Selasa, 09 Januari 2018

Kapan Kawin?






Disclaimer          : Postingan kali ini bukan tentang film walaupun masih seputar permasalahan yang sama

Sudah nonton film “Kapan Kawin”? Inti filmnya tentang seorang wanita karier yang sukses di usia 30-an yang kerap mendapatkan hujan pertanyaan, “Kapan Kawin?” dari orangtua dan lingkungan sekitarnya. Saya menonton film ini dengan salah seorang sahabat yang kurang lebih kondisi kami berdua serupa dengan tokoh wanita dalam film tersebut (walaupun dengan takaran kesuksesan yang cukup berbeda hehehe). Sepanjang film rasanya suara tawa kami terdengar paling keras di dalam studio karena latar cerita yang memang “gue-banget.” 

Pertanyaan “Kapan Kawin” adalah pertanyaan sakral yang mulai muncul di usia akhir 20an dan frekuensi munculnya pun meningkat secara signifikan seiring dengan pertambahan usia. Setiap kali Idul Fitri atau acara kumpul-kumpul (termasuk kumpul keluarga, tetangga, reuni sekolah dan semua bentuk kumpul2) adalah ajang melatih kreativitas membuat jawaban untuk pertanyaan, “Kapan Kawin?”  

Perasaannya? Awalnya kesal, lalu lama-kelamaan mulai kebas dan terbiasa (walaupun gak bisa juga dibilang cuek). Mungkin mereka terlalu sayang dan peduli jadi terus-menerus menanyakan hal yang sama. Walaupun peduli dan mau tau urusan orang itu bedanya tipis sih hehehe

Kadang-kadang yang bertanya itu mungkin niatnya tulus-murni bertanya, walaupun kadang lupa kalau pertanyaan itu perlu dibarengi dengan empati. “Makanya jangan kerja terus”, “Kebanyakan pilih-pilih sih,” “apa yang dicari sih? Mau yang kayak gimana? apalagi yang ditunggu?” Ah, andai mereka tahu kalau saya pun tidak punya jawabannya, apalagi menerawang kapan dan dengan siapa saya kelak akan menikah. 

Memasuki usia 30 tahun, saya pun sampai pada satu titik untuk berserah diri. Keyakinan bahwa semua akan indah pada waktunya. Allah SWT Maha Tahu waktu yang terbaik untuk mempertemukan saya dengan jodoh saya kelak, dan juga dengan cara yang terbaik. Lalu, sebagai makhlukNya kenapa kita harus meragu dan mempertanyakan sesuatu yang sudah menjadi ketentuanNya? Dan saya pun jadi lebih santai untuk menjawab setiap kali mendapatkan pertanyaan, “Kapan Kawin?”.  Jangan lupa berdoa dan terus percaya bahwa Allah selalu memiliki rencana yang indah untuk setiap hambaNya

Oh ya daripada sibuk bertanya (atau mempertanyakan), lebih baik bantu mendoakan, sukur2 kalau bisa sekaligus mengenalkan dengan kandidat yang prospektif untuk jadi pasangan, hehehe.. 

Jadi, kapan saya kawin (nikah) ? ditunggu ya undangannya :)

Senin, 17 Juli 2017

The story has just begun


"Assalammualaikum.."

Sepenggal salam adalah pembuka, penanda atas kehadiran, saat bertamu, ataupun saat akan memulai sesuatu.  Salam itu pula yang menjadi pembuka cerita kita. Salam yang menandai awal segalanya. Berawal dengan salam, sapaan, perkenalan, percakapan yang mengalir, hingga sebuah kesepakatan untuk belajar berjalan bersama, memulai sebuah cerita, tentang kita.

Salam itu juga yang mulai membuka hati kita. Belajar untuk melihat dengan lebih bijak tentang apa yang dicari dan apa yang sebenarnya diperlukan. Salam yang perlahan menumbuhkan rasa percaya, perasaan nyaman dan keyakinan untuk berjalan bersama, menempuh perjalanan yang baru.

Cerita perjalanan kita mungkin belum terlalu lama, pun tidak sebentar. Karena tidak pernah ada takaran tentang waktu, ukuran lama dan sebentar perjalanan yang sedang dan akan kita lalui kelak.

Perjalanan ini baru saja dimulai, seperti janin yang baru berusia empat bulan di kandungan ibu, saat  ruhnya mulai ditiupkan. Berbagai organ mulai terbentuk menandai kehidupannya dalam rahim. Begitupun perjalanan kita, seperti janin yang mulai hidup dan terus bertumbuh menandai kehidupannya. Bentuk perhatian dan ungkapan perasaan seperti organ yang tumbuh menandai hidupnya perjalanan ini.

Organ janin dalam rahim ibu memerlukan asupan yang cukup untuk dapat terus tumbuh. Seperti tanaman yang membutuhkan air dan pupuk untuk memungkinkannya hidup. Demikian pula perjalanan kita. Jaraknya mungkin belum terlampau jauh, dan tidak akan selalu mudah. Kerikil, batu ataupun rintangan sangat mungkin akan ditemui. Namun, semoga doa-doa, harapan, rencana-rencana dan itikad baik yang kita miliki untuk bersama menempuh perjalanan ini akan menjadi pupuk dan air yang selalu menjaga tanaman untuk hidup. Semoga kaki-kaki kita tidak kelelahan untuk terus berjalan bersama. Pun jika kita merasa lelah, kita akan selalu ingat bahwa kita akan selalu memiliki bahu untuk bersandar dan bergandengan tangan untuk tetap saling menjaga, sepanjang perjalanan.

Semoga Yang Maha Berencana selalu menuntun kita di setiap langkah dengan kebaikan dan keberkahan yang berlimpah

Semoga Yang Maha Pengasih selalu melembutkan hati kita untuk selalu saling mengasihi dan saling menjaga

Semoga Yang Maha Bijaksana selalu menjernihkan pikiran kita hingga dapat saling mengingatkan dalam kebaikan

Semoga Yang Maha Besar selalu memampukan kita untuk tetap kuat berjalan bersama, hingga di ujung waktu.

Dan cerita kita baru saja dimulai....



*170717* AW | WA

Selasa, 16 Agustus 2016

Kaca Pembesar Yang Membesarkan Hati



Outing kantor kali ini mewajibkan setiap karyawan untuk menggunakan dress code saat acara makan malam di malam terakhir. Tidak tanggung-tanggung, dress code yang diminta adalah “agent” atau “superhero”,  senada dengan tema acara “agent of change”.  Semua orang berpikir keras untuk mengekspresikan dirinya melalui dress code tersebut. Dengan pertimbangan keterbatasan waktu, kemudahan dan kenyamanan berpakaian, akhirnya saya menggunakan kostum ala Sherlock Holmes. Baju dan coat semua ada, hanya modal topi khas Sherock Holmes yang dikenal dengan nama deerstalker cap, yang akhirnya saya beli online. Soal senjata, detektif Sherlock Holmes cukup menggunakan kaca pembesar, sederhana dan ramah lingkungan.

Topi Sherlock Holmes yang super keren ini hasil belanja online :)

Secara penampilan, sebenarnya tidak ada yang spesial dengan kostum Sherlock Holmes. Diantara semua perlengkapan tersebut, kaca pembesar yang saya temukan kembali di rrumah menjadi sangat spesial untuk saya. Kaca pembesar ini dibeli almarhum Bapak sekitar 14 tahun lalu, untuk membaca pengumuman ujian masuk perguruan tinggi negeri (waktu itu namanya SPMB, dan sekarang namanya SBMPTN)

Saya masih ingat dengan jelas, hari kelulusan itu. Sebenarnya hari itu saya merasa kesal dengan Bapak. Pengumuman SPMB sudah dapat diakses online sejak jam 00.00. Waktu itu di rumah kami tidak ada akses internet, sehingga saya berharap malam itu Bapak bisa mengantar saya ke warnet untuk melihat pengumumannya. Sayangnya, sebagai pemadam kebakaran, hari itu bersamaan dengan giliran hari tugasnya. Jadwal tugas Bapak adalah satu hari kerja (full 24 jam) dan satu hari libur. Saya sempat meminta Bapak untuk tidak masuk kerja sehingga bisa menemani saya ke warnet, tapi beliau tetap pergi kerja sesuai panggilan tugasnya. Saat itu saya merasa kesal, bahkan marah karena merasa Bapak tidak peduli.

Saya pun tidak bisa tidur semalaman hingga akhirnya pagi jam 5.30 saya memberanikan diri pergi sendirian ke warnet dekat rumah. Sialnya, karena se-Indonesia raya mengakses website pengumuman SPMB pada saat yang bersamaan, maka akses website pun semakin lambat. Setelah cukup bersabar karena tak kunjung berhasil membuka laman pengumuman, akhirnya sekitar jam 7 pagi, saya pun pulang dengan tangan kosong dan masih dengan rasa penasaran.

Berbagai perasaan berkecamuk saat itu, karena saya masih belum tahu hasil ujian saya apakah diterima atau tidak. Semakin gelisah, karena saya sangat berharap dari hasil ujian ini. Sampai di rumah, saya pun dikejutkan dengan kehadiran Bapak yang sedang duduk bersantai di teras rumah sambil minum teh, memegang koran berisi pengumuman SPMB dan sebuah kaca pembesar untuk membaca. Dengan santai, Bapak menegur saya, “gak bisa kan lihat di internetnya, sini lihat di koran aja, Bapak gak bisa bacanya, hurufnya kekecilan,” katanya sambil menyerahkan koran dan kaca pembesar ke tangan saya. Saya pun langsung membuka lembar demi lembar dan berusaha mencari nomor ujian saya, tentunya dengan jantng yang masih berdegup kencang, harap-harap cemas untuk melihat nomor ujian saya. Beruntung ternyata saya dinyatakan lulus, untuk pilihan ke dua, Psikologi. Rasa bahagia saat itu langsung melunturkan semua kekesalan saya kepada Bapak.

 Kaca pembesar yang usianya sudah 14 tahun

Saya masih ingat jelas gurat bahagia dan kebanggaan Bapak saat membaca pengumuman, bahkan beliau sendiri kemudian menstabilo nomor ujian saya yang tertera di koran. Komentar singkatnya saat itu juga membesarkan hati saya, “tuh kan bisa, lulus SPMBnya, gak apa-apa di pilihan kedua. Kalau gak suka atau gak cocok, tahun depan boleh coba lagi.” Bapak sangat tahu saya sempat ragu manakala beliau meminta saya tetap berkuliah di Jakarta yang berarti harus memilih UI untuk dua pilihan jurusan yang saya ambil. Setelah peristiwa kelulusan itu, Bapak masih menyimpan rapi potongan koran berisi nomor kelulusan ujian dan juga kaca pembesarnya. Katanya, “ini buat kenang-kenangan, disimpan.”

Empat belas tahun kemudian, saat mencari perlengkapan kostum sebagai detektif Sherlock Holmes, saya kembali menemukan kaca pembesar yang dulu kami gunakan untuk mencari nomor ujian tanda kelulusan SPMB. Kaca pembesar yang hanya sekali saya gunakan, di salah satu peristiwa terpenting dalam hidup saya. Kaca pembesar yang harganya mungkin (saat itu) tidak lebih dari seratus ribu rupiah, tapi sekarang nilainya sangat tinggi untuk saya. Kaca pembesar yang bukan hanya membantu untuk melihat huruf menjadi lebih jelas, tetapi membantu saya untuk melihat lebih jelas betapa sebenarnya Bapak sangat peduli dan perhatian bahkan terhadap hal detail dengan memperhitungkan berbagai kemungkinan. Kaca pembesar yang membantu saya melihat lebih jelas besarnya cinta bapak kepada saya. Maafkan saya yang membutuhkan waktu terlalu lama untuk dapat melihat betapa kaca pembesar itu tidak hanya berfungsi sesuai fisiknya, tetapi sebenarnya telah membesarkan hati kami melihat hal-hal kecil menjadi lebih indah.  

Minggu, 10 Juli 2016

SABTU BERSAMA BAPAK




Setahun lalu, saya membaca bukunya. Awalnya sebuah ketidaksengajaan, menemukan buku ‘Sabtu Bersama Bapak’ disalah satu rak buku Gramedia. Seperti kebiasaan saya selama ini, mencoba mengintip isi buku, mulai dari membaca sinopsis di halaman belakang. Lalu mencari sample buku yang sudah dibuka. Setelah membaca synopsis, saya pun mulai membuka lembar pertama, dan air mata saya sudah langsung mengembang. Karena kuatir malu dilihat banyak orang, akhirnya saya pun langsung membawa buku itu ke kasir untuk membayar, bergegas keluar toko buku, mencari restaurant terdekat dan melanjutkan membaca. Air mata saya kali ini mengalir deras. Saya menyelesaikan bacaan itu hanya dalam beberapa jam. 

Tahun ini, film Sabtu Bersama Bapak dirilis. Saya sudah sejak lama menantikannya. Bukan sekedar penasaran dengan akting para pemainnya, tetapi juga bagaimana visualisasi nilai dan pesan yang disampaikan Bapak melalui buku menjadi film. Menyaksikan trailernya saya pun merasa deg-degan, seperti menantikan sebuah kelahiran. Bahkan saya sempat khawatir setelah menyaksikan filmnya, saya akan keluar dengan mata sembab.

Sebelum menonton, saya membebaskan diri saya dari berbagai detail ingatan cerita dalam buku. Saya tidak ingin kenikmatan saya menyaksikan film ini terganggu dengan kritik menyamakan isi buku dan film. Bagaimanapun juga film dan buku adalah dua medium yang sangat berbeda dalam menuangkan sebuah cerita. Menyaksikan Sabtu Bersama Bapak, saya tidak menyangka bahwa saya akan lebih banyak tersenyum, bahkan tertawa, walaupun masih menitikkan air mata. Saya pun keluar bioskop dengan bahagia.

Sabtu Bersama Bapak adalah cerita sederhana tentang sebuah keluarga yang mencoba untuk berdiri tegak tanpa kehadiran sosok Bapak (Abimana Arya Satya). Bapak yang dikisahkan menderita kanker harus meninggalkan anak-anaknya yang saat itu masih usia SD. Bapak pun tidak ingin meninggalkan keluarganya dalam kesusahan, maka ia menyiapkan segala sesuatunya untuk keluarga kecilnya tersebut. Usaha restaurant ibu Itje, istrinya, sudah direncanakan dan didukung Bapak sejak beliau masih sehat. Bapak bahkan menyiapkan beberapa rekaman video untuk kedua anaknya, Satya dan Cakra, untuk disaksikan setiap hari sabtu. Semua pesan yang ingin disampaikan Bapak direkam dalam video menemani dan mengantarkan anak-anaknya tumbuh dewasa. Bahkan Bapak menyimpan satu pesan khusus yang baru dapat disaksikan jelang pernikahan anak laki-lakinya tersebut.

Konflik pun mulai terjadi di rumah tangga Satya (Arifin Putra) yang tinggal nun jauh di Perancis. Satya yang perfeksionis dan sangat terencana, menginginkan segala-sesuatunya sempurna. Anak-anak yang pandai matematika, tidak nakal, istri yang pintar memasak dan menjaga anak-anak. Satya menjadikan Bapak sebagai role model, dan menelan utuh semua pesan Bapak. Tidak ada yang salah, hanya saja ada beberapa hal yang ia juga lupa untuk menerapkannya. Pada akhirnya, sosok Bapak dan pesan-pesannya juga yang kembali menuntun Satya “kembali”  ke tengah keluarga kecilnya.

Sedangkan si bungsu Cakra (Deva Mahenra), sibuk dengan pekerjaannya dan terus menjomblo. Muda, tampan, sukses, mapan, jomblo, tapi kaku pada wanita. Awalnya Cakra jatuh hati pada salah seorang rekan kantornya. Tapi ke-kaku-an Cakra saat pendekatan hingga ia pun kalah langkah dari rekan kerjanya yang lain, meskipun sudah dibantu segala cara oleh anak buah Cakra (Ernest dan Jennifer Arnelita). Akhirnya Cakra pun menuruti keinginan Mama (Ira Wibowo) untuk dikenalkan dengan salah seorang anak teman Mama. Ternyata semesta bekerja, gadis yang ditaksi Cakra di kantor adalah gadis yang sama yang ingin dikenalkan Mama. Perjuangan menemukan pasangan Cakra ditampilkan dengan sangat kocak dan menghibur, berpadu apik dengan berbagai penuturan tentang nilai-nilai yang ditanamkan Bapak tentang pasangan hidup.


“Membangun sebuah hubungan itu membutuhkan dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing. Bukan tanggung jawab orang lain.”


Sabtu Bersama Bapak adalah hiburan yang inspiratif. Akting para pemainnya terasa cukup natural dan mengalir, terutama tim Cakra. Berbagai celetukannya pun terasa hidup. Sebenarnya melihat deretan nama besar dalam film itu menjadikan acting mereka tidak perlu diragukan lagi. Berbagai penyesuaian cerita pun dilakukan. Sekali lagi, film dan buku adalah dua medium yang berbeda, sehingga perlu dilakukan berbagai penyesuaian dalam visualisasi cerita. Dalam buku penjelasan sangat detail. Sementara film, ada visual gambar yang dapat menjelaskan tanpa perlu narasi atau kata-kata.    

Barangkali terdengar berlebihan, tetapi Sabtu Bersama Bapak memiliki arti khusus untuk saya. Delapan tahun lalu saya kehilangan Bapak. Saya bersyukur disaat menjelang kepergian Bapak, kami masih diberi waktu, kesempatan untuk menyiapkan diri untuk sebuah kehilangan. 29 hari selama Bapak dirawat di ICCU, setiap hari kami mempersiapkan diri untuk hal paling buruk yang mungkin terjadi.

Bapak saya mungkin tidak meninggalkan pesan yang direkam dalam video seperti Bapak (Pak Garnida dalam Sabtu Bersama Bapak). Tapi bapak meninggalkan pesan dengan caranya sendiri. Seperti Bapak yang menekankan pada keluarganya betapa pentingnya sebuah perencanaan, bapak pun mencontohkan langsung kepada kami, betapa beliau sangat terencana untuk pendidikan anak-anaknya. Bapak saya mungkin tidak banyak berkata-kata, tetapi seperti juga Bapak, beliau mencontohkan bagaimana kami harus menjadi kuat dan saling mendukung, saling menjaga, memberikan dan menjadi yang terbaik untuk keluarga. Kami pun tahu, sekalipun bapak tidak lagi hadir secara fisik, tetapi bapak akan selalu ada bersama kami, dalam hati, pikiran dan ingatan kami. 

Alfatihah..

Terimakasih untuk tulisan dan filmnya yang indah Sabtu Bersama Bapak.Walau telah tiada, bapak akan selalu ada.


Selasa, 02 Februari 2016

Cerita Selembar Postcard



Masih ingat pelajaran bahasa Indonesia tentang tata cara menulis pesan telegram? Cpt plg koma bpk sakit ttk hbs (baca : cepat pulang, bapak sakit.). Mungkin cara penulisan telegram ini adalah cikal bakal penulisan berbagai singkatan di sms, bbm, whatsapp dan berbagai jalur komunikasi digital belakangan ini. Kalau anda masih mendapatkan pelajaran menulis telegram, mungkin kita berada di generasi yang sama dan dibesarkan dengan kurikulum pendidikan yang sama. Saya masih ingat dulu saat kakek sakit keras ada telegram yang dikirimkan ke rumah dan meminta keluarga untuk segera datang. Saat ini pesan darurat via telegram kalah cepat dengan pesan digital melalui aneka aplikasi di telepon pintar.
gambar diambil dari dari sini

Dulu berkirim surat atau kartu ucapan melalui jasa pos adalah hal yang biasa. Berkirim surat dengan teman yang melanjutkan sekolah di luar daerah atau luar negeri. Cerita tentang sekolah dan kebiasaan baru, pelajaran yang berbeda, guru yang dibenci dan guru favorit, kakak kelas yang jadi idola, gebetan dan pacar, semuanya dituangkan dalam cerita berlembar-lembar surat berperangko. Saya sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali mengirimkan surat (informal, bukan surat resmi untuk urusan pekerjaan). 

Sampai dengan SMP saya masih rutin mengirimkan kartu lebaran via pos. Ada sensasi deg-degan setiap kali Pak Pos lewat dan berhenti, lalu memberikan kiriman kartu. Ada perasaan kompetitif kalau jumlah kartu lebaran yang diterima tidak sebanyak teman lain. Ada perasaan kesal kalau orang yang kita kirimkan kartu lebaran ternyata tidak mengirimkan kartu lebaran balasan. Sekarang kemajuan teknologi dan desain memungkinkan kartu lebaran dikirimkan dalam bentuk surat digital melalui email. Selain lebih murah karena tidak ada biaya kirim tentu juga lebih mendukung kampanye Go Green yang belakangan ini banyak digaungkan.


 gambar diambil dari sini

Kecanggihan teknologi saat ini menjadikan perangko semakin tidak dikenal. Atau mungkin beberapa diantara kita sampai sulit membedakan antara perangko dan materai. Beberapa waktu lalu, salah seorang teman kantor bercerita kalau ia baru saja salah memberikan meterai ke anaknya, manakala si anak diminta untuk membawa perangko. Komentar teman kantor tersebut cukup menggelitik, “kemarin anak gw ternyata gw bawain meterai, gurunya sms nanyain kenapa dibawain meterai padahal dimintanya perangko. Gw sampai gak ngeh sama perangko, udah lama kan kita gak pernah pakai perangko.” Perangko mungkin sudah menjadi benda yang tidak lazim saat ini, terutama di kota besar seperti Jakarta. Bukan hanya karena berbagai jasa kurir yang bermunculan menawarkan jasa pengiriman lebih cepat dan tentu saja tanpa perangko. Tetapi juga karena kebiasaan berkirim surat yang sudah semakin berkurang, kalau tidak dapat dikatakan hilang.

Ah… saya rindu berkirim surat. Kerinduan yang mengantarkan saya pada hobi mengirimkan postcard. Meminta dikirimkan postcard lebih tepatnya, karena frekuensi mengirimkan jauh lebih sedikit daripada menerima. 

Setiap kali ada teman yang bepergian saya selalu meminta untuk dikirimkan postcard alih-alih meminta oleh-oleh (walaupun tetap tidak menolak tawaran oleh-oleh). Demikian pula jika saya yang bepergian, saya selalu mengirimkan postcard untuk saya sendiri, dengan catatan yang ingin saya ingat dari perjalanan tersebut. Sangat menyenangkan karena bukan hanya sensasi mengirimkan dan menerima suratnya tetapi juga sensasi ingatan tentang kejadian, orang-orang yang ditemui dan tempat-tempat yang dikunjungi.


 

Postcard dari Mostar, Bosnia kirman dari Penulis Negeri 5 Menara, Ahmad Fuadi  

Beberapa postcard saya terima dari tempat yang tidak terduga, misalnya Bosnia Harzegovina. Saya bahkan tidak pernah membayangkan akan berkunjung ke daerah tersebut dan hanya membaca tentang nama Bosnia di berita tentang perang. Beberapa postcard dikirimkan dari tempat-tempat yang memang ingin saya kunjungi suatu hari nanti, sehingga postcard ini pun menjadi pengingat dan penguat untuk rencana-rencana tersebut.



  Postcard yang dikirimkan Nurul sahabat saya, saat perjalanan ke Santorini



Saya tentu harus berterimakasih kepada sahabat-sahabat saya yang sudah berbaik hati menjadi kontributor yang setia mengirimkan postcard dalam setiap perjalanannya, tugas ataupun liburan. Beberapa orang sahabat bahkan sudah hafal, tanpa diminta sudah dengan sukarela mengirimkan postcard untuk saya :) Pengirim postcard paling mungil adalah Daryl (9th) putra salah seorang rekan di kantor. Daryl pun sempat bertanya-tanya kenapa dia harus mengirimkan postcard, "Why we should send Tante Ayu a postcard? why don't send her an email?", dan sang ibu pun harus dengan cermat menjelaskan alasannya.



Postcard kiriman Daryl dari liburannya ke Amerika 


Postcard yang saya kirimkan untuk diri sendiri biasanya saya tuliskan tentang insight sepanjang perjalanan. Saya bahkan sangat menikmati untuk menuliskan catatan singkat di lembaran postcard yang akan saya kirimkan. Sebagai pengingat tentang perjalanan yang dilakukan dan emosi yang dirasakan.
 

 Postcard yang dikirimkan dari perjalanan di Malaysia 

 


  Postcard yang dikirimkan dari perjalanan di Manchester


Seringkali saya mengirimkan lebih dari satu postcard dalam setiap perjalanan. Biasanya saya bisa mengirimkan 2-3 postcard dari satu tempat. Tidak ada alasan khusus mengenai jumlahnya, tapi biasanya hal ini terjadi karena saya kesulitan untuk memilih postcard mana yang akan dikirimkan, sehingga saya membeli dan mengirimkan beberapa postcard sekaligus :) 

Sangat menyenangkan rasanya setiap kali menerima postcard, bahkan saat menerima postcard yang dikirimkan untuk diri sendiri. Mungkin berlebihan, tapi rasanya sebagian diri saya ikut kembali menikmati perjalanan tersebut. Postcard tidak lagi berarti selembar kertas bergambar, tapi postcard menjadi lembaran penuh cerita dan emosi berbungkus kenangan dalam sebuah perjalanan.