Kamis, 07 Oktober 2010

Sang Pencerah, Hidangan yang Lengkap

Ilir-ilir, ilir-ilir tandure wis sumilir

tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar

cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi

lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot-iro

Dodot-iro, dodot-iro kumitir bedah ing pinggir

dondomono, jlumatono kanggo sebo mengko sore

Mumpung padhang rembulane

mumpung jembar kalangane

Alunan merdu tembang Lir Ilir karya Sunan Kalijaga tersebut terasa begitu memikat. Aransemen ulangnya menjadikan alunan tembang jawa ini lebih bersemangat. Dan saya tidak bisa untuk tidak ikut bersenandung mendengarnya. Belakangan saya baru tahu makna dibalik tembang jawa yang sering dinyanyikan saat meninabobokan saya, berpuluh tahun lalu. Kira-kira artinya seperti dibawah ini:

Ilir-ilir, ilir-ilir tandure wis sumilir

tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar

Hamparan tanaman padi di sawah yang menghijau, dihiasi oleh tiupanangin yang menggoyangkannya dengan lembut. Tingkat ke-muda-an itu bisa disamakan juga dengan pengantin baru. Penggambaran tentang usia muda yang penuh harapan, penuh potensi, dan siap untuk bekerja & berkarya.

cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi

lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot-iro

Buah belimbing yang berbentuk seperti bintang, bersisi lima, melambangkan rukun Islam dengan lima perkara; dan sari-pati buah itu berguna untuk membersihkan perilaku dan sikap mental kita. Ini harus kita upayakan betapapun licinnya pohon itu, betapapun sulitnya hambatan yang kita hadapi.

Anak gembala (cah angon) dapat diartikan sebagai anak remaja yang masih polos dan masih dalam tahap awal dari perkembangan spiritualnya. Konotasi inilah yang sering muncul seketika bila orang Jawa menyebut 'bocah angon'. Namun pengertiannya dapat pula ditingkatkan menjadi pemimpin, baik pemimpin keluarga, tokoh masyarakat, ataupun pemimpin formal dalam berbagai tingkatan dari ketua RT sampai pimpinan negara.

Dodot-iro, dodot-iro kumitir bedah ing pinggir

dondomono, jlumatono kanggo sebo mengko sore

Pakaianmu berkibar tertiup angin, robek-robek di pinggirnya. Jahitlah dan rapikan agar pantas dikenakan untuk "menghadap" nanti sore. "Sebo" adalah istilah yang dipergunakan untuk perbuatan 'sowan' atau menghadap raja atau pembesar lain di lingkungan kerajaan. Makna pakaian adalah perilaku atau sikap mental kita. Menghadap bermakna menghadap Allah. Nanti sore melambangkan waktu senja dalam kehidupan, menjelang kematian kita.

Mumpung padhang rembulane

mumpung jembar kalangane

Manfaatkan terang cahaya yang ada, jangan tunggu sampai kegelapan tiba. Manfaatkan keluasan kesempatan yang ada, jangan menunggu sampai waktunya menjadi sempit bagi kita.

Makna tembang lir Ilir ini tampaknya sejalan dengan judul yang diberikan oleh Hanung Bramantyo dalam filmnya “SANG PENCERAH”. Saya memaknainya dengan mencerahkan, memberikan setitik sinar, meluruskan, memperbaiki. Dan semangat itulah yang diusung dalam film ini.

Lagu Lir Ilir tadi mengiringi cerita yang ditampilkan mengenai kehidupan Muhammad Darwis, yang kemudian kita kenal dengan nama KH. Ahmad Dahlan. Cerita berkisar pada perjuangan beliau dalam syiar Islam hingga lahirnya organisasi Muhammadiyah. Film ini bertutur dengan sederhana tentang kisah seorang anak manusia, semangatnya untuk berbuat yang terbaik bagi orang-orang disekitarnya.

Kisahnya akan menampar kesadaran kita, bahwa pemahaman agama bukan hanya dengan akal, tapi juga dengan hati. Pemahaman dengan akal semata, hanya akan menyesatkan. Dan inilah yang membuat sebagian besar dari kita tergelincir. Sebuah pertanyaan mendasar tentang apa itu agama, terasa sangat menusuk. Dan jawabannya bisa diberikan dengan cara sederhana yang jarang dipikirkan banyak orang. Karena agama itu indah, damai, menenangkan, mengayomi. Agama harus dipelajari dengan baik, melibatkan akal dan hati. Jika tidak, maka pemahaman yang salah didapat, dan kekacauan hasilnya. Agama bukanlah rangkaian aturan ataupun ritual yang harus disederhanakan ataupun dipersulit.

Kesetaraan, keikhlasan menerima kritik, dan kemauan untuk maju menjadi nilai lain yang ditonjolkan. Kita tidak tahu dengan tepat apakah yang kita lakukan benar, karena kalau kita tahu kebenarannya dengan pasti, maka kita tidak akan pernah belajar. Lalu, kenapa harus takut untuk mencoba? Tidakkah manusia berkewajiban untuk melakukan usaha atau ikhtiar? Lalu, pasrahkan semuanya pada Allah, karena Dia yang Maha Tahu, Sang Penulis Skenario Kehidupan, Penyusun Rencana Maha Agung. Dan sejatinya, kebenaran itu berasal dariNya.

Sang Pencerah adalah sebuah cerita sejarah yang apa adanya, tidak ditambahi bumbu drama ataupun memaksakan komedi. Film ini tentu tidaklah sempurna, ada satu-dua hal yang sedikit mengganggu, tapi secara keseluruhan film ini tampil dengan sangat apik. Di mata saya yang awam, semua unsur teknis terasa sempurna. Artistik yang baik, setting yang baik, make up yang sesuai, lighting yang baik, semuanya terasa lengkap. Hanung seperti manyajikan sebuah hidangan yang lengkap pada filmnya, hidangan pembuka, hidangan utama, lalu hidangan penutup. Tidak lupa ada minuman juga, agar penonton tidak kehausan. Dan saya, pulang dengan kekenyangan, karena saya mendapatkan pencerahan, makanan untuk jiwa dari “sang pencerah”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar