Senin, 17 Juli 2017

The story has just begun


"Assalammualaikum.."

Sepenggal salam adalah pembuka, penanda atas kehadiran, saat bertamu, ataupun saat akan memulai sesuatu.  Salam itu pula yang menjadi pembuka cerita kita. Salam yang menandai awal segalanya. Berawal dengan salam, sapaan, perkenalan, percakapan yang mengalir, hingga sebuah kesepakatan untuk belajar berjalan bersama, memulai sebuah cerita, tentang kita.

Salam itu juga yang mulai membuka hati kita. Belajar untuk melihat dengan lebih bijak tentang apa yang dicari dan apa yang sebenarnya diperlukan. Salam yang perlahan menumbuhkan rasa percaya, perasaan nyaman dan keyakinan untuk berjalan bersama, menempuh perjalanan yang baru.

Cerita perjalanan kita mungkin belum terlalu lama, pun tidak sebentar. Karena tidak pernah ada takaran tentang waktu, ukuran lama dan sebentar perjalanan yang sedang dan akan kita lalui kelak.

Perjalanan ini baru saja dimulai, seperti janin yang baru berusia empat bulan di kandungan ibu, saat  ruhnya mulai ditiupkan. Berbagai organ mulai terbentuk menandai kehidupannya dalam rahim. Begitupun perjalanan kita, seperti janin yang mulai hidup dan terus bertumbuh menandai kehidupannya. Bentuk perhatian dan ungkapan perasaan seperti organ yang tumbuh menandai hidupnya perjalanan ini.

Organ janin dalam rahim ibu memerlukan asupan yang cukup untuk dapat terus tumbuh. Seperti tanaman yang membutuhkan air dan pupuk untuk memungkinkannya hidup. Demikian pula perjalanan kita. Jaraknya mungkin belum terlampau jauh, dan tidak akan selalu mudah. Kerikil, batu ataupun rintangan sangat mungkin akan ditemui. Namun, semoga doa-doa, harapan, rencana-rencana dan itikad baik yang kita miliki untuk bersama menempuh perjalanan ini akan menjadi pupuk dan air yang selalu menjaga tanaman untuk hidup. Semoga kaki-kaki kita tidak kelelahan untuk terus berjalan bersama. Pun jika kita merasa lelah, kita akan selalu ingat bahwa kita akan selalu memiliki bahu untuk bersandar dan bergandengan tangan untuk tetap saling menjaga, sepanjang perjalanan.

Semoga Yang Maha Berencana selalu menuntun kita di setiap langkah dengan kebaikan dan keberkahan yang berlimpah

Semoga Yang Maha Pengasih selalu melembutkan hati kita untuk selalu saling mengasihi dan saling menjaga

Semoga Yang Maha Bijaksana selalu menjernihkan pikiran kita hingga dapat saling mengingatkan dalam kebaikan

Semoga Yang Maha Besar selalu memampukan kita untuk tetap kuat berjalan bersama, hingga di ujung waktu.

Dan cerita kita baru saja dimulai....



*170717* AW | WA

Selasa, 16 Agustus 2016

Kaca Pembesar Yang Membesarkan Hati



Outing kantor kali ini mewajibkan setiap karyawan untuk menggunakan dress code saat acara makan malam di malam terakhir. Tidak tanggung-tanggung, dress code yang diminta adalah “agent” atau “superhero”,  senada dengan tema acara “agent of change”.  Semua orang berpikir keras untuk mengekspresikan dirinya melalui dress code tersebut. Dengan pertimbangan keterbatasan waktu, kemudahan dan kenyamanan berpakaian, akhirnya saya menggunakan kostum ala Sherlock Holmes. Baju dan coat semua ada, hanya modal topi khas Sherock Holmes yang dikenal dengan nama deerstalker cap, yang akhirnya saya beli online. Soal senjata, detektif Sherlock Holmes cukup menggunakan kaca pembesar, sederhana dan ramah lingkungan.

Topi Sherlock Holmes yang super keren ini hasil belanja online :)

Secara penampilan, sebenarnya tidak ada yang spesial dengan kostum Sherlock Holmes. Diantara semua perlengkapan tersebut, kaca pembesar yang saya temukan kembali di rrumah menjadi sangat spesial untuk saya. Kaca pembesar ini dibeli almarhum Bapak sekitar 14 tahun lalu, untuk membaca pengumuman ujian masuk perguruan tinggi negeri (waktu itu namanya SPMB, dan sekarang namanya SBMPTN)

Saya masih ingat dengan jelas, hari kelulusan itu. Sebenarnya hari itu saya merasa kesal dengan Bapak. Pengumuman SPMB sudah dapat diakses online sejak jam 00.00. Waktu itu di rumah kami tidak ada akses internet, sehingga saya berharap malam itu Bapak bisa mengantar saya ke warnet untuk melihat pengumumannya. Sayangnya, sebagai pemadam kebakaran, hari itu bersamaan dengan giliran hari tugasnya. Jadwal tugas Bapak adalah satu hari kerja (full 24 jam) dan satu hari libur. Saya sempat meminta Bapak untuk tidak masuk kerja sehingga bisa menemani saya ke warnet, tapi beliau tetap pergi kerja sesuai panggilan tugasnya. Saat itu saya merasa kesal, bahkan marah karena merasa Bapak tidak peduli.

Saya pun tidak bisa tidur semalaman hingga akhirnya pagi jam 5.30 saya memberanikan diri pergi sendirian ke warnet dekat rumah. Sialnya, karena se-Indonesia raya mengakses website pengumuman SPMB pada saat yang bersamaan, maka akses website pun semakin lambat. Setelah cukup bersabar karena tak kunjung berhasil membuka laman pengumuman, akhirnya sekitar jam 7 pagi, saya pun pulang dengan tangan kosong dan masih dengan rasa penasaran.

Berbagai perasaan berkecamuk saat itu, karena saya masih belum tahu hasil ujian saya apakah diterima atau tidak. Semakin gelisah, karena saya sangat berharap dari hasil ujian ini. Sampai di rumah, saya pun dikejutkan dengan kehadiran Bapak yang sedang duduk bersantai di teras rumah sambil minum teh, memegang koran berisi pengumuman SPMB dan sebuah kaca pembesar untuk membaca. Dengan santai, Bapak menegur saya, “gak bisa kan lihat di internetnya, sini lihat di koran aja, Bapak gak bisa bacanya, hurufnya kekecilan,” katanya sambil menyerahkan koran dan kaca pembesar ke tangan saya. Saya pun langsung membuka lembar demi lembar dan berusaha mencari nomor ujian saya, tentunya dengan jantng yang masih berdegup kencang, harap-harap cemas untuk melihat nomor ujian saya. Beruntung ternyata saya dinyatakan lulus, untuk pilihan ke dua, Psikologi. Rasa bahagia saat itu langsung melunturkan semua kekesalan saya kepada Bapak.

 Kaca pembesar yang usianya sudah 14 tahun

Saya masih ingat jelas gurat bahagia dan kebanggaan Bapak saat membaca pengumuman, bahkan beliau sendiri kemudian menstabilo nomor ujian saya yang tertera di koran. Komentar singkatnya saat itu juga membesarkan hati saya, “tuh kan bisa, lulus SPMBnya, gak apa-apa di pilihan kedua. Kalau gak suka atau gak cocok, tahun depan boleh coba lagi.” Bapak sangat tahu saya sempat ragu manakala beliau meminta saya tetap berkuliah di Jakarta yang berarti harus memilih UI untuk dua pilihan jurusan yang saya ambil. Setelah peristiwa kelulusan itu, Bapak masih menyimpan rapi potongan koran berisi nomor kelulusan ujian dan juga kaca pembesarnya. Katanya, “ini buat kenang-kenangan, disimpan.”

Empat belas tahun kemudian, saat mencari perlengkapan kostum sebagai detektif Sherlock Holmes, saya kembali menemukan kaca pembesar yang dulu kami gunakan untuk mencari nomor ujian tanda kelulusan SPMB. Kaca pembesar yang hanya sekali saya gunakan, di salah satu peristiwa terpenting dalam hidup saya. Kaca pembesar yang harganya mungkin (saat itu) tidak lebih dari seratus ribu rupiah, tapi sekarang nilainya sangat tinggi untuk saya. Kaca pembesar yang bukan hanya membantu untuk melihat huruf menjadi lebih jelas, tetapi membantu saya untuk melihat lebih jelas betapa sebenarnya Bapak sangat peduli dan perhatian bahkan terhadap hal detail dengan memperhitungkan berbagai kemungkinan. Kaca pembesar yang membantu saya melihat lebih jelas besarnya cinta bapak kepada saya. Maafkan saya yang membutuhkan waktu terlalu lama untuk dapat melihat betapa kaca pembesar itu tidak hanya berfungsi sesuai fisiknya, tetapi sebenarnya telah membesarkan hati kami melihat hal-hal kecil menjadi lebih indah.  

Minggu, 10 Juli 2016

SABTU BERSAMA BAPAK




Setahun lalu, saya membaca bukunya. Awalnya sebuah ketidaksengajaan, menemukan buku ‘Sabtu Bersama Bapak’ disalah satu rak buku Gramedia. Seperti kebiasaan saya selama ini, mencoba mengintip isi buku, mulai dari membaca sinopsis di halaman belakang. Lalu mencari sample buku yang sudah dibuka. Setelah membaca synopsis, saya pun mulai membuka lembar pertama, dan air mata saya sudah langsung mengembang. Karena kuatir malu dilihat banyak orang, akhirnya saya pun langsung membawa buku itu ke kasir untuk membayar, bergegas keluar toko buku, mencari restaurant terdekat dan melanjutkan membaca. Air mata saya kali ini mengalir deras. Saya menyelesaikan bacaan itu hanya dalam beberapa jam. 

Tahun ini, film Sabtu Bersama Bapak dirilis. Saya sudah sejak lama menantikannya. Bukan sekedar penasaran dengan akting para pemainnya, tetapi juga bagaimana visualisasi nilai dan pesan yang disampaikan Bapak melalui buku menjadi film. Menyaksikan trailernya saya pun merasa deg-degan, seperti menantikan sebuah kelahiran. Bahkan saya sempat khawatir setelah menyaksikan filmnya, saya akan keluar dengan mata sembab.

Sebelum menonton, saya membebaskan diri saya dari berbagai detail ingatan cerita dalam buku. Saya tidak ingin kenikmatan saya menyaksikan film ini terganggu dengan kritik menyamakan isi buku dan film. Bagaimanapun juga film dan buku adalah dua medium yang sangat berbeda dalam menuangkan sebuah cerita. Menyaksikan Sabtu Bersama Bapak, saya tidak menyangka bahwa saya akan lebih banyak tersenyum, bahkan tertawa, walaupun masih menitikkan air mata. Saya pun keluar bioskop dengan bahagia.

Sabtu Bersama Bapak adalah cerita sederhana tentang sebuah keluarga yang mencoba untuk berdiri tegak tanpa kehadiran sosok Bapak (Abimana Arya Satya). Bapak yang dikisahkan menderita kanker harus meninggalkan anak-anaknya yang saat itu masih usia SD. Bapak pun tidak ingin meninggalkan keluarganya dalam kesusahan, maka ia menyiapkan segala sesuatunya untuk keluarga kecilnya tersebut. Usaha restaurant ibu Itje, istrinya, sudah direncanakan dan didukung Bapak sejak beliau masih sehat. Bapak bahkan menyiapkan beberapa rekaman video untuk kedua anaknya, Satya dan Cakra, untuk disaksikan setiap hari sabtu. Semua pesan yang ingin disampaikan Bapak direkam dalam video menemani dan mengantarkan anak-anaknya tumbuh dewasa. Bahkan Bapak menyimpan satu pesan khusus yang baru dapat disaksikan jelang pernikahan anak laki-lakinya tersebut.

Konflik pun mulai terjadi di rumah tangga Satya (Arifin Putra) yang tinggal nun jauh di Perancis. Satya yang perfeksionis dan sangat terencana, menginginkan segala-sesuatunya sempurna. Anak-anak yang pandai matematika, tidak nakal, istri yang pintar memasak dan menjaga anak-anak. Satya menjadikan Bapak sebagai role model, dan menelan utuh semua pesan Bapak. Tidak ada yang salah, hanya saja ada beberapa hal yang ia juga lupa untuk menerapkannya. Pada akhirnya, sosok Bapak dan pesan-pesannya juga yang kembali menuntun Satya “kembali”  ke tengah keluarga kecilnya.

Sedangkan si bungsu Cakra (Deva Mahenra), sibuk dengan pekerjaannya dan terus menjomblo. Muda, tampan, sukses, mapan, jomblo, tapi kaku pada wanita. Awalnya Cakra jatuh hati pada salah seorang rekan kantornya. Tapi ke-kaku-an Cakra saat pendekatan hingga ia pun kalah langkah dari rekan kerjanya yang lain, meskipun sudah dibantu segala cara oleh anak buah Cakra (Ernest dan Jennifer Arnelita). Akhirnya Cakra pun menuruti keinginan Mama (Ira Wibowo) untuk dikenalkan dengan salah seorang anak teman Mama. Ternyata semesta bekerja, gadis yang ditaksi Cakra di kantor adalah gadis yang sama yang ingin dikenalkan Mama. Perjuangan menemukan pasangan Cakra ditampilkan dengan sangat kocak dan menghibur, berpadu apik dengan berbagai penuturan tentang nilai-nilai yang ditanamkan Bapak tentang pasangan hidup.


“Membangun sebuah hubungan itu membutuhkan dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing. Bukan tanggung jawab orang lain.”


Sabtu Bersama Bapak adalah hiburan yang inspiratif. Akting para pemainnya terasa cukup natural dan mengalir, terutama tim Cakra. Berbagai celetukannya pun terasa hidup. Sebenarnya melihat deretan nama besar dalam film itu menjadikan acting mereka tidak perlu diragukan lagi. Berbagai penyesuaian cerita pun dilakukan. Sekali lagi, film dan buku adalah dua medium yang berbeda, sehingga perlu dilakukan berbagai penyesuaian dalam visualisasi cerita. Dalam buku penjelasan sangat detail. Sementara film, ada visual gambar yang dapat menjelaskan tanpa perlu narasi atau kata-kata.    

Barangkali terdengar berlebihan, tetapi Sabtu Bersama Bapak memiliki arti khusus untuk saya. Delapan tahun lalu saya kehilangan Bapak. Saya bersyukur disaat menjelang kepergian Bapak, kami masih diberi waktu, kesempatan untuk menyiapkan diri untuk sebuah kehilangan. 29 hari selama Bapak dirawat di ICCU, setiap hari kami mempersiapkan diri untuk hal paling buruk yang mungkin terjadi.

Bapak saya mungkin tidak meninggalkan pesan yang direkam dalam video seperti Bapak (Pak Garnida dalam Sabtu Bersama Bapak). Tapi bapak meninggalkan pesan dengan caranya sendiri. Seperti Bapak yang menekankan pada keluarganya betapa pentingnya sebuah perencanaan, bapak pun mencontohkan langsung kepada kami, betapa beliau sangat terencana untuk pendidikan anak-anaknya. Bapak saya mungkin tidak banyak berkata-kata, tetapi seperti juga Bapak, beliau mencontohkan bagaimana kami harus menjadi kuat dan saling mendukung, saling menjaga, memberikan dan menjadi yang terbaik untuk keluarga. Kami pun tahu, sekalipun bapak tidak lagi hadir secara fisik, tetapi bapak akan selalu ada bersama kami, dalam hati, pikiran dan ingatan kami. 

Alfatihah..

Terimakasih untuk tulisan dan filmnya yang indah Sabtu Bersama Bapak.Walau telah tiada, bapak akan selalu ada.


Selasa, 02 Februari 2016

Cerita Selembar Postcard



Masih ingat pelajaran bahasa Indonesia tentang tata cara menulis pesan telegram? Cpt plg koma bpk sakit ttk hbs (baca : cepat pulang, bapak sakit.). Mungkin cara penulisan telegram ini adalah cikal bakal penulisan berbagai singkatan di sms, bbm, whatsapp dan berbagai jalur komunikasi digital belakangan ini. Kalau anda masih mendapatkan pelajaran menulis telegram, mungkin kita berada di generasi yang sama dan dibesarkan dengan kurikulum pendidikan yang sama. Saya masih ingat dulu saat kakek sakit keras ada telegram yang dikirimkan ke rumah dan meminta keluarga untuk segera datang. Saat ini pesan darurat via telegram kalah cepat dengan pesan digital melalui aneka aplikasi di telepon pintar.
gambar diambil dari dari sini

Dulu berkirim surat atau kartu ucapan melalui jasa pos adalah hal yang biasa. Berkirim surat dengan teman yang melanjutkan sekolah di luar daerah atau luar negeri. Cerita tentang sekolah dan kebiasaan baru, pelajaran yang berbeda, guru yang dibenci dan guru favorit, kakak kelas yang jadi idola, gebetan dan pacar, semuanya dituangkan dalam cerita berlembar-lembar surat berperangko. Saya sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali mengirimkan surat (informal, bukan surat resmi untuk urusan pekerjaan). 

Sampai dengan SMP saya masih rutin mengirimkan kartu lebaran via pos. Ada sensasi deg-degan setiap kali Pak Pos lewat dan berhenti, lalu memberikan kiriman kartu. Ada perasaan kompetitif kalau jumlah kartu lebaran yang diterima tidak sebanyak teman lain. Ada perasaan kesal kalau orang yang kita kirimkan kartu lebaran ternyata tidak mengirimkan kartu lebaran balasan. Sekarang kemajuan teknologi dan desain memungkinkan kartu lebaran dikirimkan dalam bentuk surat digital melalui email. Selain lebih murah karena tidak ada biaya kirim tentu juga lebih mendukung kampanye Go Green yang belakangan ini banyak digaungkan.


 gambar diambil dari sini

Kecanggihan teknologi saat ini menjadikan perangko semakin tidak dikenal. Atau mungkin beberapa diantara kita sampai sulit membedakan antara perangko dan materai. Beberapa waktu lalu, salah seorang teman kantor bercerita kalau ia baru saja salah memberikan meterai ke anaknya, manakala si anak diminta untuk membawa perangko. Komentar teman kantor tersebut cukup menggelitik, “kemarin anak gw ternyata gw bawain meterai, gurunya sms nanyain kenapa dibawain meterai padahal dimintanya perangko. Gw sampai gak ngeh sama perangko, udah lama kan kita gak pernah pakai perangko.” Perangko mungkin sudah menjadi benda yang tidak lazim saat ini, terutama di kota besar seperti Jakarta. Bukan hanya karena berbagai jasa kurir yang bermunculan menawarkan jasa pengiriman lebih cepat dan tentu saja tanpa perangko. Tetapi juga karena kebiasaan berkirim surat yang sudah semakin berkurang, kalau tidak dapat dikatakan hilang.

Ah… saya rindu berkirim surat. Kerinduan yang mengantarkan saya pada hobi mengirimkan postcard. Meminta dikirimkan postcard lebih tepatnya, karena frekuensi mengirimkan jauh lebih sedikit daripada menerima. 

Setiap kali ada teman yang bepergian saya selalu meminta untuk dikirimkan postcard alih-alih meminta oleh-oleh (walaupun tetap tidak menolak tawaran oleh-oleh). Demikian pula jika saya yang bepergian, saya selalu mengirimkan postcard untuk saya sendiri, dengan catatan yang ingin saya ingat dari perjalanan tersebut. Sangat menyenangkan karena bukan hanya sensasi mengirimkan dan menerima suratnya tetapi juga sensasi ingatan tentang kejadian, orang-orang yang ditemui dan tempat-tempat yang dikunjungi.


 

Postcard dari Mostar, Bosnia kirman dari Penulis Negeri 5 Menara, Ahmad Fuadi  

Beberapa postcard saya terima dari tempat yang tidak terduga, misalnya Bosnia Harzegovina. Saya bahkan tidak pernah membayangkan akan berkunjung ke daerah tersebut dan hanya membaca tentang nama Bosnia di berita tentang perang. Beberapa postcard dikirimkan dari tempat-tempat yang memang ingin saya kunjungi suatu hari nanti, sehingga postcard ini pun menjadi pengingat dan penguat untuk rencana-rencana tersebut.



  Postcard yang dikirimkan Nurul sahabat saya, saat perjalanan ke Santorini



Saya tentu harus berterimakasih kepada sahabat-sahabat saya yang sudah berbaik hati menjadi kontributor yang setia mengirimkan postcard dalam setiap perjalanannya, tugas ataupun liburan. Beberapa orang sahabat bahkan sudah hafal, tanpa diminta sudah dengan sukarela mengirimkan postcard untuk saya :) Pengirim postcard paling mungil adalah Daryl (9th) putra salah seorang rekan di kantor. Daryl pun sempat bertanya-tanya kenapa dia harus mengirimkan postcard, "Why we should send Tante Ayu a postcard? why don't send her an email?", dan sang ibu pun harus dengan cermat menjelaskan alasannya.



Postcard kiriman Daryl dari liburannya ke Amerika 


Postcard yang saya kirimkan untuk diri sendiri biasanya saya tuliskan tentang insight sepanjang perjalanan. Saya bahkan sangat menikmati untuk menuliskan catatan singkat di lembaran postcard yang akan saya kirimkan. Sebagai pengingat tentang perjalanan yang dilakukan dan emosi yang dirasakan.
 

 Postcard yang dikirimkan dari perjalanan di Malaysia 

 


  Postcard yang dikirimkan dari perjalanan di Manchester


Seringkali saya mengirimkan lebih dari satu postcard dalam setiap perjalanan. Biasanya saya bisa mengirimkan 2-3 postcard dari satu tempat. Tidak ada alasan khusus mengenai jumlahnya, tapi biasanya hal ini terjadi karena saya kesulitan untuk memilih postcard mana yang akan dikirimkan, sehingga saya membeli dan mengirimkan beberapa postcard sekaligus :) 

Sangat menyenangkan rasanya setiap kali menerima postcard, bahkan saat menerima postcard yang dikirimkan untuk diri sendiri. Mungkin berlebihan, tapi rasanya sebagian diri saya ikut kembali menikmati perjalanan tersebut. Postcard tidak lagi berarti selembar kertas bergambar, tapi postcard menjadi lembaran penuh cerita dan emosi berbungkus kenangan dalam sebuah perjalanan.

Rabu, 30 Desember 2015

Coretan Baru

Senang rasanya bisa kembali mengisi halaman blog ini, setelah berkutat dengan pasword dan email yang digunakan untuk dapat mengakses blog ini. Ternyata saya punya email lain yang berisi 5 blog lain yang tidak aktif, dan 2 blog dengan email yang sama dengan email yang digunakan untuk blog ini, hhhmmmm... Pertimbangan efektivitas dan efisiensi, akhirnya kelima blog yang tidak aktif itu sudah dihapus seluruhnya, dan juga satu blog lain dengan akses email yang sama dengan blog ini. Jadi, saya akan memulai 2016 dengan hanya SATU blog dan akan kembali berkomitmen untuk menulis.

Saat menghapus beberapa blog yang pernah saya buat rasanya seperti saya merapikan sebagian sisi hidup saya. Tulisan di blog menjadi representasi sebagian diri saya. Sebagian karena tidak keseluruhan rasa, emosi dan kejadian yang bisa saya tuliskan. Tidak bisa dituliskan karena tidak sempat, tidak mau, tidak bisa mengungkapkan dan juga kemalasan.

Membaca ulang tulisan lama rasanya seperti menjelajah waktu. Melihat kembali apa yang sudah saya lalui dan mengingatnya kembali seperti dejavu melalui sebuah tempat di masa lalu. Beberapa diantaranya bahkan masih memberikan kesan yang sama seperti saat pertama kali menuliskannya.

Blog ini bukan representasi saya sepenuhnya, dan semoga justifikasi ini bukan defense menchanism yang saya lakukan. Tidak sepenuhnya representasi diri saya karena memang saya masih memilah bagian yang ingin saya tampilkan. Tulisan-tulisan ini hanya cara saya untuk berbagi, tentang perasaan dan pemikiran saya. Berbagi tentang kebahagiaan dan cara saya menikmati hidup. Tulisan itu memang bisa dihapus tapi ingatan tentang kejadian dan emosi yang dirasakan tidak akan hilang (kecuali hilang ingatan). Dan semoga komitmen untuk kembali menulis ini bisa terjaga dan benar-benar dilaksanakan :)

Selamat menikmati berbagai ocehan si Ayu :)

Senin, 06 Mei 2013

Kembali Ke "Rumah"







"Sudah nonton 9 Summers 10 Autumns?"
"Belum, kayaknya aku perlu mempersiapkan hati dulu deh,"
"Why?"
"Hhhmmm... I don't know,"


Penggalan percakapan di atas benar adanya (dengan beberapa bagian yang di edit). Yak! Saya benar membutuhkan waktu untuk "siap" menontonnya. Saya membaca bukunya dan saya cukup dapat membayangkan akan seperti apa respon saya terhadap film ini.

Cerita tentang ayah dan keluarga mungkin bukan sesuatu yang bisa dengan mudah saya terima (secara emosional). Beberapa kali tawaran nonton bareng hingga undangan premiere pun tak bisa saya hadiri (hey, lucky me! but i'm sorry.. ). Hingga pada akhirnya, salah satu sahabat saya berhasil mengajak saya untuk menonton film ini walaupun itu berarti dia harus kembali menontonnya entah untuk yang keberapa kalinya (lebih dari 3x).

Seperti yang sudah saya duga sebelumnya, sejak awal film beberapa bagian dari film ini membuat saya cukup mengeluarkan tenaga agar tidak menimbulkan suara tambahan yang mengganggu penonton lain karena harus menyeka mata dan hidung dengan tissue (baca : mberebes mili sampai mbleber).

Kalau ditanya tentang film ini, bagi saya sangat personal. Walaupun tidak sama persis dalam kondisi seperti yang dialami tokoh dalam film, tapi saya pernah ada dalam situasi yang setidaknya sama.  Ayah yang harus bekerja keras demi menghidupi keluarganya dan memberikan penghidupan terbaik untuk anak-anaknya tanpa mengindahkan kesejahteraan fisiknya sendiri. Tambahkan faktor kehilangan ayah sebagai salah satu unsur penguat keterikatan saya secara emosional pada beberapa bagian cerita dalam film.


Suguhan cerita yang sederhana dan sarat makna, itulah komentar singkat saya untuk film ini. Rangkaian monolog tokoh utama dengan script yang (menurut saya) bagus dan tidak berlebihan. Permainan ekspresi beberapa aktornya yang tak perlu diragukan lagi. Beberapa adegan yang tidak perlu jawaban verbal, seperti saat Bapak yang datang dengan bahagia sambil menenteng sepeda baru tetapi disambut dengan kebisuan ibu, Bayek, dan kakak-adiknya. Atau saat Bapak bertanya dengan singkat, "kamu beneran mau kuliah ke Bogor?" dan seketika Bapak memutar balik angkotnya. Cerita tidak selalu diselesaikan dengan kalimat ataupun adegan secara eksplisit. Tampilan yang cerdas!


Lepas dari itu semua, mungkin juga sebuah kesengajaan, saya merasakan musik yang (masih menurut saya) kurang dalam beberapa bagian film tersebut. Unsur monolog dalam film terasa sangat kuat. Sementara itu, sepertinya musik sengaja tidak banyak digunakan untuk membangkitkan suasana atau mood pada beberapa bagian cerita. Sebagai sebuah tayangan, pesan dan pembelajaran dalam film ini pun terasa kuat tanpa bermaksud menggurui.

Cerita Bayek yang berontak dari kemiskinannya, ketakutannya yang terbesar bahkan mengalahkan ketakutannya pada setan. Pemberontakan inilah yang mengantarkannya pada keberanian untuk melangkah tegak demi keluarganya. Tidak ada lagi Bayek yang penakut dan harus melihat ibuk di hari pertama sekolah atau Bayek yang lari dari panggung saat lomba menyanyi.  Semua ketakutannya diterjang dengan kekuatas super dari kehangatan dan dukungan keluarganya.

Kemewahan, harta, jabatan, dan semua keberhasilan atas nama duniawi pun tak bisa menghalangi langkah Bayek untuk kembali menemukan "rumah"nya. Ketika tiba waktunya, maka ia kembali melangkah pulang, ke rumah. 

Sejauh apapun kita melangkah, pada akhirnya kita akan kembali, ke rumah. Bukan lagi bangunan fisik yang dicari, tapi rumah tempat kita selalu mendapatkan kehangatan dan dukungan. Keluarga selalu menjadi tempat kita untuk "pulang", sejauh dan selama apapun kita pernah meninggalkannya.



 

Identitas Itu Bukan Angka Atau Akun Sosial Media

Semakin lama semakin banyak fasilitas akun sosial media yang bisa kita nikmati. Saat interaksi di sosial media meningkat, lalu apakah mempengaruhi interaksi kita dalam dunia nyata (kuantitas dan kualitas interaksi) ? Ini bukan pertanyaan ujian untuk mahasiswa saya, tetapi hanya sedikit menggelitik pikiran saya di tengah malam saat harus menyelesaikan modul mengenai bahasan perubahan sosial.

Pertanyaan selanjutnya yang kemudian menari-nari di kepala saya adalah, "Berapa banyak akun sosial media yang Anda miliki?" Saya sendiri memiliki beberapa, mari kita list apa saja :

- Friendster (entah sekarang masih ada atau tidak)
- Facebook (sesekali masih aktif )
- Twitter (saya lebih banyak aktif di akun sosial media ini)
- Path (sesekali aktif, karena tergantung saya membawa ipad atau tidak, atau tergantung apakah ipad saya terkoneksi dengan wifi )
- Line  (baru saja aktif)

Media lainnya, saya punya beberapa blog yang hhhhmmm... tidak terlalu sering saya update juga :)

Pernahkah mendengar komentar seperti berikut, "twitter lo apa? Gak punya twitter? gak gaul deh.." , Atau "gw tag di path yah, ID lo apa? hah gak ada path?? hari gini gak punya path?? haduuuhhh..." Sebagian komentar itu pernah saya terima.

Kepemilikan pada beberapa akun sosial media kemudian menjadi bagian dari identitas kita. Yang lebih parah mungkin kepemilikian terhadap akun sosial media itu kemudian menjadi standar penerimaan kita dalam sebuah lingkungan. Sebuah kenyataan yang tidak terelakkan di tengah kemajuan teknologi saat ini.

Kemudian, siapakah yang harus disalahkan atas hal ini? Teknologi? Atau manusianya? Teknologi hadir untuk mempermudah hidup manusia. Manusia memiliki "free will" atau keinginan bebas atas dirinya. Teknologi bisa menjadi pedang bermata dua, kita bisa memanfaatkan akun sosial media atau teknologi apapun yang ada saat ini untuk support berbagai kegiatan atau menjadikannya sebagai masalah dan mempersulit hidup kita.

Ingat beberapa kasus yang marak belakangan ini? Misalnya, beragam tuduhan mem-bully melalui twitter. Kebebasan pendapat yang dimaknai secara kebablasan hingga verbal bullying tak terelakkan. Keterbatasan karakter dalam menjelaskan pendapat hingga penggalan penjelasan dan edit kalimat menjadi dasar pembenaran atas opini. Sampai titik ini, maka sosial media menjadi pedang bermata dua. "Twitmu Harimaumu". 

Ingat pula berbagai gerakan sosial yang bermula dari akun sosial media. Pemanfaatan sosial media pada kelas menengah khususnya tidak bisa dianggap sepele.


Saat berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran, dari sosial media juga saya membaca artikel mengenai larangan mendagri memfotokopi ektp lebih dari satu kali (baca di sini). Harus diakui akses berita yang tercepat bisa saya dapatkan adalah melalui situs online di sosial media.

Kembali ke persoalan e ktp, pertanyaan selanjutnya adalah, "Kenapa baru sekarang diedarkan pemberitahuannya?" Bahkan kartu yang memuat sederetan nomor identitas kita sebagai warga negara dan sepenggal data, pun kita tidak tahu pemanfaatannya secara detail (setidaknya ini berlaku untuk saya). Sementara itu, saya sudah melakukan banyak kesalahan penggunaan. Jangan tanyakan ke saya sudah berapa kali memfotokopinya.

Pada saat yang sama, melalui facebook salah seorang teman kuliah, saya mendapatkan link daftar nama mahasiswa satu angkatan saat kami masih sama-sama tercatat sebagai mahasiswa fakultas Psikologi UI (lihat di sini). Ingatan saya pun seketika melayang ke hafalan deretan angka yang pernah menjadi identitas saya selama 4 tahun di UI.


Sebagai manusia dengan banyak status, kita memiliki banyak identitas. Sebagai pemilik akun twitter dengan jumlah follower ratusan ribu, Anda mungkin layak ditasbihkan sebagai "seleb twit".  Popularitas Anda ditentukan dari banyaknya twit yang anda kemukakan dijawab ataupun di retweet.

Dalam akun sosial media, dalam dunia maya, kita pun menetapkan identitas diri kita sendiri dengan menguraikannya dalam profil akun, atau mengungkapkannya dengan ataupun tanpa sadar melalui berbagai hal yang kita kemukakan melalui akun tersebut.

Sebagai mahasiswa atau karyawan, ada deretan angka yang mengindikasikan nomor urut kita.

Sebagai warga negara, kita juga memiliki identitas standar berupa deretan angka dalam kartu identitas, atau deretan angka dalam paspor. 

Profesi yang kita miliki juga bisa menjadi identitas. Atau bahkan perusahaan tempat kita bekerja bisa menjadi bagian dari identitas.

"kenal sama si Ani? ", "Ooo Ani yang pengacara itu?", "Bukan, Ani -nya Bank Berlian,"  


Lepas dari itu semua, menurut saya,  kita menentukan sendiri identitas seperti apa yang ingin kita tampilkan. Saya pun teringat sebuah tayangan inspiratif, yaitu kuliah terakhir Randy Pausch (lihat di sini) .

Pada akhirnya, kita sendiri yang menentukan, "kita ingin dikenal sebagai apa?"