Kamis, 07 Oktober 2010

RUMAH KEDUA

Goodbyes are not forever. Goodbyes are not the end. They simply mean I'll miss you Until we meet again! *Unknown*

Pindahan selalu menyisakan hal tidak mengenakkan. Bukan hanya dari tenaga yang terkuras, tapi juga emosi yang menyertainya. Dan acara pindahan kali ini penuh dengan aneka perasaan, persis kayak permen nano-nano, tapi tidak seindah aneka warna pelangi.

18 bulan tinggal di rumah itu rasanya sangat berbekas. Perasaan nyaman selama tinggal di rumah itu membuatku semakin malas untuk mengepak barang-barang. Beberapa kali jadwal packing pun tidak dikerjakan dengan baik. Perasaan enggan beranjak mengikat demikian kuat. Rasanya kalau packing mulai dikerjakan, maka waktuku di rumah itu semakin dekat.

Apa istimewanya rumah itu? Tidak ada, sama seperti rumah-rumah lainnya. Rumah dua lantai dengan 12 kamar. Dan di kamar berukuran sekitar 4m x 6m itu aku menghabiskan sebagian besar waktuku selama sekitar 18 bulan terakhir. Kamar yang tidak cukup besar dan masih dijejali dengan tumpukan buku yang berserakan bahkan hingga ke kolong tempat tidur. Jumlah baju dan buku yang ada di kamar itu pun tidak sebanding. Di salah satu sudut kamar ada kamar mandi, yang digunakan berdua dengan tetangga kamar. Urusan kamar mandi inipun seringkali menimbulkan masalah tersendiri, terutama berkaitan dengan kunci pintu. Pasalnya, tetangga kamar seringkali lupa membuka kunci pintu kamar mandi yang menjadi penghubung ke kamar lainnya. Masalah lain berkaitan dengan kunci pintu adalah, jika salah seorang dari kami terlupa meninggalkan kunci di dalam kamar. Kehebohan mencari kunci cadangan akan menjadi keramaian tersendiri.



Di rumah itu hanya ada 12 kamar, dan seringkali tidak full 12 orang yang menghuninya. Dilengkapi dengan satu dapur tempat kami biasa menghangatkan berbagai makanan, sekedar membuat masakan instant, atau mencoba berkreasi berbagai resep dengan menyisakan dapur yang berantakan. Lalu ada tv kecil di ruang tengah tempat kami biasa berkumpul. TV yang sering menghebohkan karena kami harus berusaha keras agar antenna terpasang dengan baik sehingga kami dapat menangkap siaran TV dengan baik pula.

Ada meja makan yang fungsinya untuk menaruh segala perlengkapan makanan, bukan untuk makan bersama. Kami lebih suka duduk di atas karpet di depan TV di ruang tengah untuk makan bersama. Sementara meja makan dipenuhi berbagai stok makanan. Di dinding diatas meja makan ditempel tulisan besar “selesai makan langsung cuci yah piring-sendoknya”. Di atas lemari es, ada aquarium berisi dua kura-kura peliharaan kami, namanya Tamama dan Taruru. Kami sering bergiliran memandikan Tamaru (singkatan dari Tamama-Taruru). Memandikan dan membersihkan aquariumnya. Memberi makan Tamaru dengan makanan ikan, padahal kalau terpaksa Tamaru juga mau makan “egg drops” hehehe..


Lemari es selalu dipenuhi dengan stok makanan. Seringkali si pemilik bahkan lupa kalau menyimpan makanan. Sampai lemari es tidak lagi muat menampung stok makanan kami, maka akan dilakukan pembersihan besar-besaran, dan berbagai stok makanan “terlupakan” akan segera dimusnahkan.

Karpet di ruang tengah tempat kami biasa berkumpul, makan bersama, ngobrol, curhat, atau menunggu antrian menyetrika. Tempat lain untuk kami berkumpul adalah musholla kecil di bagian tengah rumah. Tempat kami biasa shalat jamaah, mengaji, ngobrol santai sampai curhat serius. Kamar-kamar kami pun biasa dipakai bergiliran untuk beberapa hal. Kamar Nid biasa digunakan untuk karaoke ria, sampai suara centil dan cempreng kami terdengar tetangga. Kamar Pit suka digunakan untuk curhat dadakan. Kamar Dhikung suka mendadak diinvasi untuk fitting baju dan make up. Kamarku sering dijajah untuk mengobrak-abrik buku apa yang bisa dijarah, terutama oleh Dhikung. Kamar Hay ?! relatif aman, karena selalu dilindungi dengan alasan, “kamar gw berantakan, jangan ah.”

Ah.. terlalu banyak kenangan di rumah itu. Berbagi dan saling mengingatkan, seperti layaknya saudara. Panggilan nyaring untuk shalat jamaah, lalu saling berebutan tempat shalat di pinggir, menghindari kemungkinan menjadi imam. Kehebohan memilih imam selalu diwarnai dengan hitung-hitungan, “imam itu yang paling tua,” atau “gw udah imam tadi ashar, magrib gantian ah,” atau “kan gw udah imam kemarin, lo belum tauk,” dan beragam alasan lainnya sampai ada yang mengalah, “yaudah deh… cepetan ah, tapi tar gantian yah.” Keinginan menjadi manusia yang lebih baik mengantarkan kami pada sebuah kesepakatan untuk membuat pengajian kecil. Dibuatlah jadwal sederhana tentang giliran siapa yang akan menjadi penanggung jawab pengajian setiap minggunya hingga siapa yang mendapatkan giliran untuk sharing. Sesi pengajian seringkali juga diakhiri dengan sesi curhat.

Saling mengingatkan bukan hanya untuk ibadah. Tetapi juga mengingatkan untuk mencuci piring-sendok-gelas bekas makan langsung dan tidak menumpuknya di tempat cuci piring. Maklum, kami tidak memiliki asisten rumah tangga. Kami seringkali lupa mencuci perlengkapan bekas makan, hingga yang lain akan mengingatkan dengan teriakan nyaring dari ruang tengah, “siapa yang habis makan nih, cuci yah.” Atau teguran Karena sering lupa mencuci perlengkapan bekas memasak.

Berbagai masalah keseharian kami menjadi pembicaraan ringan hingga serius. Siapa dosen yang galak, siapa sedang suka dengan siapa, siapa yang sedang didekati cowok, masalah dengan pacar, mendengarkan teman menangis karena baru putus dengan pacarnya, masalah BEM, masalah keluarga, atau sekedar kesulitan tugas kuliah. Rasanya semua hal bisa menjadi bahan pembicaraan kami. Lalu, olok-olok bercanda, bukti perhatian dan rasa sayang kami.

Salah satu hal lucu di rumah itu adalah awalnya kami semua satu angkatan, yaitu angkatan 2008. Hanya saja, aku dan 3 teman lainnya program magister profesi psikologi, sementara 6 orang lainnya adalah mahasiswa program S1 reguler. Lalu, aku dan 3 temanku menjelma menjadi anak tertua di rumah itu.

Penghuni rumah itu bukan hanya kami, tapi juga si pemilik rumah. Kami memanggilnya “Ibu”, ibu kedua kami. Ibu yang selalu sabar dengan wajah lembutnya tidak pernah protes kalau kami telat membayar uang kos. Atau saat kami mengirimkan sms memberi tahu akan terlambat pulang dan meminta agar pintu tidak dikunci lebih dulu, Ibu akan meninggalkan kunci agar kami tetap bisa masuk rumah tanpa memanjat pagar.

Ada Ibu, ada adik-adik, ada rumah tempat kami berkumpul. Rumah kedua itu bernama “Kos Muslimah”. Bukan nama resmi, kami yang memberi nama dengan spontan karena iri rumah kos lain memiliki nama. Nama yang diberikan secara spontan saat mbak-mbak laundry menuliskan nama kami di kertas pesanan dan menanyakan alamat kos. Nama spontan yang diberikan saat mas-mas aqua bertanya alamat pengiriman gallon aqua. Nama spontan yang diberikan saat pesan indomie atau roti bakar di warung depan dan mas/mbak pelayannya bertanya akan diantarkan kemana.

Di rumah kedua itu, aku mendapatkan keluarga kedua. Ibu, Adik, Sahabat, Keluarga, semua lengkap satu paket dalam rumah itu. Dan tumpukan kardus berisi penuh barang-barang mengingatkanku kalau rumah kedua itu, kamar itu akan mendapatkan banyak penghuni baru. Berat rasanya untuk meninggalkan rumah itu. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa ternyata waktu 18 bulan cukup untuk membuat ikatan diantara kami, layaknya saudara. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku, bahwa ternyata melangkahkan kaki keluar dari rumah itu rasanya akan demikian berat.

Teman, hidup tidak berhenti dengan kita keluar dari rumah kedua itu. Hidup baru akan segera dimulai. Rumah kedua kita telah menempa agar kita menjadi manusia yang peka, peduli pada sesama, mau berbagi dan insya Allah kita akan terus bersama dalam persaudaraan yang indah.

“Some people come into our lives and quickly go. Some stay for awhile and leave footprints on our hearts. And we are never, ever the same.”


Rumah kedua itu dan kalian telah meninggalkan jejak yang terlalu jelas, hingga aku kini, tidak lagi sama seperti aku, 18 bulan lalu, dan aku bersyukur untuk jejak-jejak yang telah kalian tinggalkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar