Selasa, 02 Februari 2016

Cerita Selembar Postcard



Masih ingat pelajaran bahasa Indonesia tentang tata cara menulis pesan telegram? Cpt plg koma bpk sakit ttk hbs (baca : cepat pulang, bapak sakit.). Mungkin cara penulisan telegram ini adalah cikal bakal penulisan berbagai singkatan di sms, bbm, whatsapp dan berbagai jalur komunikasi digital belakangan ini. Kalau anda masih mendapatkan pelajaran menulis telegram, mungkin kita berada di generasi yang sama dan dibesarkan dengan kurikulum pendidikan yang sama. Saya masih ingat dulu saat kakek sakit keras ada telegram yang dikirimkan ke rumah dan meminta keluarga untuk segera datang. Saat ini pesan darurat via telegram kalah cepat dengan pesan digital melalui aneka aplikasi di telepon pintar.
gambar diambil dari dari sini

Dulu berkirim surat atau kartu ucapan melalui jasa pos adalah hal yang biasa. Berkirim surat dengan teman yang melanjutkan sekolah di luar daerah atau luar negeri. Cerita tentang sekolah dan kebiasaan baru, pelajaran yang berbeda, guru yang dibenci dan guru favorit, kakak kelas yang jadi idola, gebetan dan pacar, semuanya dituangkan dalam cerita berlembar-lembar surat berperangko. Saya sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali mengirimkan surat (informal, bukan surat resmi untuk urusan pekerjaan). 

Sampai dengan SMP saya masih rutin mengirimkan kartu lebaran via pos. Ada sensasi deg-degan setiap kali Pak Pos lewat dan berhenti, lalu memberikan kiriman kartu. Ada perasaan kompetitif kalau jumlah kartu lebaran yang diterima tidak sebanyak teman lain. Ada perasaan kesal kalau orang yang kita kirimkan kartu lebaran ternyata tidak mengirimkan kartu lebaran balasan. Sekarang kemajuan teknologi dan desain memungkinkan kartu lebaran dikirimkan dalam bentuk surat digital melalui email. Selain lebih murah karena tidak ada biaya kirim tentu juga lebih mendukung kampanye Go Green yang belakangan ini banyak digaungkan.


 gambar diambil dari sini

Kecanggihan teknologi saat ini menjadikan perangko semakin tidak dikenal. Atau mungkin beberapa diantara kita sampai sulit membedakan antara perangko dan materai. Beberapa waktu lalu, salah seorang teman kantor bercerita kalau ia baru saja salah memberikan meterai ke anaknya, manakala si anak diminta untuk membawa perangko. Komentar teman kantor tersebut cukup menggelitik, “kemarin anak gw ternyata gw bawain meterai, gurunya sms nanyain kenapa dibawain meterai padahal dimintanya perangko. Gw sampai gak ngeh sama perangko, udah lama kan kita gak pernah pakai perangko.” Perangko mungkin sudah menjadi benda yang tidak lazim saat ini, terutama di kota besar seperti Jakarta. Bukan hanya karena berbagai jasa kurir yang bermunculan menawarkan jasa pengiriman lebih cepat dan tentu saja tanpa perangko. Tetapi juga karena kebiasaan berkirim surat yang sudah semakin berkurang, kalau tidak dapat dikatakan hilang.

Ah… saya rindu berkirim surat. Kerinduan yang mengantarkan saya pada hobi mengirimkan postcard. Meminta dikirimkan postcard lebih tepatnya, karena frekuensi mengirimkan jauh lebih sedikit daripada menerima. 

Setiap kali ada teman yang bepergian saya selalu meminta untuk dikirimkan postcard alih-alih meminta oleh-oleh (walaupun tetap tidak menolak tawaran oleh-oleh). Demikian pula jika saya yang bepergian, saya selalu mengirimkan postcard untuk saya sendiri, dengan catatan yang ingin saya ingat dari perjalanan tersebut. Sangat menyenangkan karena bukan hanya sensasi mengirimkan dan menerima suratnya tetapi juga sensasi ingatan tentang kejadian, orang-orang yang ditemui dan tempat-tempat yang dikunjungi.


 

Postcard dari Mostar, Bosnia kirman dari Penulis Negeri 5 Menara, Ahmad Fuadi  

Beberapa postcard saya terima dari tempat yang tidak terduga, misalnya Bosnia Harzegovina. Saya bahkan tidak pernah membayangkan akan berkunjung ke daerah tersebut dan hanya membaca tentang nama Bosnia di berita tentang perang. Beberapa postcard dikirimkan dari tempat-tempat yang memang ingin saya kunjungi suatu hari nanti, sehingga postcard ini pun menjadi pengingat dan penguat untuk rencana-rencana tersebut.



  Postcard yang dikirimkan Nurul sahabat saya, saat perjalanan ke Santorini



Saya tentu harus berterimakasih kepada sahabat-sahabat saya yang sudah berbaik hati menjadi kontributor yang setia mengirimkan postcard dalam setiap perjalanannya, tugas ataupun liburan. Beberapa orang sahabat bahkan sudah hafal, tanpa diminta sudah dengan sukarela mengirimkan postcard untuk saya :) Pengirim postcard paling mungil adalah Daryl (9th) putra salah seorang rekan di kantor. Daryl pun sempat bertanya-tanya kenapa dia harus mengirimkan postcard, "Why we should send Tante Ayu a postcard? why don't send her an email?", dan sang ibu pun harus dengan cermat menjelaskan alasannya.



Postcard kiriman Daryl dari liburannya ke Amerika 


Postcard yang saya kirimkan untuk diri sendiri biasanya saya tuliskan tentang insight sepanjang perjalanan. Saya bahkan sangat menikmati untuk menuliskan catatan singkat di lembaran postcard yang akan saya kirimkan. Sebagai pengingat tentang perjalanan yang dilakukan dan emosi yang dirasakan.
 

 Postcard yang dikirimkan dari perjalanan di Malaysia 

 


  Postcard yang dikirimkan dari perjalanan di Manchester


Seringkali saya mengirimkan lebih dari satu postcard dalam setiap perjalanan. Biasanya saya bisa mengirimkan 2-3 postcard dari satu tempat. Tidak ada alasan khusus mengenai jumlahnya, tapi biasanya hal ini terjadi karena saya kesulitan untuk memilih postcard mana yang akan dikirimkan, sehingga saya membeli dan mengirimkan beberapa postcard sekaligus :) 

Sangat menyenangkan rasanya setiap kali menerima postcard, bahkan saat menerima postcard yang dikirimkan untuk diri sendiri. Mungkin berlebihan, tapi rasanya sebagian diri saya ikut kembali menikmati perjalanan tersebut. Postcard tidak lagi berarti selembar kertas bergambar, tapi postcard menjadi lembaran penuh cerita dan emosi berbungkus kenangan dalam sebuah perjalanan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar