Kamis, 15 Desember 2011

PAINI




10 november diperingati sebagai hari pahlawan, tapi siapakah yang sebenarnya layak disebut pahlawan? Di abad 21 saat teknologi menjadi raja atas nama kemajuan jaman, barangkali taman makam pahlawan bukan lagi satu-satunya bukti apakah seseorang dapat disebut sebagai pahlawan atau bukan.

Namanya Paini, perempuan asal Wonogiri ini terlahir dengan kondisi kaki dan tangan yang tidak sempurna. Jari-jarinya tidak tumbuh seluruhnya dalam ukuran normal dan jalannya pun pincang. Kondisi fisiknya tersebut tidak lantas menjadikan Paini putus asa. Ia membangun usahanya untuk membuat aneka makanan kecil. Ia juga merekrut para penyandang cacat lain untuk bekerja bersama-sama. Mereka kemudian membuat usaha yang diberi nama “Kuber Penca” atau Kelompok Usaha Bersama penyandang Cacat. “Saya kasi mereka motivasi gini, saya cacat, ayo kamu yang cacat juga bisa. Kita buktikan kalo yang i cacat mampu,” kata Paini.

Di rumah kontrakannya yang kecil, ia membina para penyandang cacat ini untuk membuat aneka panganan ringan untuk kembali dijajakan keliling ke warung-warung. Setiap harinya Paini berkeliling dengan sepeda motor yang sudah disulapnya mirip dengan mobil bak semi terbuka untuk membawa seluruh barang dagangannya.



Selain membuat beberapa panganan, dengan modal satu buah mesin jahit Paini juga membuat jilbab berhias untuk dijual kembali. Hampir seluruh pekerjanya adalah para penyandang cacat. Namun, mereka tak lepas menyunggingkan senyum menunjukkan semangatnya.

Kondisi ekonomi terbatas tidak menyurutkan Paini untuk membantu orang lain. Suatu hari, tukang sayur yang kerap lewat di depan rumahnya mengenalkan Paini dengan Tuti, perempuan yang tengah hamil muda. Paini tidak mengenal latar belakang Tuti, selain dari cerita-ceritanya.

Tuti yang saat itu tengah hamil tiga bulan pun nekad ke Jakarta untuk mencari suaminya. Anak pertamanya ditinggalkan di Purwodadi bersama orangtua Tuti. Tanpa pikir panjang, Paini menerima Tuti untuk bekerja di rumahnya. Pertimbangannya sederhana, Tuti dapat membantu Paini untuk urusan rumah tangga sehari-hari sambil tetap mencari alamat suaminya. Setelah Tuti melahirkan, Paini juga tidak berkeberatan untuk ikut mengasuh anak Tuti, “pikir saya ya udah dirawat aja sama-sama, kan gampang,” ujarnya sederhana.

Manusia berkehendak, Tuhan yang menentukan. Bayi Tuti dilahirkan dengan kondisi yang kurang sempurna. Hasil pemeriksaan dokter menyebutkan diagnose : laringomalasia grade 1, suspek stenosis supraglottis, pasca trakeostomi, atresia esophagus pasca esofagotomi, torakotomi dan gastrostomi, gizi buruk marasmik. Rizky Ramadhan, bayi kecil itu harus menanggung serangkaian diagnosa yang bahkan sulit diucapkan tersebut. “Saya harus menghafal diagnosanya, jadi bisa jelaskan ke orang-orang yang tanya,” jelas Paini dengan lugu.

Gambaran kondisi Rizky sebenarnya adalah saluran makanan dan saluran nafas yang tidak terbentuk dengan sempurna. Rizky tidak memiliki saluran makanan langsung dari tenggorokan ke dalam lambung sehingga ia harus dibuatkan saluran sementara dengan memasang selang di dinding perutnya sebagai tempat untuk menyuntikkan susu. Selang itulah satu-satunya cara agar Rizky kecil dapat makan. Saluran ini pun harus dijaga kebersihannya sehingga tidak menimbulkan infeksi. Suatu hari Rizky demam dan pemberian obat penurun panas berupa puyer pun dicoba dimasukkan dengan cara disuntik di saluran makan tersebut. Apa daya yang terjadi adalah penyumbatan sehingga Rizky segera dilarikan ke rumah sakit. Bayangkan betapa kecilnya saluran makan sementara yang dimiliki RIzky, hingga hanya benda cair yang dapat masuk sebagai asupan makanannya.



Di tenggorokan Rizky, dokter membuatkan saluran untuk membantunya bernafas. Jika anda pernah melihat pasien di rumah sakit dalam kondisi kritis yang menggunakan selang nafas di tenggorokannya, seperti itulah kondisi Rizky. Setiap dua hari sekali Rizky harus melakukan penguapan untuk saluran pernafasannya agar tetap steril.

Rizky yang kini baru mulai bisa berjalan ini pun harus berkali-kali menghadapi meja operasi. Dokter bahkan memperkirakan setidaknya ia membutuhkan 14 kali operasi untuk membuat saluran nafas dan saluran makan yang sempurna. Seluruh operasi itupun bukan tanpa biaya. Lagi-lagi Paini harus memutar akal agar biaya perawatan Rizky dapat dipikulnya. Paini memasukkan Tuti dan RIzky ke dalam kartu keluarganya sehingga mereka dapat memperoleh jaminan kesehatan sebagai warga miskin. Namun, sebelum jaminan kesehatan warga miskin bisa mereka peroleh, mereka sudah terbelit hutang lebih dari 49 juta di rumah sakit untuk biaya awal saat RIzky persalinan dan tindakan operasi awal.

“Saya bagi tugas sama Tuti. Dia (Tuti, red) yang urus RIzky, saya yang urus cari biayanya,” ujar Paini dengan penuh keriangan nyaris tanpa beban. Kini, sekalipun jaminan kesehatan warga miskin sudah diperolehnya, Rizky tetap membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pengeluaran rutin susu, diapers, kapas dan kasa adalah keperluan yang tidak boleh kosong sedikitpun. Tambahkan juga obat-obatan yang harus dibelinya. Biaya transportasi ke rumah sakit juga tidak kecil, karena nyaris tiga kali setiap minggunya Paini harus membawa Rizky check up ke rumah sakit.

“Pak, Paini dlm kesulitan. Anak kami mau ada operasi ke 4, saya masih punya hutang 49 juta, tolong saya pak, saya tidak sanggup pikul bebannya sendirian.”


Penggalan sms itu adalah sms Paini di suatu pagi pada seorang teman yang kemudian di forward kepada saya, tepat di hari pahlawan. Keputusasaan dan ketulusan Paini yang tercurah dalam sms mengantarkan kami hingga ke rumah sederhananya di Bekasi. Paini yang kami temui tidak sedikitpun menampilkan gurat kesedihan. Sebaliknya ia tampak bersemangat untuk terus berusaha demi kesembuhan Rizky. Lalu siapakah sekarang yang dapat kita sebut sebagai pahlawan?




Note : Sahabat, jika berkenan untuk membantu Ibu Paini, dapat menghubunginya langsung.

Alamat : Belakang kelurahan Bojong Menteng, Rt 01/ Rw 03, Rawa Lumbu, Bekasi Kota, samping pabrik kecap Sari Sedap. Telp : 081383059609

Atau donasi langsung ke :
BRI unit Bantar Gebang, nomor rekening : 0861-01-028589-53-5, a/n Paini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar