Jumat, 02 September 2011

MUDIK

“Tiga, Cilacap,” pria di loket itu menyodorkan tiga lembar tiket ke tangan seorang lelaki tua. Dengan cekatan, lelaki itu langsung mengambil tiga lembar tiket dan menukarnya dengan delapan lembar uang seratus ribuan. Harga tiket jelang lebaran memang bisa naik hingga lebih dari 2x lipat. Untuk mendapatkannya pun, pria tua itu harus mengantri sejak dua jam lalu.

Tiga tiket ke Cilacap, untuk istri dan dua anaknya sudah didapatkannya H-30 dari keberangkatan. Aturan PT. KAI untuk pembelian tiket sebulan sebelum tanggal keberangkatan. Dia tidak membeli tiket untuk dirinya. Dia memilih berdiam di Jakarta dan baru akan mudik setelah arus lebaran selesai. Toh, dia baru saja pulang dari Cilacap beberapa minggu sebelumnya, untuk pemakaman adiknya.

Kebiasaan mudik di keluarganya memang sedikit berbeda dengan keluarga lain. Lelaki tua itu tidak pernah mudik lebaran sejak berpuluh tahun lalu. Pekerjaannya sebagai pemadam kebakaran mengharuskan ia untuk selalu stand by di Jakarta, saat hari raya. Lebih dari 30 tahun, ia tidak mengenal kata “mudik hari raya” dalam kamus hidupnya. Dia mewakilkan mudiknya pada istri dan anak-anaknya. Mudik lebaran mereka pun baru dilakukan setelah hari raya. “Kita tinggal di Jakarta, banyak bikin salah dengan tetangga, yah minta maaf dulu, setelah shalat ied, minta maaf sama tetangga, baru boleh mudik,” nasehat lelaki tua itu berulang kali pada istri dan anak-anaknya.

“Kapan sih bisa pulang bareng sama bapak, semuanya barengan,” protes anak perempuannya yang bungsu. “Yah gak bisa gitu juga, kan bapak gak bisa libur, nanti aja bapak nyusul,” penjelasan singkat bercampur kepasrahan, lagi-lagi harus ditelan anak perempuan berusia sebelas tahun itu.

*****************

Tik..Tik..Tik….Tik…Tik…
“70 per 50, dok”
“keluarga tunggu di luar, siapkan semuanya,”

Tirai hijau seketika ditutup. Semua orang dihalau tidak boleh memasuki area putih. Hiruk pikuk di dalam ruangan putih hanya terdengar sayup-sayup dari luar, menyisakan tanda tanya.

“Mbak keluarganya?”
“Saya anaknya, ini ibu saya, istrinya”
“Baik, begini kondisinya. Hasil CT Scan bersih, hasil EKG menunjukkan serangan jantung. Sekarang kondisinya koma. Prioritas kami sekarang kondisi stabil untuk bisa melakukan tindakan lanjutan. “
“Bagaimana prognosanya?”
“Kami manusia biasa, kami akan usahakan yang terbaik,”
“Tolong jawab dengan jujur dan jelaskan saja bagaimana prognosanya, seberapa buruk?”
“Kami usahakan yang terbaik, doa saja. Tuhan Maha Menentukan”
“Lakukan saja semua yang perlu dilakukan dok, lakukan yang terbaik.”
“Kita perlu melakukan pemasangan ring untuk jantung bapak, keluarga bagaimana?”
“Tidak masalah, lakukan.”
“Masalahnya adalah, setelah pemasangan ring, bapak harus masuk ke ICCU. ICCU kami full, tidak ada pasien yang bisa kami alihkan ke ruang perawatan. Keluarga bisa tolong bantu kontak RS lain untuk konfirmasi ruang ICCU. Kami juga akan coba kontak dengan dokter-dokter di RS tersebut untuk follow up tindakannya.”

Drama lain kembali dimulai. Setengah kesetanan, anak perempuan sulung dari lelaki itu mulai menelepon berbagai Rumah Sakit dan menanyakan availabilitas ruangan ICCU. Sementara sebelah kupingnya menangkap suara “tik…tik…tik…” dari mesin penyambung nafas ayahnya di ruangan putih. Ternyata mencari rumah sakit dengan ruang ICCU yang bisa menampung pasien di hari-hari menjelang lebaran sama susahnya dengan mencari tiket untuk mudik. Rumah sakit rujukan pemerintah, pusat riset nasional pun tidak dapat menerimanya. Lelaki tua yang sebulan lalu dengan gagahnya mengantri tiket untuk mudik istri dan anaknya, kini berada dalam antrian mendapatkan ruang perawatan.

“Ada ICCU dok, di RS Bintang,”
“Mba, ICCU nya ada, tapi mereka tidak punya ruang kateterisasi. Bapak perlu melakukan tindakan pemasangan ring di ruang kateterisasi, di dalam cath lab”
“Lalu dok?”
“Kita sama-sama coba”
“Kondisi drop dok,” teriakan nyaring perawat membuat scene baru dalam drama pagi itu.


“Mba, kami akan pindahkan pasien ke RS Matahari di Karawaci. Rekanan kami di sana sudah siap, ruang kateterisasi lengkap, dan ICCU sudah disiapkan juga, bagaimana?”
“Lakukan dok,” hanya dua kata itu yang sepanjang pagi keluar dari mulut anak perempuan itu.
“Kita siapkan Bapak untuk dipindahkan yah, silakan tanda tangan untuk pernyataan kesediaan keluarga.”

Hiruk pikuk di ruangan putih beralih ke ambulance. Lalu, beralih lagi ruangan putih lainnya. Kelebatan manusia-manusia berbaju putih semakin banyak. Suara mesin semakin nyaring. Kabel dan selang melilit tubuh lelaki tua itu. Botol beraneka ukuran bergantungan di tiang infus. Aneka suntikan dengan beragam ukuran di pasangkan di tiang infus, mengalir masuk ke tubuh lelaki tua itu. Dan, drama pagi itu pun berakhir dengan mendorong tempat tidur lelaki tua itu ke dalam ruang ICCU.

Tiga orang perempuan saling berpelukan di sebelah ranjang lelaki tua itu. Mereka tidak saling bicara.

****

“Almost flat”
“Maksudnya?”
“Kamu ingat saya pernah jelaskan bahawa EEG akan menunjukkan gelombang tidur. Untuk mengetahui kemungkinan bangunnya, gelombangnya harus berupa gelombang naik turun. Hasil bapak, almost flat.”
“And then?”
“Pray”
“Apa diagnosanya?”
“Encephalopathy”
“Apa itu dok?”
“Kurangnya asupan oksigen ke otak. Waktu bapak koma dan kondisi jantungnya membuat asupan oksigen ke seluruh organ terhambat, termasuk juga ke otaknya.”
“Lalu?” cecar anak perempuan itu sambil terus memegang dengan kencang tangan perempuan pasrah di sebelahnya.

Sekali lagi tiga perempuan itu berpelukan dalam diam memandangi lelaki tua yang terbaring di hadapan mereka sambil menggenggam tiga lembar tiket mudik yang sebulan lalu didapatkan lelaki tua itu.

“Pak, dengar gak?” anak perempuan itu mulai berbisik di telinga lelaki tua itu.
“Pak, kami disini semuanya sayang bapak. Semuanya dilakukan untuk bapak, yang terbaik. Kalau bapak mau, bapak juga bisa usahakan yang terbaik semuanya supaya bisa sama-sama kita lagi. Tapi, kalau bapak capek, bapak boleh istirahat, kami ikhlas. Bapak boleh lakukan yang mana aja.” Terbata-bata, anak perempuan itu membisikkan semua doa dan harapannya di telinga lelaki tua itu. Dia sendiri tidak tahu apakah ayahnya mendengarnya.

****
“Keluarga siap untuk homecare, silakan disiapkan langsung dok.”
Dengan kemantapan, tiga perempuan itu membawa pulang lelaki tua yang selama ini hidup bersama mereka. Pulang ke rumah mereka. Kamar lelaki itu pun disulap menjadi rumah sakit mini dengan selang infus, mesin pembantu nafas, dan tabung-tabung oksigen yang siap sedia.

PULANG, barangkali itulah pilihan yang dianggap cukup bijak setelah 29 hari memaksa lelaki tua itu bertarung nyawa. Mempertaruhkan seluruh harapan ketiga perempuan itu.

******
“Kenapa?”
“Bapak anfal”
“Dokter mana?”
“Sudah ditelepon lagi, sedang dalam perjalanan,”

“Ayo pak… dicoba lagi yah..” anak perempuan itu berusaha membisikkan semangatnya sambil terus melakukan CPR untuk lelaki tua itu. Perawat sibuk memasukkan berbagai obat dan infus. Telinganya sekali lagi menangkap suara tik-tik yang sama seperti sebulan lalu, dari mesin yang sama, tanda nafas yang semakin melemah. Gambar kurva di mesin nafas yang biasanya naik turun seperti gunungan, sekarang mulai mendatar dengan suara tik-tik yang terus melemah.


“Kita coba 15 menit, kalau bapak masih tidak merespon, kita harus melepasnya. Kasihan bapak sakit.”
Kalimat sakti yang seketika melemahkan seluruh persendian anak perempuan itu.

****
“Maaf yah… maafin bapak,” dengan tersengal lelaki tua itu mengucapkannya berkali-kali kepada anak-istrinya.

“Maafin saya yah,” kalimat yang sama kembali diulang, kali ini kepada tetangga yang mulai berdatangan untuk membantu.

Maaf adalah bagian dari kalimat ajaib, magic words, dan kalimat ajaib itu adalah kalimat terakhir yang keluar dari mulut lelaki tua itu. Setelah kalimat itu, yang bersisa adalah drama ICCU dan doa panjang penuh pengharapan.

******
“Nak, kematian itu sama seperti mudik. Pulang ke kampung Illahi, yang Maha Pemberi Hidup. Kenapa kita harus risau atau tidak rela melepasnya? Saat mudik, kita selalu menyambutnya dengan suka cita, karena akan bertemu dengan orang yang kita sayangi. Tuhan yang menciptakan kita. Lalu, kenapa kita harus risau dan takut dengan kematian? Seharusnya kita senang karena akan kembali pada yang menghadirkan kita.” Seorang lelaki bijak yang dikenalnya menulis buku tentang menghadapi kematian menasehati anak perempuan itu.

“Lalu saya harus bagaimana pak?” tanyanya pasrah. “Ikhlaskan, karena mudik pada keabadian adalah sebuah kepastian. Apa yang hendak kau lawan dari Dzat Yang Maha Merencanakan? Ini jalanmu untuk menemukan hidup lainnya.”

Lelaki tua itu sudah benar-benar mudik. Tiga tiket kereta api yang dibelinya lebih dari sebulan lalu memang hanya untuk istri dan anak-anaknya. Lelaki tua itu tidak membutuhkan tiket kereta api untuk mudiknya. Entah, apakah dia sudah merencanakan mudik ini sebelumnya.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka mudik terpisah. Tapi kali ini, lelaki tua itu mudik sendiri, ke kampung keabadian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar