rizky dan Ibu Paini (lihat di ; http://celotehayu.blogspot.com/2011/12/paini.html ). Memandangi panjangnya tol Cipularang, saat itu saya tahu bahwa saya memiliki arah dan tujuan. Saya tahu pasti kemana perjalanan saya akan berakhir, pulang, ke rumah, ke Jakarta, setidaknya itu yang saya tahu saat itu. Lalu kenapa saya tiba-tiba teringat Rizky? Bayi kecil yang saya kenal dengan nama Rizky itu mungkin harus menempuh jalan panjang untuk pengobatannya. Jalan panjang yang mungkin ia sendiri tidak tahu akan berujung kemana. Saya mengenalnya dari Ibu Paini, seorang perempuan berhati malaikat yang menolong Rizky dan Tuti, ibunya, tanpa memikirkan imbalan.
Diagnosa dokter menyebutkan Rizky menderita atresia esofagus. Rizky tidak memiliki saluran makanan langsung dari tenggorokan ke dalam lambung sehingga ia harus dibuatkan saluran sementara dengan memasang selang di dinding perutnya sebagai tempat untuk menyuntikkan susu. Selang itulah satu-satunya cara agar Rizky kecil dapat makan. Suatu hari, saya dan beberapa teman membawa Rizky konsultasi pada salah seorang dokter spesialis bedah anak di salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta. Penjelasan dokter tentang kondisi Rizky serta rangkaian panjang rencana pengobatan dan resiko terburuk yang harus dihadapi membuat saya tercekat.
Seakan semesta bekerja dengan seluruh konspirasinya, beberapa hari kemudian, Ibu Paini mengirimkan saya sms tentang kondisi Rizky. Jadwal operasi Rizky masih belum bisa ditentukan karena rumah sakit masih belum memiliki kamar kosong untuk Rizky.
Malam itu, memandangi bentangan langit yang gelap sepanjang tol cipularang, pikiran saya kembali pada Rizky. Saya tidak tahu akan sepanjang apa perjalanan yang harus ditempuh Rizky untuk bisa menikmati kehidupan "normal"nya. Saya juga tidak tahu berapa lama perjalanan yang harus ditempuh Rizky untuk rangkaian pengobatannya. Saya hanya bisa berdoa dalam hati, "Tuhan, tuntun Rizky dan mudahkan perjalanannya."
Rabu, 29 Agustus 2012
Berhitung
"Are you happy?"
Pertanyaan sederhana yang jawabannya sangat tidak sederhana. Menjadi semakin rumit karena setiap orang memiliki standar "bahagia" yang berbeda.
Sebagian dari kita, (mungkin) merasa bahagia ketika :
Di sekolah mendapat nilai bagus.
Saat kuliah mendapat IPK tinggi
Di kantor, dapat gaji tinggi dan bonus besar.
Di perlombaan, bisa menang di urutan pertama.
Ketika angka timbangan badan menunjukkan skala ideal.
Bahkan, dengan pasangan.. kita merasa bahagia saat selalu menjadi yang nomor satu.
Tanpa disadari, angka menjadi ukuran satuan kebahagiaan (setidaknya untuk saya saat ini).
Bahagia itu bukan angka. Kita yang mengontrol diri kita sendiri untuk menetapkan batas kebahagiaan kita, bukan sebaliknya. Ada yang pernah bilang ke saya, "hidup itu penuh perhitungan." Saya setuju, tapi perhitungan hidup bukan semata soal angka karena terlalu banyak hal lain yang kata dosen metodologi penelitian (metpen) saya dulu, "intangible", alias tidak terukur.
Hari ini saya bahagia, ketika duduk di depan mesjid menyaksikan beberapa siswa tunanetra bergandengan tangan sambil bercanda riang nyaris tanpa beban, jalan beriringan keluar dari mesjid. Saya bahagia melihat mereka sangat mandiri. Saya bahagia sekaligus malu dengan diri saya sendiri.
Dan saya bahagia ketika bisa menjawab mbak sales fitness center saat bertanya, "mau turun berapa kilo?", jawab saya, "saya mau hidup sehat, ini bukan tentang berapa banyak saya turun berat badan, tapi seberapa besar komitmen dan motivasi saya untuk tetap datang dan hidup sehat."
Bahagia itu bukan angka, karena kita bukan robot yang dikendalikan kode angka dalam menjalaninya.
"Are you happy?"
Pertanyaan sederhana yang jawabannya sangat tidak sederhana. Menjadi semakin rumit karena setiap orang memiliki standar "bahagia" yang berbeda.
Sebagian dari kita, (mungkin) merasa bahagia ketika :
Di sekolah mendapat nilai bagus.
Saat kuliah mendapat IPK tinggi
Di kantor, dapat gaji tinggi dan bonus besar.
Di perlombaan, bisa menang di urutan pertama.
Ketika angka timbangan badan menunjukkan skala ideal.
Bahkan, dengan pasangan.. kita merasa bahagia saat selalu menjadi yang nomor satu.
Tanpa disadari, angka menjadi ukuran satuan kebahagiaan (setidaknya untuk saya saat ini).
Bahagia itu bukan angka. Kita yang mengontrol diri kita sendiri untuk menetapkan batas kebahagiaan kita, bukan sebaliknya. Ada yang pernah bilang ke saya, "hidup itu penuh perhitungan." Saya setuju, tapi perhitungan hidup bukan semata soal angka karena terlalu banyak hal lain yang kata dosen metodologi penelitian (metpen) saya dulu, "intangible", alias tidak terukur.
Hari ini saya bahagia, ketika duduk di depan mesjid menyaksikan beberapa siswa tunanetra bergandengan tangan sambil bercanda riang nyaris tanpa beban, jalan beriringan keluar dari mesjid. Saya bahagia melihat mereka sangat mandiri. Saya bahagia sekaligus malu dengan diri saya sendiri.
Dan saya bahagia ketika bisa menjawab mbak sales fitness center saat bertanya, "mau turun berapa kilo?", jawab saya, "saya mau hidup sehat, ini bukan tentang berapa banyak saya turun berat badan, tapi seberapa besar komitmen dan motivasi saya untuk tetap datang dan hidup sehat."
Bahagia itu bukan angka, karena kita bukan robot yang dikendalikan kode angka dalam menjalaninya.
"Are you happy?"
Langganan:
Postingan (Atom)


