Minggu, 19 Juni 2011

PAHLAWAN DAN IDOLA ALA YOUTUBE

“ayo dong, coba om kasih tahu gimana gayanya keong racun,”

“sini ibu yang nyanyi yah…. dasar kau keong racun…. Baru kenal sudah ngajak tidur…”

“ayo dong tangannya gimana? Kepalanya goyang-goyangnya gimana?”



Seorang ibu dengan semangat ingin menunjukkan gaya goyang Keong Racun dari putri kecilnya yang baru berumur 4 tahun. Si anak mendadak diam dan bergeming sesaat setelah pria yang disebut om datang dan ingin melihat gaya goyangnya. Si Ibu ingin menunjukkan betapa berbakatnya si anak karena dapat mengikuti gaya goyang keong racun ala Shinta dan Jojo.

Nama Shinta dan Jojo mendadak tenar beberapa bulan belakangan. Mereka dikenal karena gaya lypsinc dari lagu Keong Racun yang dipublikasikan melalui youtube. Shinta dan Jojo menjelma menjadi selebriti kondang yang selalu menghiasi TV. Sebenarnya, mereka banyak tampil dalam program infotainment. Akan tetapi karena frekuensi infotainment melebihi frekuensi minum obat, maka wajah mereka hampir tidak pernah absen. Belum lagi, mereka juga tampil sebagai mdoel iklan sebuah produk makanan. Maka demam Shinta-Jojo pun tak terelakkan lagi. Infotainment merekam seluruh kegiatan mereka, termasuk kebiasaan mereka memasak sendiri mie instant di kamar kos. Berbagai acara TV mengundang mereka tampil sebagai narasumber, mulai dari program dialog hingga program musik. Mereka pun kemudian memiliki sebuah lagu, diciptakan khusus oleh seorang pemusik. Tidak tanggung-tanggung, mereka juga mendapat beasiswa dari universitas tempat keduanya berkuliah. Kalau sebelumnya nama Shinta dan Jojo hanya nama biasa, kini saat kedua nama ini digabungkan, seantero negeri mengenalnya dengan gaya joget khas.

Baru reda demam Shinta-Jojo, negeri ini kembali diguncang keriaan baru dari seorang polisi bernama Briptu Norman. Tingkah polahnya menirukan joget india yang direkam dan dipublikasikan melalui youtube, mengundang berbagai komentar. Beberapa pihak mempertanyakan aksi Briptu Norman yang sedang bertugas tetapi merekam joget india-nya tersebut. Beberapa pihak mempertanyakan piercing yang tampak digunakannya. Si empunya wajah dalam video itu sendiri pada awalnya ketar-ketir. Namun, tanpa disangka-sangka, sanksi yang diberikan berupa bernyanyi dihadapan barisan rekan-rekannya dan disiarkan oleh berbagai stasiun TV, justeru mendapat sambutan meriah dari seluruh masyarakat. Tidak tanggung-tanggung, Briptu Norman dipanggil ke Jakarta, bertemu dengan Kapolri, dan mendapatkan “ijin“ ataupun “perintah untuk seolah-olah menjadi “duta seni” polisi, memberikan citra yang baik terhadap polisi, akrab dengan masyarakat.

Demam Shinta-Jojo pun beralih menjadi demam Briptu Norman. Lebih dari satu minggu, sang Briptu melakukan safari pada berbagai acara. Sepanjang perjalanan sang Briptu kerap dikawal oleh atasannya, sebuah pengawalan super istimewa yang mungkin baru kali ini dilakukan.

Setiap hari, wajahnya menghiasi layar kaca, melalui infotainment, acara talkshow, panggung musik, reality show, hingga acara dialog/talkshow. Tidak tanggung-tanggung, dalam kunjungan singkat sekitar dua minggu di ibukota, sang Briptu pun telah menghasilkan sebuah single / lagu, lengkap dengan video klip. Para produser pun menanti kembalinya sang Briptu ke ibukota untuk melakukan kontrak sinetron dan sebagainya, dengan nilai kontrak yang cukup fantastis.

Sihir sang Briptu pun seolah tak berhenti sampai disitu. Dalam salah satu adegan di tayangan infotainment, sang Briptu keluar dari balkon apartemen menyapa para penggemarnya yang menanti di bawah. Adegan yang persis sama seperti saat Obama menyapa warga Amerika dari balkon gedung Putih seusai pengucapan sumpah jabatannya. Briptu Norman pun kembali bernyanyi dan berjoget India khas seperti yang dilakukannya dalam video.

Dua minggu roadshow di Ibukota, sang Briptu kembali ke Gorontalo. Kali ini penyambutannya luar biasa meriah, layaknya pahlawan kembali dari medan perang dan berhasil merebut satu wilayah. Kendaraan lapis baja dikerahkan untuk menjemput dan mengarak sang Briptu keliling kota. Spanduk besar ucapan selamat datang dibentangkan lebar sepanjang jalan. Masyarakat berbondong-bondong menyambut di pinggir jalan. Seluruh pejabat menyambut dengan penuh hormat. Kekasihnya yang belakangan diketahui media tidak luput dari wawancara dan kilatan kamera. Dan Sang Briptu terus mengembangkan senyum.

Jauh sebelum Shinta-Jojo dan Briptu Norman dikenal, kita dikenalkan dengan nama Justin Bieber. Lagi-lagi, ia ditemukan melalui videonya di youtube saat tampil dalam kompetisi Stratford Star. Demam Bieber segera melanda anak-anak muda di seluruh negara dan dikenal dengan nama Bieber Fever. Pengikut (follower) Justin Bieber dalam twitter melalui account @justinbieber melebihii angka 9juta. Film biografi pertamanya bertajuk Never Say Never dirilis pada februari 2011. Patung lilinnya juga sudah menghiasi museum Madame Tussauds, London. Sekarang, demam Justin Bieber yang kembali melanda. Penyanyi belia asal Canada yang baru genap berusia 17 tahun pada 1 maret lalu ini, akan menggelar konsernya di Jakarta. Dalam konsernya nanti, para fansnya berencana mengenakan kostum dengan dresscode warna ungu, warna favorit sang idola.

Demam Shinta-Jojo, Demam Briptu Norman ataupun Bieber Fever seakan mengingatkan kita, apakah kita sudah kehabisan pahlawan? Apakah kita sudah tidak lagi sensitif dan peka untuk memberikan penghargaan terhadap sebuah keberhasilan?

Kemana kita saat para atlet pulang bertanding dan membawa medali ? Kenalkah kita pada anak-anak pemenang olimpiade? Ataukah, seharusnya anak-anak pemenang olimpiade itu merekam sesuatu dan mempublikasikannya melalui youtube terlebih dulu, baru kemudian mereka kembali ke tanah air.

Bukan youtube atau media nya yang bersalah dan mempopulerkan mereka. Akan tetapi bagaimana kita merespon suatu hal dan memberikan penilaian atas hal tersebut. Mungkin kita terlalu lelah terus-menerus dijejali informasi mengenai korupsi, penyalahgunaan jabatan, penipuan, penyelewengan kekuasaan militer, dan banyak informasi negatif lainnya.

Bukan pula salah Shinta-Jojo ataupun Briptu Norman, kalau mereka menjelma bak idola dan super hero. Mungkin kita kehabisan berita mengenai contoh perilaku yang baik dan layak mendapatkan penghargaan. Hingga dengan penuh keriangan kita memberikan penghargaan berlipat ganda pada mereka yang tampil menghibur, padahal kita berharap dalam keputusasaan tentang mereka yang dapat menjadi teladan.



I was born to be somebody.
Ain't nothing that's ever gonna stop me.

-Born to be somebody, Justin Bieber-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar