Minggu, 10 Oktober 2010

There is a reason for everything

I do believe that there is a reason for everything. For events or people that we met in life.

Pernahkah anda bertanya-tanya mengapa suatu peristiwa atau kejadian harus kita alami? Atau mungkin, pernahkah anda berandai-andai, “seandainya saya tidak bertemu dia saat itu, entah apa yang akan saya lakukan.” Saya sering melakukannya. Dan saya rasa, kita semua sering melakukannya. Mempertanyakan alasan atas apa yang kita alami, kita temui atau bahkan kita rasakan. WHY, is one of the biggest question. WHY ditanyakan karena kita ingin mendapatkan jawaban, alasan atau dasar atas suatu kejadian. Apakah salah? Tidak juga. Tidak ada yang mutlak salah ataupun benar, tergantung pada apa yang akan kita lakukan kemudian setelah mengajukan pertanyaan tersebut. Apakah kita hanya akan mempertanyakan, kemudian menyalahkan diri sendiri atau lebih buruk lagi menuding orang lain atas apa yang terjadi. Atau sebaliknya, setelah pertanyaan WHY, kita mengubahnya menjadi HOW. How to make it better? How to get the solution? Kita sendiri yang akan menentukan, apa yang akan kita lakukan setelah WHY tersebut terjawab.

Selama perjalanan hidup saya hingga detik ini, ada banyak kejadian yang saya alami ataupun orang-orang yang saya temui, kemudian saya pertanyakan, “why did he/she comes into my life?” atau “why it happened to me?” dan banyak why lainnya. Dari banyak kejadian dan orang-orang tersebut, saya akan menceritakan sebagiannya.

Saya biasa memanggilnya Pak Heri, dan saya tidak pernah tahu nama lengkapnya. Usianya sekitar 55 tahun. Pekerjaannya sehari-hari adalah timer bus Deborah. Bagi anda yang belum tahu, tugas timer adalah mencatat jadwal setiap bus yang lewat, menjaga jarak antar bus, berapa jumlah penumpangnya saat itu (kaitannya dengan jumlah uang setoran). Saya tidak ingat lagi kapan pertama kali kenal dengan Pak Heri, yang jelas sejak saya masih kuliah sekitar tahun 2004 saat bus Deborah trayek Depok-Kalideres mulai dibuka. Dengan dibukanya trayek ini tentu semakin memudahkan saya setiap kali berangkat ke Depok ataupun pulang ke rumah, karena rute bus ini adalah Depok-TB Simatupang-Pondok Indah-Arteri Permata Hijau-Kebon Jeruk-Kedoya-Daan Mogot-Cengkareng-Kalideres. Yippie… rute rumah saya terlewati. Sayangnya, jumlah bus ini tidak terlalu banyak, setiap harinya hanya beroperasi sekitar 7-10 bus saja.

PO Deborah, perusahaan bus ini menempatkan beberapa timer di sejumlah titik. Pak Heri adalah salah satunya, dengan kantornya adalah halte wisma Indovision. Rutin menggunakan bus ini, menunggu di tempat yang sama, membuat kami menjadi sering mengobrol. Dari cerita-ceritanya saya tahu kalau bapak 3 anak ini kehilangan istrinya akibat kanker, pada 2006 lalu. Ketiga anaknya sudah menikah dan bekerja. Si bungsu masih tinggal dengannya, dengan cucu laki-lakinya. Setiap kali saya menunggu bus, pak Heri hadir dengan cerita kesehariannya. Cucu kecilnya yang merusak tanaman-tanaman di depan rumah, anaknya yang berpindah-pindah pekerjaan, kesedihan dia saat istrinya kembali hadir dalam mimpi, atau bahkan rencana kenaikan uang setoran, sopir-sopir baru yang belum hafal rute, hingga pengurangan jumlah armada bus.

Tidak main-main, sudah lebih dari 15 tahun Pak Heri menjalani profesinya saat ini. Penampilannya sederhana, dengan seragam kantor berwarna coklat, dia selalu tersenyum menunjukkan sebagian gigi-giginya yang tanggal setiap kali saya datang. Lalu, dia mulai berceloteh menceritakan apa saja sambil menemani saya di halte hingga bus Deborah yang saya tunggu datang. Kalau hari sangat panas dan berdebu, dia akan mengajak saya berteduh di gubuk kecil di belakang halte tempat penjual tanaman hias. Saya tidak perlu khawat ketinggalan bus, karena setiap bus pasti akan berhenti untuk lapor pada Pak Heri.

Kadangkala, dia mengirimkan pesan singkat pada saya mengabarkan kondisi bus saat itu, “Ayu, hari ini ke depok? Bus nya cuma 6 yang jalan, jaraknya jauh-jauh.” Bahkan, setiap kali saya akan bepergian dengan Deborah dari rumah, saya akan mengirimkan sms terlebih dulu atau menelepon, “Pak, mau ke depok nih, masih jauh gak?” Lalu, Pak Heri akan menanyakan posisi saya saat itu dan dimana saya akan menunggu. “Mau tunggu dimana? Di depan apartemen yah, nanti kalau udah ngelewatin saya, dimiskol aja yah.” Begitulah Pak Heri, dia akan menelepon saya untuk mengabarkan bahwa bus baru saja melewatinya, sehingga saya dapat memperkirakan berapa lama lagi bus tersebut akan sampai di tempat saya menunggu.

Pak Heri dekat dengan banyak penumpangnya. Bahkan ada diantara mereka yang saling bertukar tanaman hias dan tanaman obat dengan pak Heri, karena hobinya memang bercocok tanam. “si A kemarin adiknya sakit, aku kasih tanaman Y, udah diambil tuh. Saya punya banyak, kemarin dikasih si Z bibitnya. Kayaknya si Z pindah kerja, kemarin gak bareng-bareng lagi sama si S,” begitulah sebagian ceritanya.

Terkadang Pak Heri menceritakan tentang betapa rukunnya tetangga-tetangganya. “Kemarin rapat RT sekaligus halal bihalal di rumah pak Buyung (Adnan Buyung Nasution / ABN, red), urun rembug pelebaran jalan.” Dengan semangatnya pak Heri menceritakan letak rumahnya pada saya begitu mengetahui bahwa saya pernah liputan ke rumah ABN. Padahal, kalau saya boleh jujur, saya sendiri lupa detail daerahnya. Saya hanya ingat ada di seputaran daerah Lebak Bulus. Sekarang, dia selalu semangat bercerita tentang program TV yang ia saksikan tempat saya bekerja. “Wah bagus tuh yang kemarin, saya nonton tapi ngantuk banget, udah malam,” komentar singkat yang sering saya dengar. Bagaimana dengan hari liburnya? Seingat saya, dia hampir tidak pernah libur. Dia lebih memilih bekerja karena menurut pengakuannya di rumahnya sepi dan ia kebingungan sendiri apa yang akan dia lakukan di rumah.

Setiap kali kami mengobrol, pak Heri sering menasehati saya tentang pekerjaan ataupun hal lainnya. “Mau kuliah sampai S berapa nanti? Cepat luluslah, kerja yang baik, lalu nikah” nasehatnya. Atau beberapa nasehat ringan lain semisal tanaman obat alternatif. Dari Pak Heri, saya melihat kesepian seorang lelaki tua, manakala anak-anaknya sudah beranjak dewasa dan tak lagi didampingi istri. Pak Heri sering menceritakan tentang kebaikan-kebaikan istrinya dan juga betapa ia mencintai istrinya. Saya sering berseloroh, “nikah lagi aja pak,” dan jawaban tegasnya adalah, “Nggak ah, saya trauma, dan saya cinta sekali sama istri saya, menikah yah sekali saja.” Jawaban singkatnya membuat saya langsung diam dan tidak lagi berani mempertanyakan.

Melalui Pak Heri, saya diajarkan untuk mensyukuri setiap pekerjaan yang dimiliki, menjalaninya dengan ikhlas, sungguh-sungguh dan kerja keras. Dari Pak Heri, saya diingatkan tentang cinta ayah pada anak-anaknya. “Anak saya itu kemarin kehabisan pulsa, jadi dia pakai hp saya yang satu lagi, saya pakai yang ini (sambil menunjukkan salah satu hp nya), eh ternayata habis juga pulsanya dipakai main internet sama anak saya, hehehe.” Cerita-cerita itu mengalir begitu saja dengan ringan dari pak Heri. Mungkin itulah alasan mengapa Tuhan mempertemukan saya dengan Pak Heri, agar saya tidak hanya duduk diam menghitung jumlah kendaraan yang lewat setiap kali menunggu bus. Tuhan mengirimkan teman bicara yang begitu baik dan mengajarkan banyak hal.

Pak Heri hanya satu dari banyak orang yang saya temui di hidup saya. Ada yang saya temui dalam waktu lama dan ada juga yang hanya sebentar, tapi meninggalkan bekas.

Suatu pagi, salah seorang teman kos saya, Ninid baru datang dari Bandung. Kali ini Ninid datang tidak sendiri. Seorang ibu berusia sekitar 50 tahun mengikuti dibelakangnya dengan senyum yang terus terkembang. Ninid mengenalkannya pada kami semua di kos, yang sedang tergesa akan berangkat ke kampus.

Kami mengenalnya dengan panggilan Bu Tri, salah seorang dosen psikologi di Universitas Padjajaran. Ninid mengenalnya secara tidak sengaja di travel dalam perjalanan ke Depok. Setelah mengobrol, ternyata bu Tri akan mengikuti seminar selama dua hari di UI dan belum mendapatkan penginapan. Ninid menawarkan untuk menginap di kos, dengan ijin ibu kos tentunya. Bu Tri kemudian menempati salah satu kamar kosong di kos, dan kami pun saling menyumbang perlengkapan untuk kamar tersebut. Mengantar bu Tri ke kampus menunjukkan lokasi seminar. Malamnya, kami makan malam bersama, dan dengan penuh keberuntungan, kami ditraktir!! Bu Tri mulai bercerita tentang rencananya dalam beberapa bulan kedepan yang akan mengikuti short course di Australia, tentang keluarganya, dan menasehati kami semua tentang pendidikan yang sedang kami jalani.

Hari kedua seminar, bu Tri selesai lebih cepat dan langsung kembali ke Bandung. Beliau tidak dapat berpamitan langsung pada kami. Tapi, betapa terkejutnya kami karena Bu Tri menyisipkan surat untuk masing-masing kami. Untuk saya, bu Tri meletakkannya di atas jemuran lipat depan kamar saya dengan sprei yang dilipat rapi.


Ayu,

Terimakasih banyak pinjaman sprei dan sarung bantal. Perlu di laundry lagi ya, ini ongkosnya, selamat berkarya.

Ibu Tri
Jl. Xyz
0812214XXX





Lalu, ada surat untuk kami semua di kos berisi pesan untuk kami agar terus berjalan tegak dalam menjalani kuliah kami. Menetapkan cita-cita, target, tujuan yang akan kami capai kelak.

Sama seperti Pak Heri, dengan kehadiran singkatnya bu Tri mengajarkan pada kami, saya dan teman-teman kos betapa semangatnya beliau untuk terus menuntut ilmu, mengembangkan diri bahkan sampai usia tuanya. Tanpa mereka sadari, mereka mengajarkan pada kami tentang kemandirian dan semangat. Di usia senjanya, mereka masih terus bersemangat, sedangkan kami kadang terlalu sering mengeluh dengan apa yang kami hadapi. Tuhan mengirimkan mereka dengan caranya masing-masing pada kami, saya dan teman-teman saya untuk kami belajar menjalani hidup dengan lebih baik.

Terimakasih Tuhan, saya mulai menemukan jawabannya, walaupun masih terus bertanya tentang beberapa kejadian lain dan beberapa orang lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar