Senin, 11 Oktober 2010

purnama


Lengkung sabitnya mulai penuh
Tak lagi menyembul malu
Dan titik cahayanya semakin terang
Serupa bola besar bercahaya

Purnama
Lima belas
Setengah perjalanan

Sinarnya yang memantul di air
Menampakkan serupa bayangan wajah
Aku mengenalnya
Dekat, sangat dekat

Hati-hati aku telusuri bayangan itu
Aku mengenali lekuk-lekuknya
Dekat, dan melekat

Lalu bayangan itu menyapaku
"Hai, sudah purnama," sapanya ramah

Aku hanya diam, masih mencoba mencari jejak ingatan tentang bayangan itu
Adakah ia datang dari masa laluku?

"Sudah setengah perjalanan waktu, apa yang telah kau capai?," aku diam mendengar pertanyaannya. Mulutku terkatup rapat tak mempunyai jawaban, meski sepotong.

Bayangan di air kembali berkata-kata, kali ini lebih tepat kalau ia menasehatiku, "Kawan, hari ini lengkungnya sempurna, menyinari langkahmu. Jangan sampai kau terjatuh atau tersesat karena kau tak memiliki persiapan. Kelak, lengkung purnama akan kembali mengecil hingga serupa garis. Saat itu kau harus berjalan sendiri. dan kawanmu bukanlah purnama tapi gelap."

Kakiku mulai melangkah mundur perlahan, ups... Aku tak bisa..
Aku tak bisa melangkah mundur, tapi aku bisa menoleh ke belakang, dan tidak melihat apapun yang menghalangi langkahku..

Aku tak bisa mundur...

"Jangan mundur, kau telah memulainya maka teruskan.. Kau boleh menoleh sesekali, untuk memastikan langkah di depanmu, tapi teruslah berjalan." Suara bayangan itu mengagetkanku. Menjawab hujan pertanyaan dalam kepalaku.

Aku menatap bayangan itu. Di matanya aku menemukan kejujuran. Ia mengatakannya dengan tegas, tidak ada ragu sedikitpun dalam setiap kata-katanya. Aku yang meragu dalam langkahku.

"Kawan, teruslah berjalan. Purnama ini masih bersinar untuk membantu langkahmu, teruslah berjalan dan yakinkan langkahmu."

Kali ini, aku membiarkan suara dari bayangan itu mempengaruhi kerja otakku, dan memerintahkan kakiku melangkah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar